Sementara ini, mayoritas kaum sosialis Jerman mendukung resolusi Kühnert untuk menolak berkoalisi dengan petahana.
Kaum Oposan
Suatu sore baru-baru ini, Kühnert tiba di kantor pusatnya di Berlin terbungkus syal tebal dan menyeruput secangkir the mint.
Dia sedang tidak enak badan. Dalam sebulan, ia sedikitnya berkeliling ke 23 kota untuk berkampanye, meladeni wawancara awak media, dan memainkan Facebook serta podcast untuk menerangkan secara langsung ide politiknya kepada kaum milenial.
Sementara seorang sukarelawan mengoleskan riasan pada pipinya, saat awak televisi mempersiapkan kamera guna acara bincang-bicang.
Meski begitu, Kühnert tetap bersemangat menceritakan serta menjelaskan perseteruannya dengan Merkel.
“Sejak pemilu tahun lalu, prinsipku dan kaum sosialis tegas, menang atau menjadi oposisi Merkel. Ternyata kami hanya menempati posisi kedua, sehingga menjadi oposan adalah keharusan,” tukasnya.
Kühnert dan kaum muda sosialis kekinian berupaya mengambilalih kepemimpinan politik dari “kaum tua” SDP.
Mereka menilai, “kaum tua” SPD yang akrab dengan Merkel sejak periode pertama kepemimpinan perempuan itu di Jerman, merugikan partai.
Baca Juga: PDIP Berharap Jokowi-Prabowo Tak 'Head to Head' di Pilpres 2019
SPD masih mampu meraup suara mayoritas sebesar 34 persen saat kali pertama berkoalisi dengan Merkel tahun 2005. Tapi, setelahnya, perolehan suara pendukung mereka terus menyusut hingga 20 persen.
Akhirnya, pada Pemilu 2017, SPD mendapat perolehan suara paling rendah sejak era Perang Dunia II, meski masih mayoritas di Jerman. Mereka kalah dari Partai Kristen Demokrat besutan Merkel.
Ia menuturkan, “kaum tua” SDP yang pragmatis semakin bermasalah ketika SDP pascapemilu justru menjajaki koalisi dengan Partai Demokrat Kristen besutan Merkel.
"Bagaimana pemilih bisa mempercayai kita, SDP, jika kita bahkan tidak bisa mempercayai pemimpin kita sendiri? Serta justru menyerahkan nasib rakyat kepada orang seperti Merkel yang pro neoliberal?" terangnya.
Riasan sudah selesai. Kühnert memeriksa jam tangannya dan meminum aspirin. “Aku sudah siap untuk pertempuran selanjutnya,” imbuhnya.
Bagi Kühnert, situasi kekinian di Jerman adalah pertempuran antara harapan dan ketakutan. SDP harus menempatkan orangnya sebagai kanselir atau menjadi oposan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
LHKPN Prabowo dan 38 Pejabat Lainnya Dipertanyakan ICW, KPK: Tunggu Verifikasi
-
Dikritik Bakal Ancam Demokrasi, DPN Disebut Perlu Reformasi Struktural
-
JPU KPK Tegaskan Tak Boleh Ada Intervensi di Sidang Kasus Suap Bea Cukai
-
Kasus Kekerasan Seksual Ponpes Pati, DPR Desak LPSK Fasilitasi Rehabilitasi 50 Korban
-
Laga Persija vs Persib Dipindah ke Samarinda, Pramono Anung: Kecewa, Tapi Alasannya Masuk Akal
-
Modus 'Crispy Fruit', WNA China Pengedar Happy Water Diciduk di Apartemen Pademangan
-
Rangkul Homeless Media, Bakom Perkenalkan Mitra Baru New Media Forum
-
Kasus PRT Loncat dari Lantai 4, Polisi Tetapkan Pengacara Adriel Viari Purba Tersangka
-
Polisi Tetapkan 3 Tersangka Kasus 'Majikan Sadis' di Benhil, Ini Perannya!
-
Pemilik Blueray Cargo Didakwa Suap Rp61,3 Miliar ke Pejabat Bea Cukai demi Loloskan Barang Impor