Suara.com - Presiden Turki, Tayyip Erdogan, menyebut Presiden Suriah, Bashar al-Assad, teroris. Dia mengatakan bahwa upaya perdamaian Suriah tidak mungkin berlanjut di tangan Assad.
Menteri luar negeri Suriah langsung balik melancarkan tuduhan bahwa Erdogan sendiri menyokong kelompok teroris yang memerangi Assad dalam perang saudara Suriah.
Turki telah menuntut agar Assad dicopot dari kekuasaan serta mendukung para pemberontak yang berupaya menggulingkannya. Namun, sikap negara itu melunak sejak bekerja sama dengan sekutu-sekutu Assad, yaitu Rusia dan Iran, untuk mencari penyelesaian politik.
"Assad jelas adalah seorang teroris yang telah melancarkan terorisme negara," kata Erdogan dalam jumpa pers bersama mitranya dari Tunisia, Beji Caid Essebsi, di Tunis.
"Tidak mungkin melanjutkan (upaya) bersama Assad. Bagaimana kita bisa merangkul masa depan dengan seorang presiden Suriah yang telah telah membunuh hampir satu juta warganya?" kata Erdogan.
Kendati telah sekian lama menuntut agar Assad dicopot, Turki saat ini memusatkan perhatian soal Suriah pada ancaman dari para gerilyawan Islamis dan petempur Kurdi, yang dianggapnya sebagai sekutu Partai Buruh Kurdistan (PKK) dan telah membentuk "koridor teror" di wilayah perbatasan bagian selatan.
Turki mengatakan milisi YPG Kurdi Suriah, yang dianggap Ankara sebagai perpanjangan PKK yang terlarang, tidak bisa diundang ke perundingan perdamaian Suriah di ibu kota Kazakhstan, Astana.
PKK telah melancarkan pemberonakan di Turki tenggara sejak 1980-an.
YPG merupakan usur utama dalam pasukan, yang didukung Washington berupa pelatihan, persenjataan, bantuan kekuatan udara, serta bantuan dari para penasihat di medan tempur untuk melawan ISIS. Dukungan AS itu telah membuat marah Ankara, yang merupakan sekutu Washington di forum Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Baca Juga: Dituding Pernah Jarah Madinah, Presiden Erdogan Berang
Kendati memiliki sejumlah perbedaan dengan Rusia dan Iran, Turki telah bekerja sama dengan dua negara kuat itu dalam mencari penyelesaian politik di Suriah.
Ankara, Moskow dan Teheran juga telah menjalankan peran sebagai perantara kesepakatan untuk membentuk dan memantau "zona penurunan ketegangan" guna menurunkan pertempuran antara para gerilyawan dan pasukan pemerintah Suriah di provinsi Idlib, Suriah barat laut, yang dikuasai pemberontak.
"Kita tidak bisa mengatakan bahwa (Assad) akan bisa menangani ini. Turki tidak mungkin menerima (keadaan) ini. Suriah utara telah diserahkan menjadi koridor teror. Tidak ada perdamaian di Suriah dan perdamaian ini tidak akan terwujud di tangan Assad," kata Erdogan. [Antara]
Berita Terkait
-
Turki Desak Krisis Qatar Diakhiri Biar Tak Merusak Kesatuan Islam
-
Erdogan Serukan Pencabutan Sanksi Ekonomi pada Sudan
-
Ditahan Usai Demo di Al Aqsa, Israel Deportasi Dua Warga Turki
-
Bahrun Naim, Gembong ISIS asal Indonesia Disebut Tewas di Suriah
-
Anak-Anak Suriah Lolos dari Maut Setelah Bermain dengan Bom
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Biodata dan Agama DJ Patricia Schuldtz yang Resmi Jadi Menantu Tommy Soeharto
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
- 5 Sepatu Jalan Lokal Terbaik Buat Si Kaki Lebar Usia 45 Tahun, Berjalan Nyaman Tanpa Nyeri
- DPUPKP Catat 47 Hektare Kawasan Kumuh di Kota Jogja, Mayoritas di Bantaran Sungai
Pilihan
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
-
Mengapa Purbaya Tidak Pernah Kritik Program MBG?
-
Kuburan atau Tambang Emas? Menyingkap Fenomena Saham Gocap di Bursa Indonesia
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
Terkini
-
Pascabanjir Sumatra, Penanganan Beralih ke Pemulihan Layanan Kesehatan dan Kebutuhan Dasar
-
Indonesia Tancap Gas Jadi Pusat Halal Dunia lewat D-8 Halal Expo Indonesia 2026
-
Literasi Halal Dinilai Masih Lemah, LPPOM Siapkan Pelajar Jadi Agen Perubahan
-
Jepang Studi Banding Program MBG di Indonesia
-
Kasus Korupsi LPEI Berkembang, Kejati DKI Tetapkan 4 Tersangka Baru dan Sita Aset Rp566 Miliar
-
Merasa Tak Dihargai, Anggota DPR Semprot Menteri KKP: Kami Seperti 'Kucing Kurap'
-
Korban Bencana Boleh Manfaatkan Kayu Hanyut, Kemenhut Juga Stop Penebangan Hutan
-
Politisi PDIP Ingatkan Prabowo: Jangan Buru-buru Bangun IKN, Siapkan Dulu Ekosistemnya
-
Bukan Sekadar Banjir: Auriga Desak KLHK dan KPK Usut Dugaan Korupsi di Balik Perusakan Lahan PT TPL
-
BNI Bersihkan Masjid Darul Aman Pascabanjir di Agam