Suara.com - Ketua Pengadilan Tinggi Manado Sudiwardono didakwa oleh jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi menerima uang suap senilai 120 ribu dolar Singapura. Uang tersebut diterimanya dari Aditya Moha agar tidak menahan Marlina Moha Siahaan yang adalah ibu kandung dari Aditya Moha.
Namun, terhadap dakwaan tersebut, Sudiwardono tidak sependapat. Sebab, saat menjalani sidang sebagai saksi untuk terdakwa Aditya Moha, Sudi mengatakan dirinya mengeluarkan perintah tersebut karena kondisi Marlina Moha dalam keadaan sakit.
"Apakah sudara saksi keluarkan surat tidak penahanan terhadap Ibu Marlina, karena sudah terima uang atau melihat kondisinya yang sedang sakit?" tanya penasihat hukum Aditya kepada Sudiwardono di Gedung Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (25/4/2018).
"Saya melihat kondisi orang tuanya Pak Aditya saat itu, saya melihat sedang sakit," jawab Sufiwardono.
Meski begitu, Sudiwardono mengakui bahwa dalam pertemuannya dengannya Aditya dibicarakan juga terkait tidak penahanan tersebut.
"Apakah dalam pertemuan di Yogyakarta berbicara juga soal penahanan ibu Marlina?" tanya kuasa hukum Aditya.
"Iya, ada (pembicaraan itu)," jawab Sudiwardono lagi.
Sudiwardono membantah kalau dirinya meminta uang tambahan kepada Aditya jika vonisnya membebaskan Marlina Moha. Sebab, dalam pertemuannya dengan Aditya tidak dibahas soal vonis bebas terhadap Marlina Moha.
"Apa yang saudara sampaikan ketika telah menerima uang. Apakah kalau bebas tambah lagi? dan apakah ada perjanjian vonis bebas?" tanya kuasa hukum Aditya.
Baca Juga: Pembersihan Gulma di Rawa Pening Ditargetkan Selesai Tahun Ini
"Saya tidak mengatakan seperti itu, dan nggak ada (perjanjian vonis bebas)," jawab Sudiwardono.
Dalam kasus ini, Aditya Moha didakwa menyuap hakim sekaligus Ketua Pengadilan Tinggi Manado, Sudiwardono. Politisi Partai Golkar itu didakwa memberi suap 120 ribu dolar Singapura kepada Sudiwardono.
Menurut jaksa, uang sebesar itu diberikan agar penahanan terhadap Marlina Moha Siahaan tidak dilakukan. Marlina yang adalah ibu terdakwa, terjerat dalam kasus korupsi tunjangan penghasilan aparatur pemerintah desa Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara tahun 2010.
Saat itu, Marlina yang divonis penjara lima tahun karena dinyatakan terbukti bersalah di pengadilan tingkat pertama, mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Manado.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Benarkah Demo Mahasiswa Ditunggangi? Ini Alasan Mengapa PDIP Dicurigai
-
Wamensos Apresiasi Dukungan ESQ Group untuk Pendidikan dan Karier Siswa Sekolah Rakyat
-
Sekolah Rakyat Ubah Jalan Hidup Aldo, Mantan Tukang Las Kini Punya Impian ke Negeri Sakura
-
Bupati Kediri Apresiasi Capaian Siswa Sekolah Rakyat dalam Open House 2026
-
Rano Karno Janji Tuntaskan Banjir Abadi Joglo: Jalan Ambles Aja Kita Perbaiki
-
Washington D.C. Kalah, Jakarta Masuk Peringkat 53 Kota Terbaik Dunia
-
Gaya Dasco Hadapi Aksi Mahasiswa Dipuji, Peneliti: Dobrak Eksklusivitas Senayan
-
Polisi Tangkap 4 Terduga Pelaku Terkait Tewasnya Dua Pria di Saluran Air Bekasi
-
Rano Karno Ajak Generasi Muda Rawat Sejarah dan Hidupkan Nilai Kebudayaan Bangsa
-
Rano Karno: Indonesia Saat Ini Butuh Keberanian Bung Karno