Suara.com - Saat mengikuti upacara kenegaraan di Prime Minister’s House di Islamabad, Pakistan, Sabtu (27/1/2018), Presiden Joko Widodo sempat menyaksikan atraksi pesawat tempur JF-17.
Ketika Presiden dan Ibu Negara Iriana Joko WIdodo tiba di Pangkalan Udara Nur Khan, Islamabad, Pakistan, untuk melanjutkan penerbangan ke Bangladesh, ternyata pesawat tempur JF-17 tersebut sudah berada tidak jauh dari Pesawat Kepresidenan Indonesia-1.
Presiden pun menaiki kokpit pesawat tersebut dan memperhatikan panel-panel yang ada di pesawat tempur itu.
JF-17 Thunder adalah pesawat tempur ringan mesin tunggal. Pesawat multi peran ini dikembangkan bersama oleh industri kedirgantaraan Pakistan dan Tiongkok.
Tiba di Bangladesh Setelah Kunjungan Kenegaraan di Pakistan
Setelah menjalani penerbangan selama 2 jam 40 menit, Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo tiba di Bandara Udara Internasional Hazrat Shahjalal, Dhaka, Bangladesh pada pukul 16.20 Waktu Setempat (WS) atau pukul 17.20 WIB dengan menggunakan pesawat Kepresidenan Indonesia-1 pada hari Sabtu (27/1/2018).
Di bandara, Presiden Jokowi dan Ibu Iriana disambut Presiden Bangladesh Abdul Hamid dan Ibu Negara Bangladesh Rasyidah Khanam. Tak berapa lama berselang, Presiden Jokowi dan Presiden Bangladesh menuju Dais Kehormatan untuk mengikuti upacara kenegaraan. Dari bandara, Presiden dan Ibu Iriana melanjutkan perjalanan menuju hotel tempat menginap selama berada di Dhaka.
Petang harinya, Presiden Jokowi menerima kunjungan kehormatan Menteri Luar Negeri Bangladesh Abul Hassan Mahmood Ali di hotel tempat Presiden menginap.
Pertemuan Presiden Jokowi dengan Presiden Bangladesh Abdul Hamid akan dilaksanakan di Credential Hall, Bangabhan Presidential Palace pada malam harinya dan diakhiri dengan jamuan santap malam bersama.
Baca Juga: Jokowi Ajak Pakistan Bantu Perjuangan Rakyat Palestina
Turut mendampingi Presiden dan Ibu Iriana dalam penerbangan menuju Bangladesh, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki.
Tag
Berita Terkait
-
Indonesia-Pakistan Targetkan Negosiasi CEPA, Dari Minyak Sawit hingga Tenaga Medis
-
Aksi Ekstrem Pasutri Pakistan di Soetta: Sembunyikan 1,6 Kg Sabu di Lambung dan Usus
-
Perut Isinya Sekilo Sabu, Aksi Gila Pasutri Pakistan Telan 159 Kapsul Demi Lolos di Bandara Soetta
-
Lawatan ke Islamabad, 6 Jet Tempur Sambut Kedatangan Prabowo di Langit Pakistan
-
Memperkuat Diplomasi Budaya, Indonesian Corner Dibuka di Islamabad
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
Terkini
-
Bus TransJakarta Hantam Tiang PJU di Kolong Tol Tanjung Barat, Satu Penumpang Terluka!
-
El Clasico Legenda Bakal Hadir di GBK, Pramono Anung: Persembahan Spesial 500 Tahun Jakarta
-
Jakarta Dikepung Banjir, Ini 5 Cara Pantau Kondisi Jalan dan Genangan Secara Real-Time
-
Superflu vs Flu Biasa: Perlu Panik atau Cukup Waspada?
-
BNI Pertegas Dukungan Sekolah Rakyat untuk Perluas Pemerataan Pendidikan Nasional
-
Tutup Rakernas I 2026, PDIP Umumkan 21 Rekomendasi Eksternal
-
Banjir Rendam Jakarta, Lebih dari Seribu Warga Terpaksa Mengungsi
-
Hujan Deras Rendam 59 RT di Jakarta, Banjir di Pejaten Timur Capai Satu Meter
-
Arahan Megawati ke Kader PDIP: Kritik Pemerintah Harus Berbasis Data, Bukan Emosi
-
Sikap Politik PDIP: Megawati Deklarasikan Jadi 'Kekuatan Penyeimbang', Bukan Oposisi