"Dulu saya cuma bersih-bersih makam di sini. Kemudian saya bertemu, dipercaya untuk merawat dan menjaga makam sejak tahun 2006," ujar Abdul.
Abdul enggan menjawab riwayat makam RM Tirto. Tapi ia mencetuskan sepotong informasi bahwa, "Dewi Yul (artis lawas) juga masih cucu RM Priatman. Anaknya juga ada dimakamkan di sini."
Ia menuturkan, mendapatkan uang dari keluarga besar Tirto sebagai balas jasa merawat makam tersebut. Selain itu, ia juga mendapat honorarium Rp 600 per bulan dari Dinas Sosial Kota Bogor.
“Sejak tahun 2011, honorarium saya diberikan Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat,” tukasnya.
Abdul memberikan kesaksian, sejak menjadi penjaga makam Tirto, tak sedikit awak media dan komunitas-komunitas datang berkunjung. Tapi, ia tak pernah melihat ada pejabat pemerintah yang datang.
“Kalau dari pihak keluarga, kali terakhir datang awal bulan Ramadan ini. Mereka berziarah ke sini,” tuturnya.
Kiprah Tirto semasa hidup, terbilang gemerlap. Aktivitas jurnalistiknya saat membangun Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907), dan Poetri Hindia (1908), menjadikannya sebagai sosok perintis pers Indonesia.
Ia juga yang membidani pendirian Sarikat Dagang Islam, pendahulu Sarikat Islam, organisasi pertama yang berseberangan dengan kolonial Belanda.
Medan Prijaji dikenal sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah orang Indonesia—suatu yang baru saat itu.
Baca Juga: Juli, Jembatan Musi IV Palembang Mulai Terhubung Hilir ke Hulu
Tirto adalah orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum. Dia juga berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu.
Namun, jejak langkahnya tersebut pernah terkubur seiring kematiannya. Seperti yang ditulis sastrawan terbesar Indonesia Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya “Sang Pemula” (1985), saat Tirto wafat, tak banyak orang yang mengantarkannya ke pemakaman.
Menjelang kematiannya, Tirto memang dibuang, diasingkan, bahkan dimiskinkan. Saat meninggal pun, tak ada pemberitaan besar mengenai orang besar itu.
“Bagi seorang jurnalis kenamaan, yang dalam dasawarsa pertama abad 19 dan 20 banyak disebut oleh pers di Hindia maupun Belanda, memang terlalu sedikit tanggapan orang atas kematiannya,” tulis Pramoedya, hlm 5.
Sesudah kematiannya, satu dari sedikit warta mengenai Tirto terdapat dalam sepucuk surat dari Batavia (Jakarta) kepada surat kabar De Locomotief, di Semarang. Surat itu, tercantum dalam skripsi J Erkelens, “Krant in Indonesie”, Skripsi Vrije Universiteit, Amsterdam, 1971.
“Sebuah kuburan di Manggadua, Batavia, yang sedikit pun tak berbeda dari kuburan-kuburan lain di sekitarnya, adalah tempat istirahat terakhir pekerja dan jurnalis ini…. Harian-harian pribumi tiada menyinggung lagi tentangnya dan sampailah kemudian ke telinga kami, bahwa orang membisu tentangnya dikarenakan hormat yang mendalam kepadanya lantaran tahun-tahun terakhirnya yang memilukan. Karena Tirto Adhi Soerjo telah menjadi kurban kerja kerasnya sendiri, dalam tujuh-delapan tahun terakhir telah sepenuhnya rusak ingatan dan takut orang.”
Satu dari sedikit obituari lainnya ditulis oleh murid sekaligus penerus perjuangan Tirto, yakni Mas Marco Kartodikromo.
Lima hari setelah kematian Tirto, Mas Marco menuliskan artikel “RM Tirto Adhi Soerjo” dalam Sinar Hindia, 12 Desember 1918.
“… saya mesti mengaku juga bahwa lantaran pimpinannya…. Saya bisa menjadi redaktur, pada ketika saya ada di Bandung, kumpul serumah dengan beliau. Seorang jurnalis Jawa paling tua, pun beliau seorang bumiputra yang pertama kali membikin NV (perusahaan) pada 10 tahun lalu, mashur di seluruh Hindia lantaran keberaniannya mengusik laku sewenang-wenang, menerbitkan Medan Prijaji, Poetri Hindia, Soeara BOW, Soeara Spoor dan Tram, Soeara Pegadaian dan Sarotomo…..”
Sehari setelah artikel itu terbit, yakni 13 Desember 1918, dalam surat kabar Djawi Hisworo, Mas Marco menyebut Tirto Adhi Soerjo sebagai “Penggoncang Bumiputera bangun dari tidurnya.” [Rambiga]
Berita Terkait
-
Kontroversi Film dan Kisah Heroik di Balik Buku Bumi Manusia
-
Google Rayakan Ulang Tahun Pramoedya Ananta Toer dengan Doodle
-
"Bunga Penutup Abad" Sambut 10 Tahun Meninggalnya Pramoedya
-
Tiket Habis, Pentas Teater "Bunga Penutup Abad" Menjadi Tiga Hari
-
Tetralogi Bumi Manusia Karya Pramoedya Cetak Ulang
Terpopuler
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- Danantara Sumberdaya Indonesia Batal Beroperasi Penuh, Pemerintah Mundurkan Skema Ekspor SDA di 2027
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
Pilihan
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
Terkini
-
AS Tiba-tiba Serang Iran, IRGC Balas Hantam Pangkalan Udara di Kuwait!
-
Tragedi TV Tabung di Atas Kepala Siswi SD, Akhir Tragis JN di Tangan Pemuda Haus Darah
-
Satu Keluarga Rugi Rp700 Juta, Jemaah Hanania Travel Geruduk Polda Metro Jaya
-
Siapa Dalangnya? Polisi Kumpulkan Bukti Dugaan Pembubaran Ibadah di Gereja Sewon Bantul
-
Harta Karun RI Nyaris Lenyap, TNI AL Sergap 25 Kontainer Mineral Ilegal di Batam
-
Tak Peduli Lokasi Munas, HIPMI Jaya: Di Mana Pun Oke, Yang Penting Jangan Pecah!
-
Aksi Kamisan di Istana: Menagih Janji Negara yang Hobi Lupa pada Korban Penghilangan Paksa
-
PKS Salurkan Hewan Kurban hingga ke Wilayah Bencana Banjir Sumatra
-
Misteri Kematian WNA Korea di Bekasi: Ada Luka Benda Tajam dan Tumpul di Tubuh Korban
-
Keracunan atau Apa? 8 Fakta Tewasnya Sekeluarga di Tenda Kamping Temanggung