"Tak memungkinkan transportasi dengan tenaga manusia. Zaman modern gini kok kembali ke zaman Jepang," tukasnya.
Ia mengatakan salah kaprah kalau ingin memberikan keadilan kepada rakyat kecil melalui cara kembali mengizinkan becak beroperasi.
”Justru itu tidak manusiawi, karena mempekerjakan rakyat kecil dengan mengoperasikan becak. Jangan seenaknya jadi gubernur buat kebijakan kontraproduktif. Kebijakan ngelindur itu," tuturnya.
Becak kali pertama dilarang di Jakarta pada 1989 oleh Gubernur Wiyogo Admodarminto.
Pada 1998, Gubernur Sutiyoso kembali memperbolehkan becak dengan alasan memberi salah satu alternatif pekerjaan kaum miskin pada masa krisis ekonomi.
Sekitar 2001, becak kembali dilarang di Jakarta oleh Sutiyoso. Saat itu, keberadaan becak di Jakarta memang sudah hampir habis.
Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA) Azas Tigor Nainggolan, merupakan salah satu orang yang saat itu mengikuti perkembangan pelarangan becak di ibu kota. Sebagai pengacara, dia bahkan pernah menjadi kuasa hukum para abang becak.
Saat itu akhir 1989. Dia bersama beberapa kawan menjadi kuasa hukum para abang becak Jakarta melawan Gubernur Wiyogo yang menggusur becak dari ibu kota.
Baca Juga: Tak Laku, Liverpool Banting Harga Peminjaman Daniel Sturridge
Tigor menceritakan, bahwa para penarik becak Jakarta kalah di pengadilan melawan kebijakan Wiyogo tersebut.
Akhirnya, sebagai bentuk perlawanan terakhir, mereka mengadakan pergelaran wayang dengan lakon "Wisanggeni Gugat" sebagai simbol menggugat kebijakan larangan becak.
Pergelaran wayang kulit itu diadakan di salah satu kampung yang menjadi basis para penarik becak di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan.
"Pergelaran wayang kulit dilakukan semalam suntuk. Bahkan, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur juga hadir dan memberikan dukungan kepada para abang becak dan keluarganya," tuturnya.
Tentang wacana Pemerintah DKI Jakarta yang akan kembali memperbolehkan becak beroperasi, Tigor menyatakan dukungannya asal ada aturan dan pengawasan yang konsisten.
Menurut Tigor, becak merupakan transportasi yang manusiawi dan ramah lingkungan sebagaimana sepeda tanpa menggunakan motor.
Becak bisa menjadi alat transportasi jarak pendek di permukiman dan transportasi wisata di lokasi pariwisata Jakarta.
Karena itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta perlu membuat aturan dan mengawasi agar keberadaan becak di Jakarta bisa memberikan layanan yang aman, nyaman, tidak semrawut dan terkendali.
"Saat ini becak masih beroperasi di beberapa lokasi di Jakarta secara sembunyi-sembunyi dan terbatas. Becak memang masih dibutuhkan sebagai alat transportasi jarak pendek di kawasan permukiman," katanya.
Cara Genjot yang Baik dan Benar
Ketika rencana Anies ramai-ramai ditolak maupun didukung, sang wakil—Sandiaga Uno—melontarkan ide memberikan pelatihan “cara genjot yang baik dan bagus” bagi penarik becak.
Menurutnya, pelatihan itu bertujuan agar penarik becak memunyai standar pelayanan operasional terhadap pelanggan.
"Sekarang becak sudah dikunci. Kami sudah punya angka jelas dan akan mengadakan pelatihan-pelatihan. Ya salah satu pelatihannya adalah standar pelayanan olahraga, gimana cara genjot yang bagus,” tutur Sandiaga di Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI, Jumat (26 /1/2018).
Ia mengakui, ide untuk kembali melegalisasi becak serta memberikan pelatihan “cara genjot yang bagus”, terilhami dari seorang profesor dari Cardiff University, Inggris.
Tanpa menyebut nama, Sandiaga mengungkapkan sempat dikunjungi seorang profesor dari universitas tersebut.
Sang profesor, kata Sandiaga, memberitahu dirinya mengenai becak mampu menjadi alternatif transportasi umum ibu kota yang ramah lingkungan.
"Kemarin ada profesor yang mengatakan sustainable world of transportation nantinya, yaitu transportasi berbasis ramah lingkungan itu salah satunya adalah becak. Ya, tapi bukan becak-becak kayak dulu itu. Listrik di depan, terus mereka memberikan prototipenya. Contohnya termasuk di New York. Becak dianggap bisa menggantikan sepeda motor sehingga ramah lingkungan. Tidak mencemari polusi,” tuturnya.
Namun, ide Sandiaga itu justru menuai cibiran dari banyak pihak, terutama warganet. Menurut mereka, ide Sandiaga itu mubazir dan dikhawatirkan menggerus dana ABPD DKI yang seharusnya bisa dialokasikan untuk program lain.
“Tukang becak sudah pasti lebih berpengalaman daripada si wakil gubernur,” tulis akun Facebook bernama Suherdi Huang.
Akun Ryo Inexia secara bercanda mengatakan, pelatihan itu kemungkinan bakal memberikan wawasan kepada penarik becak mengenai sejumlah teknik demonstrasi ala mobil.
“Jadi becak ini bakal diajarin caranya gimana biar ngedrift, cornering, dan sebagainya supaya mampu bersaing dengan angkot dan ojol. Nikmat Sandi mana lagi yang kamu tertawakan.”
Sementara akun Mochamad Rachman memberikan masukan mengenai “cara genjot yang baik dan bagus”.
“Genjot juga ada tekniknya. Pantat digoyang-goyang, kaki digerakkan dengan ritme tertentu. Jalan tanjakan mendorong juga ada tekniknya. Jalan turunan apalagi. Jalan becek, pokoknya salut deh. Amerika dan Uni Eropa saja studi banding ke sini buat belajar.”
Sedangkan akun Anna Raffa mengkhawatirkan, pelatihan seperti itu justru akan membuat dana APBD DKI membengkak.
”Segala genjot becak doang pakai pelatihan. Ujung-ujungnya nanti anggarannya membengkak.”
Komoditas Politik
Polemik mengenai rencana kembali mengizinkan becak beroperasi terus berlanjut. Termutakhir, Minggu (28/1), Sandiaga menuding ada pihak yang sengaja memobilisasi penarik becak dari luar daerah masuk ke Jakarta.
Padahal, Sandiaga menegaskan, pemprov hanya ingin mengatur penarik becak di Jakarta yang masih beroperasi tanpa izin.
"Kami akan sampaikan pesan kepada yang mobilisasi, Jakarta tidak akan diam terhadap kegiatan destabilisasi (membuat kondisi tidak stabil) wilayah Ibu kota," kata Sandiaga saat ditemui di RPTRA Taman Sawo, Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu.
Kecurigaan Sandiaga ini bermula dari laporan tentang mobilisasi khusus untuk mendatangkan becak ke Ibu Kota.
Beberapa waktu lalu, diisnyalir ada sejumlah becak yang diturunkan dari truk di daerah Pekojan, Tambora, Jakarta Barat. Hal ini terindikasi ada yang mengorganisasi kedatangan becak-becak tersebut.
“Ada mobilisasi pake truk itu seperti terorganisasi. Sudah ada beberapa laporan dan ini mobilisasi. Enggak mungkin tukang becak dari daerah itu bisa kayuh sendiri ke sini," ujar Sandiaga.
Sandiaga mengatakan, becak-becak yang tertangkap Satpol PP tersebut ada yang datang dari daerah pantai utara (pantura) Jawa, seperti Indramayu. Becak-becak itu sudah dipulangkan ke daerah asalnya masing-masing.
Sandiaga akan menindak tegas becak dari luar Jakarta yang masih nekat datang.
Kegenitan Kelas Menengah
Azas Tigor Nainggolan ketika diwawancarai jurnalis Suara.com, Selasa (23/1), mengatakan Gubernur Anies perlu membuat konsep konkret agar polemik mengenai becak terhenti.
Ia juga meminta warga Jakarta, terutama kelas menengah, tak "genit" dengan menstigma becak.
"Buat teman-teman juga jangan menstigma becak. Misalnya (menstigma) 'nanti becak akan menggores mobil saya'. Jangan. Seorang Gus Dur (Presiden keempat RI; Abdurrahman Wahid) saja, dulu ikut mendukung becak saat dirazia tahun 1989," ungkapnya.
Ia bercerita, suatu hari ketika berkunjung ke Washingon DC, Amerika Serikat, melihat becak dijadikan alat transportasi wisata di sekitar gedung Capitol—Gedung Putih. Di Belanda juga begitu. Bahkan sebagian becak di Belanda diimpor dari Indonesia.
"Saya pernah juga dua tahun lalu naik becak di Malaysia. Becak dihias. Bagus. Di Eropa becak juga bagus."
Menurut Tigor, di Jakarta, becak baik juga dioperasikan menjadi angkutan wisata, misalnya di Ancol, TMII, dan Kota Tua.
"Di kawasan SCBD, bahkan, eksekutif muda kalau turun untuk makan siang, pakai mobil atau motor. Nah, bisa juga nanti ke pusat kuliner naik becak, daripada motor atau mobil bikin macet."
Tigor menekankan, penarik becak yang masih bertahan di Jakarta sebenarnya tak memiliki kepentingan apa pun terkecuali untuk terus mampu mencari nafkah diri dan keluarga. Hanya untuk keperluan terus menyambung hidup.
Pernyataan Tigor tersebut, juga ditunjukkan oleh penarik becak pada era 80-an seperti terekam dalam cerpen Seno yang dikutip pada awal artikel ini.
Ketika menyerah dan sesaat sebelum ditembak, Rambo—si penarik becak terakhir di dunia dalam cerpen Seno itu—mengatakan: “Ya, aku menyerah. Aku bukan pahlawan. Dan aku tidak mau jadi pahlawan. Aku Cuma tukang becak yang takut mati dan perlu makan....”
Berita Terkait
-
Sandiaga Uno: 7 Juta Warga Jakarta Tak Punya BPJS Ketenagakerjaan
-
Sandiaga Sebut Ada yang Mobilisasi Becak Masuk ke Jakarta, Siapa?
-
Kebakaran Taman Sari, Sandiaga Sebut Rumah Harus Ada Asuransi
-
Kocak, Ide-ide Absurd Cara Genjot Becak Ala Warganet
-
Mau Adakan Pelatihan Cara Genjot Becak, Sandiaga Uno Ditertawakan
Terpopuler
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
- Link Resmi Pandang.istanapresiden.go.id buat Daftar Upacara Bendera HUT RI di Istana Negara
Pilihan
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
Terkini
-
Toyota Indonesia Sambut Rencana Insentif Kendaraan Listrik dengan Baterai Nikel
-
BPS Ungkap Tingkat Pengangguran di Riau per Mei 2026
-
Pertebal Bukti Suap Rejang Lebong, KPK Geledah Sejumlah Lokasi di Kota Bengkulu
-
Promo Belanja di Yomart, Ada Diskon Spesial dari BRI
-
Investasi Bertebar Promo Hanya di BRImo
-
5 Trik Pakai Sunscreen Sesuai Arahan Dokter agar Flek Hitam Pudar dan Wajah Glowing
-
5 Zodiak yang Paling Suka Ghosting dan Tiba-Tiba Hilang Tanpa Kabar
-
Di Depan Penyakit, Tak Ada Nasionalisme yang Lebih Penting dari Kesembuhan
-
Eks Ketua Yayasan Sekolah Swasta di Jakarta Selatan Buka Suara Soal Temuan 995 Pucuk Senjata Api
-
Zulhas Goda Kepala BGN Sudaryono: Belum Sebulan Menjabat Sudah Turun Berapa Kilo?