Suara.com - Berkesempatan hadir dalam KTT One Planet di Paris, Menkeu Sri Mulyani berbicara dalam dua sesi sidang, yaitu pada pertemuan "Making Climate Finance Work for Women" pada 11 Desember 2017 dan pada Panel 2 KTT yang mengangkat tema "Greening Finance for Sustainable Business". Sebagaimana disampaikan pihak KBRI Paris, di ajang itu Menkeu didampingi delegasi dari Kemenkeu dan Direktorat PELH Kementerian Luar Negeri RI.
Dalam pembicaraannya, Sri Mulyani menyampaikan bahwa sebagai negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, Indonesia berupaya mengintegrasikan pengembangan kebijakan mitigasi dan adaptasi yang gender responsive. Terkait hal tersebut, Indonesia menurutnya telah melakukan strategi budget tagging program-program pengendalian perubahan iklim dan gender responsive budget.
Dikatakan Menkeu, strategi ini dimanfaatkan juga untuk meningkatkan pembangunan kapasitas pemerintah daerah untuk pembiayaan aksi pengendalian perubahan iklim dan gender responsive program. Sementara di bagian lain, Menkeu juga menyoroti faktor data collection, yang menurutnya sangat penting dalam penanggulangan kesenjangan akses yang dihadapi perempuan terkait penanggulangan perubahan iklim.
Sementara itu, Menteri Urusan Eropa dan Luar Negeri Perancis, Jean-Yves le Drian selaku tuan rumah, menyampaikan nilai penting akses bagi perempuan pada pembiayaan penanggulangan perubahan iklim. Menurutnya, berbagai program awareness harus dimajukan untuk mengedepankan peran perempuan. Di pihak lain, Executive Secretary UNFCCC, Patricia Espinosa, juga menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan adalah kunci dari keberhasilan implementasi pembangunan berkelanjutan serta upaya pengendalian perubahan iklim.
Dalam paparan dijelaskan, pemberdayaan perempuan dapat berdampak pada SDG pengentasan kemiskinan, pengurangan kelaparan dan gizi buruk, inovasi dan pengembangan infrastruktur, serta pengendalian perubahan iklim. Setiap pembiayaan program pengendalian perubahan iklim dipandang perlu menggunakan pendekatan gender responsive, serta melibatkan aktor pemerintah dan non-pemerintah.
Pertemuan ini sendiri juga turut menghadirkan beberapa pihak lain sebagai pembicara, antara lain wakil dari UN Women, Bank Dunia, Green Climate Fund (GCF), serta pemerintah Marshall Islands dan Kamerun.
Selanjutnya dalam Panel 2 KTT One Planet, Sri Mulyani pun menegaskan bahwa komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca tetap tidak berubah, yaitu 29% dengan upaya sendiri dan 41% dengan dukungan dari komunitas internasional. Upaya penurunan emisi ini dilakukan dengan kemitraan pemerintah dan sektor swasta.
Di sisi lain menurutnya, pemerintah perlu menguatkan perannya dalam policy and institutional making, untuk memberikan insentif atau disinsentif kepada swasta, agar semakin banyak pengusaha yang tertarik untuk berinvestasi dalam bisnis yang sustainable dan mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan.
Pada hari sebelumnya, Menteri ESDM Ignasius Jonan berkesempatan menyaksikan penandatanganan kesepakatan energi terbarukan antara PLN dengan tiga perusahaan energi Prancis, yaitu Akuo Energy, Equis Energy dan Pace Energy. Kesepakatan ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mendorong peningkatan bauran energi terbarukan di Indonesia dalam mencapai target 23 persen pada 2025 dan berkontribusi pada aksi perubahan iklim.
KTT One Planet atau One Planet Summit sendiri berlangsung di Kota Paris, Prancis, pada 12 Desember 2017 ini. Pertemuan akbar ini digagas oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk memperingati dua tahun kesepakatan Paris Agreement, serta bertujuan untuk mencapai inisiatif bersama terkait pendanaan, kebijakan dan program terkait pengendalian perubahan iklim.
Selain Pemerintah Prancis, KTT One Planet ini didukung pula oleh Bank Dunia. Turut hadir beberapa pemimpin dunia, seperti Presiden Enrique Pena Nieto (Meksiko), PM Voreqe Bainimarama (Fiji), Patricia Espinosa (Executive Secretary pada United Nations Framework Convention on Climate Change/UNFCCC), Menlu Taro Kono (Jepang), serta para tokoh dan selebriti pemerhati isu-isu lingkungan, di antaranya Bill Gates, Michael Bloomberg, Elon Musk, serta Arnold Schwarzenegger.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Murah Baterai 7000 mAh, Tahan hingga 2 Hari dengan Performa Kencang
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Bukan Hanya Populer, Seskab Teddy Salip Sejumlah Menteri Senior dalam Urusan Kinerja
-
Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet
-
Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah
-
Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik
-
IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung
-
5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau
-
Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026
-
Kredit Macet Hantui Industri Pinjol
-
Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru
-
Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung