Suara.com - Angin perubahan yang diembuskan pemimpin Korea Utara (DPRK) Kim Jong Un dan President of the United States (POTUS) Donald Trump direspon positif oleh beberapa negara. Termasuk negara tetangga, Malaysia.
Mahathir Mohamad, Perdana Menteri Malaysia, menyatakan negaranya akan membuka kembali kedutaannya di Pyongyang, ibukota Korea Utara.
Hubungan diplomatik kedua negara sempat putus, menyusul kejadian pembunuhan atas Kim Jong Nam, saudara lelaki Kim Jong Un, di bandar udara Kualalumpur tahun lalu. Ia disemprot cairan senyawa perusak saraf, yang masuk klasifikasi senjata penghancur di daftar PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa).
Saat itu, Amerika Serikat dan Korea Selatan menyatakan pembunuhan Kim Jong Nam diatur Pyongyang. Sedangkan duta besar Korea Utara untuk Malaysia mempertanyakan keabsahan penyelidikan polisi dan bersikeras bahwa korban adalah warga biasa, yang meninggal karena serangan jantung.
Dampak dari kasus ini adalah tindakan Malaysia memulangkan duta besarnya untuk DPRK, melarang warganya bepergian ke sana. Sedangkan secara diplomatik, pemberian titel "bebas visa masuk" untuk warga Korea Utara ditiadakan.
Tindakan ini dibalas Korea Utara dengan pelarangan travel bagi warga Malaysia ke Pyongyang dan menahan tiga diplomat serta enam anggota keluarganya.
Mereka baru dibolehkan keluar Korea Utara setelah Malaysia menyanggupi penyerahan jenazah Kim Jong Nam serta tiga orang Korea Utara yang masuk daftar pencarian untuk diperiksa di DPRK.
Setelah rentetan kejadian dan pemutusan hubungan diplomatik ini, sejak April 2017 Kedutaan Malaysia di Pyongyang dikosongkan dan dipertimbangkan akan ditutup secara tetap. Layanannya akan dipindahkan ke perwakilan Malaysia di Beijing, Cina.
Foto: Pemimpin Korea Utara (DPRK) Kim Jong Un dan POTUS, Donald Trump di Capella Hotel, Sentosa Island, Singapura, Selasa (12/6) [AFP].
Baca Juga: Laundry Tutup, Ivan Gunawan Khawatir Nasib Pakaian Rancangannya
Tetapi, kurun sehari sebelum perundingan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Singapore Summit antara POTUS dan Kim, Mahathir menyatakan harapan kedua pemimpin negara akan menghasilkan kesepakatan perdamaian.
"Kita seharusnya tidak ragu. Karena bila kecurigaan muncul, kita tidak bisa bekerja dengan orang lain," ujar Mahathir.
(Antara)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- 5 HP Android dengan Kualitas Kamera Setara iPhone 15
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Warga Jakarta Kini Wajib Pilah Sampah dari Rumah, Bagaimana Aturan dan Caranya?
-
Kasus Kekerasan Seksual di Depok Meningkat, Wakil Wali Kota Ungkap Fakta di Baliknya
-
Waspada Malaria Knowlesi! Penyakit 'Kiriman' Monyet yang Mulai Mengintai Manusia
-
Geger Kabar Syekh Ahmad Al Misry Ditangkap, Polri: Tersangka Masih Sembunyi di Mesir
-
Demo Depan KPK, GMNI DKI Desak Usut Dugaan Mega Korupsi Rp 112 Triliun di Proyek KDMP
-
Kementerian PKP dan KPK Sinkronkan Aturan Baru Program BSPS untuk Rakyat
-
4 Anggota BAIS Penyiram Air Keras Ngaku Salah, Siap Minta Maaf Langsung ke Andrie Yunus
-
Ahmad Rizal Ramdhani, Dari Korps Zeni Menuju Penguatan Ketahanan Pangan Nasional
-
Diplomasi Dudung Abdurachman dengan Dubes Saudi: Ada Undangan Resmi untuk Prabowo Haji Tahun 2027
-
Senyum-senyum Donald Trump Tiba di Beijing Disambut Nyanyian 300 Remaja China