Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Abdul Haris Semendawai [suara.com/Nikolaus Tolen]
Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban Abdul Haris Semendawai menemui pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, Selasa (10/10/2017), untuk membahas perpanjangan nota kesepahaman terkait perlindungan saksi dan korban.
"Kerjasama LPSK dan KPK meski belum diperpanjang masih jalan terus perlindungan saksi," kata Haris di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan.
Nota kesepahaman antara LPSK dan KPK belum diperpanjang sejak 2015.
Dalam pertemuan tadi, KPK dan LPSK menyepakati perpanjangan nota kesepahaman dan akan terealisasi pada akhir 2017.
Haris menepis anggapan lembaganya dan KPK kurang dapat bekerjasama. Isu tersebut mengemuka setelah pansus hak angket KPK mengundang Haris dalam rapat dengar pendapat umum di DPR.
"Mudah-mudahan sudah bisa selesai. Masing-masing berdasarkan undang-undang ada kewenangan kita ingin dalam perlindungan justice dan saksi kita berusaha maksimal karena ini satu tindak pidana kiranya dari KPK lebih banyak lagi," katanya.
Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan mengapresiasi tercapainya MoU dengan LPSK.
"MoU itu teknis di lapangan supaya kita kalau ada mendadak ini harus dilindungi. Tanpa MoU semua sudah diatur undang-undang otomatis kita laksanakan," kata Basaria.
Sebelumnya, juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan KPK berhak memberikan perlindungan terhadap saksi ataupun korban terkait tindak pidana korupsi. Aturan tersebut tercantum pada undang-undang KPK Pasal 15 a Tahun 2002.
Pasal tersebut berisi: memberikan perlindungan terhadap saksi atau pelaporan yang menyampaikan laporan ataupun memberikan keterangan mengenai terjadinya tindak pidana korupsi.
Sementara peraturan perlindungan saksi dan korban oleh LPSK diatur pada undang-undang LPSK Tahun 2006. Bersamaan dengan diaturnya keberadaan LPSK.
Febri mengatakan aturan tersebut bukan meniadakan fungsi instansi satu sama lainnya.
"Kewenangan LPSK dan KPK tersebut tidak saling meniadakan. Bahkan Pasal 44 undang-undang LPSK mengatur aturan lain tentang perlindungan saksi dan korban masih tetap berlaku," kata Febri.
"Kerjasama LPSK dan KPK meski belum diperpanjang masih jalan terus perlindungan saksi," kata Haris di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan.
Nota kesepahaman antara LPSK dan KPK belum diperpanjang sejak 2015.
Dalam pertemuan tadi, KPK dan LPSK menyepakati perpanjangan nota kesepahaman dan akan terealisasi pada akhir 2017.
Haris menepis anggapan lembaganya dan KPK kurang dapat bekerjasama. Isu tersebut mengemuka setelah pansus hak angket KPK mengundang Haris dalam rapat dengar pendapat umum di DPR.
"Mudah-mudahan sudah bisa selesai. Masing-masing berdasarkan undang-undang ada kewenangan kita ingin dalam perlindungan justice dan saksi kita berusaha maksimal karena ini satu tindak pidana kiranya dari KPK lebih banyak lagi," katanya.
Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan mengapresiasi tercapainya MoU dengan LPSK.
"MoU itu teknis di lapangan supaya kita kalau ada mendadak ini harus dilindungi. Tanpa MoU semua sudah diatur undang-undang otomatis kita laksanakan," kata Basaria.
Sebelumnya, juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan KPK berhak memberikan perlindungan terhadap saksi ataupun korban terkait tindak pidana korupsi. Aturan tersebut tercantum pada undang-undang KPK Pasal 15 a Tahun 2002.
Pasal tersebut berisi: memberikan perlindungan terhadap saksi atau pelaporan yang menyampaikan laporan ataupun memberikan keterangan mengenai terjadinya tindak pidana korupsi.
Sementara peraturan perlindungan saksi dan korban oleh LPSK diatur pada undang-undang LPSK Tahun 2006. Bersamaan dengan diaturnya keberadaan LPSK.
Febri mengatakan aturan tersebut bukan meniadakan fungsi instansi satu sama lainnya.
"Kewenangan LPSK dan KPK tersebut tidak saling meniadakan. Bahkan Pasal 44 undang-undang LPSK mengatur aturan lain tentang perlindungan saksi dan korban masih tetap berlaku," kata Febri.
Komentar
Berita Terkait
-
Mobil Jadi Instrumen Suap, KPK Sita Kendaraan Roda Empat dalam OTT di Kuansing
-
Amankan 10 Orang dalam OTT, KPK Minta Bupati dan Sekda Kuansing Serahkan Diri
-
Korupsi Haji Meluas! Dito Ariotedjo Diperiksa Terkait Sprindik Baru Tersangka Pihak Swasta
-
Gus Yaqut Jalani Tindakan Medis di RS Polri, KPK Berharap Segera Kembali Hadapi Proses Hukum
-
Hakim Sebut Pengadaan Chromebook Nadiem Demi Keuntungan Google
Terpopuler
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
Pilihan
-
Hakim Andi Sebut Nadiem Makarim Seharusnya Dibebaskan
-
Selain 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Wajib Bayar Uang Pengganti Rp809,59 Miliar
-
Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara!
-
Jangan Puji Pemerintah karena Kerja: Mengapa Publik Begitu Mudah Terpesona?
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
Terkini
-
Menekraf Teuku Riefky Harsya Dukung Jatim Media Summit 2026: Bangun Ekosistem Bersama
-
Mobil Jadi Instrumen Suap, KPK Sita Kendaraan Roda Empat dalam OTT di Kuansing
-
Jokowi Tiba di Jakarta, Bakal Hadiri HUT Bhayangkara Besok
-
Balita Tewas di Lubang Galian Manggarai, DPRD DKI Minta Seluruh Proyek Pemprov Diaudit
-
'Surat Imbauan Ada, Area Sudah Steril', Kata Lurah Soal Galian Maut Manggarai
-
Menlu Sugiono Terima Menlu Maxim, Bahas Pesiapan Kunjungan Presiden Republik Belarus ke Indonesia
-
Ironi Galian Maut Manggarai: Proyek Cegah Tawuran, Tapi Renggut Nyawa Anak
-
Aktivis 98 Kritik Manajemen Politik Prabowo: Lamban, Bikin Rumit Situasi
-
Dudung Takziah ke Rumah Peserta SPPI yang Meninggal, Pastikan Pelatihan Fisik Dihapus!
-
Amankan 10 Orang dalam OTT, KPK Minta Bupati dan Sekda Kuansing Serahkan Diri