Suara.com - Yogyakarta menjadi kota yang tak bisa dipisahkan dari epos perang patriotik atau Revolusi Kemerdekaan RI tahun 1945. Pada kota itu, perpaduaan strategi perang gerilya dan diplomasi kaum republiken dirancang. Tapi, siapa sangka, strategi revolusi tersebut berawal dari dapur.
Semasa perang revolusi di tahun 1945-1949, dapur umum di Kota Jogja memiliki peranan yang cukup penting.
Dapur umum tak hanya berfungsi menyediakan makanan bagi para serdadu, tapi juga sebagai tempat bertukar informasi, merawat peralatan perang dan merencanakan serangan.
Hal tersebut disampaikan Sri Retna Astuti dari Balai Pelestarian Nilai Budaya DIY dalam seminar sejarah bertema “Peran Dapur Umum pada Masa Revolusi” di Sekar Kedhaton Restauran, Kotagede, Kamis (22/2/2018).
Seminar ini diselenggarakan Dinas Kebudayaan Kota Jogja demi peningkatan wawasan sejarah.
Menurut Sri, dapur umum pada masa yang bergejolak itu memiliki beragam fungsi, antara lain, sebagai tempat komunikasi antara pejuang untuk mengetahui posisi Belanda.
Selain itu, di dapur umum lah para gerilyawan republiken menyimpan dan memelihara persenjataan.
Dapur umum juga menjadi tempat menyampaikan informasi tentang waktu dan tempat mengadakan serangan, serta sebagai tempat istirahat yang aman bagi pejuang.
“Dapur umum pada masa revolusi merupakan salah satu partisipasi masyarakat dalam rangka ikut mempertahankan kemerdekaan. Tentara jadi tak perlu memikirkan logistik. Melalui dapur umum, para wanita dan remaja merasa ikut berjuang, meskipun di garis belakang,” ucap Sri seperti diberitakan Harian Jogja—jaringan Suara.com.
Baca Juga: Rizieq Masuk Bursa Capres, Tapi Kalah dengan Ahok
Ia menambahkan, pada waktu Belanda menduduki Kota Jogja, keberadaan dapur umum tidak banyak ditemukan dan sering berpindah-pindah.
Selain untuk menghindari kecurigaan dari Belanda, hal itu dilakukan demi meringankan beban masyarakat.
Akhirnya, lanjut Sri, beberapa keluarga yang berdekatan berbagi tugas. Ada yang memasak nasi, memasak sayur atau memberikan minum.
Seluruh masakan kemudian diserahkan ke markas dapur umum yang dikoordinir oleh Ruswo, yang menempati rumahnya di Jalan Yudonegaran, dan dibantu oleh Atikah Hadikusumo dan Tatiek Hariati.
“Antara dapur umum di kota dan luar kota tidak saling berhubungan. Namun demikian pasukan yang berada di luar kota seringkali mendapat kiriman makanan dari kota yang dibawa kurir,” imbuh Sri.
Kasi Sejarah Dinas Kebudayaan Kota Jogja Tri Sotya Atmi mengatakan, dapur umum tak hanya melayani kepentingan para pejuang, tapi juga menyediakan makanan bagi pegawai negeri yang tidak dapat pulang karena adanya halangan.
Pada masa itu, sambungnya, hampir segala kegiatan sering terhenti. Seluruh rakyat selalu dalam keadaan siaga. Toko-toko sering tutup selama berhari-hari, begitu pun lalu lintas.
“Dalam keadaan demikian, dapur umum yang dikelola oleh WANI [Wanita Negara Indonesia], bukan saja menyediakan makanan bagi para pejuang, tetapi juga berperan sebagai pos republik.”
Berita ini kali pertama diterbitkan Harianjogja.com dengan judul “Di Masa Revolusi, Dapur Umum Jadi Tempat Menyusun Strategi”
Berita Terkait
-
Menyatukan Bisnis dan Liburan di Yogyakarta Marriot Hotel
-
Dua Kawasan Industri di Yogya akan Disulap Jadi "Silicon Valley"
-
Wisatawan Makan Bakso di Kulonprogro Kaget Dipatok Harga Selangit
-
Pakai Kaus, Jokowi Ajak Warga Yogyakarta Makan Malam Bareng
-
Jokowi Ajak Tiga 'Perempuan Petualang' Menginap di Istana
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Makin Diminati, Penumpang LRT Jabodebek Capai 16 Juta Orang
-
Menteri Jerman Kunjungi Pabrik Bayer di Cimanggis, Soroti Energi Hijau
-
Kronologi Begal Kertapati: 2 Pelaku Bawa Parang, Kejar Korban hingga Berujung Maut
-
Sering Dianggap Cuma Kelelahan, Katup Jantung Bocor Bisa Ditangani Tanpa Operasi Terbuka
-
Korupsi KUR BSI Rp9,5 Miliar di OKI, Uang Pengganti 3 Terdakwa Tembus Rp9 Miliar
-
Buaya Muara 3 Meter Mendadak Muncul di Pantai Pasir Putih Cihara
-
Tenis Meja Indonesia Bidik 8 Besar di Asian Games 2026
-
Gempa NTT, PDIP Kirim Bantuan Khusus untuk Ibu Hamil dan Anak
-
Diisukan Ada OTT KPK, Begini Kondisi Kompleks Pemkab Bogor Malam Ini
-
Yasonna Laoly Dukung Kewarganegaraan Ganda Terbatas Usulan Prabowo: Demi Kepentingan Nasional