Suara.com - Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban Muhammad Sirajuddin Syamsuddin atau yang akrab disapa Din Syamsuddin menegaskan, jika Islam di Indonesia ini merupakan Islam yang moderat dan memiliki toleransi yang tinggi.
Din Syamsuddin mengatakan, jika dirinya tak mampu membayangkan jika umat islam di Indonesia yang mayoritas 220 juta ini tidak toleran, tentu Indonesia ini sudah hancur.
“Jangan isu radikalitas itu hanya dikenakan pada umat Islam. Ini sikap yang tidak moderat,” ujar Din Syamsuddin di Jakarta, Selasa (14/8/2018).
Din Syamsuddin menjelaskan, karena kebesaran hati umat Islam akhirnya tidak jadi piagam Jakarta sebagai dasar negara kita yang disitu ada ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya justru karena toleransi tinggi dari umat islam.
“Dan banyak hal oleh karena itu saya berpesan pada keluarga besar bangsa jangan kasus radikalitas itu hanya disasarkan pada umat islam. Itu sikap radikal,” katanya.
Dalam rangka membangun kerukunan Din Syamsuddin mengajak agar rakyat Indonesia mencari akar tunjang dari radikalitas baik atas nama agama atau radikalitas atas nama kepentingan pihak politik.
“Ada radikalitas atas nama kepentingan ekonomi. Kekerasan itu tidak hanya pada kekerasan fisik yang kemudian sering dikaitkan dengan agama. Namun kekerasan ada kekerasan pemodal dan kekerasan negara jadi saya ngin mengklirkan,” katanya.
“Menjernihkan permasalahan radikalitas itu ekstrimitas itu adalah musuh kita bersama. Maka kita harus atasi dengan jalan tengah. Tapi ingin saya tegaskan bahwa ekstrimitas radikalitas itu tidak berhubungan dengan satu kelompok salah besar kalau radikalitas dituduhkan pada satu kelompok antara agama," tambahnya.
Ia menerangkan, khusus radikalisme keagamaan itu di picu oleh banyak faktor. Ada faktor pemahaman terhadap agama itu sendiri dan biasanya jika seorang pemeluk agama memahami sebuah teks kitab suci secara sepihak, dan terutama mengambil pada ayat-ayat yang terkesan mendorong radikalitas itu.
Padahal, ungkapnya, banyak ayat-ayat yang lain yang justru mendorong pada perdamaian kerukunan toleransi.
“Jadi faktor pertama adalah kesalahfahaman terhadap agama, terutama karena kesalahan pendekatan dalam memahami kitab suci,” katanya.
Tapi, lanjut dia, radikalitas itu juga dipicu oleh faktor-faktor non agama. Terutama jika ada ketidakadilan atau kesenjangan baik sosial ekonomi bahkan politik.
“Nah ini yang kemudian harus kita pandang sebagai fenomena umum sebab kalau bisa radikalitas itu di sasarkan kepada kelompok tertentu saja, itu justru akan mendorong reaksi yang kadang kala bersifat radikalitas atau bersifat radikal,” jelasnya.
Ia menerangkan jika sejauh ini umat Islam di Indonesia adalah Islam yang moderat. Kestabilan di negara Indonesia saat ini, menurut dia, merupakan salah satu bukti jika Islam di Indonesia itu moderat dan memiliki toleransi yang tinggi.
“Justru ini yang saya maksudkan tadi, jangan isu radikalitas itu hanya dikenakan pada umat Islam. Ini sikap yang tidak moderat,” katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
Pilihan
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
Terkini
-
Polemik Berkas Korupsi PLTU Batubara, Langkah Polri Dinilai Lawful dan Rasional
-
Nobar Piala Dunia TNI AD di 25 Ribu Titik Sedot 1,1 Juta Penonton, Roda Ekonomi Tembus Rp5 Triliun
-
Dimulai dari Reservasi, Hotel di Gading Serpong Ini Andalkan Pengalaman Serba Digital
-
Kronologi Dugaan Guru SD Hukum Murid Pakai Mistar di Lubuklinggau, Polisi Periksa TKP
-
Daftar Brand yang Paling Sering Masuk Keranjang Belanja Warga Indonesia
-
Kenapa Harga Pemain EA FC 26 Naik-Turun Setiap Pekan? Ini Polanya
-
Flu Singapura Merebak di Sumsel, Mengapa Palembang Jadi Daerah dengan Kasus Terbanyak?
-
Statistik Apik Youri Tielemans, Pengganti Casemiro yang Lebih Efisien untuk MU
-
Purbaya Jamin Kopdes Merah Putih Pasti Untung, Asal Tak Dikorupsi
-
Jembatan Musi V Segera Dibuka, Perjalanan Palembang-Betung Bakal Cuma 1 Jam