News / Nasional
Kamis, 18 Oktober 2018 | 08:28 WIB
Achmad Ali di Pulau Sapudi. (Suara.com/Achmad Ali)
Istri dan Anak Junaidi. [Suara.com/Achmad Ali]

Dalam perjalanan, saya susah untuk memejamkan mata. Saya terus membayangkan seperti apa kondisi di Pulau Sapudi. Seperti apa kondisi korban dan seperti apa kesedihan yang dirasakan.

Bus Mogok

Separuh perjalanan lamunan saya buyar. Bus yang saya tumpangi tiba-tiba berheti di tengah jalan alias mogok. Bunyi klakson mobil dibelakang bus yang saya tumpangi mulai bersahutan.

Beruntung tiga menit kemudiaan mesin bus kembali bisa dinyalakan. Perjalan pun kembali dilanjutkan. Namun nasib naas kembali menimpa saya. Lagi-lagi, bus mogok. Memang hanya beberapa menit mati mesin, namun kejadian itu berulang-ulang hingga tujuh kali selama perjalanan.

Akibatnya, perjalanan ke Sumenep molor hingga dua jam. Seharusnya hitungan saya, sampai di Suemenep sekitar pukul 02.00 WIB. Karena kendala bus, akhirnya sampai di Sumenep pukul 04.00 WIB.

Gempa berkekuatan 4,8 Skala Richter (SR) menggoyang Sumenep, Jawa Timur, Rabu (13/6/2018) sekitar pukul 20.06 WIB. (BNPB)

Sesampainya di terminal Sumenep, saya sempat bingung bagaimana caranya bisa sampai di Pelabuhan Kalianget karena pagi itu tidak ada transportasi sama sekali. Namun kalau rejeki memang tidak akan kemana.

Pagi itu saya kebetulan bertemu dengan seorang laki-laki asal Kota Blitar. Dia menyapa saya dan menanyakan tujuan saya. Tanpa curiga saya pun memberitahukan tujuan saya. Alhamdulilah, lelaki itu menawarkan tumpangan karena tujuan saya satu arah dengan tujuannya.

Saya sampai di Pelabuhan Kalianget bersamaan dengan suara Adzan Subuh. Sesampainya di sana saya langsung mengecek jadwal kapal. Naas, ternyata jadwal kapal tidak ada. Akhirnya saya putuskan untuk bertanya ke Polsek Kalianget yang jaraknya tidak jauh dari pelabuhan.

Di situlah saya baru mendapatkan kepastian bahwa memang tidak ada jadwal kapal yang akan menyeberang ke Pulau Sapudi. Pak polisi melihat saya kasihan, hingga akhirnya saya dibantu untuk mencari kapal di pelabuhan lain, ternyata hasilnya sama.

Baca Juga: Kisah Nenek Sunati, Tertimbun Reruntuhan Gempa Pulau Sapudi

Solusi pun diberikan ke saya. Jalan satu-satunya untuk bisa ke Pulau Sapudi harus pindah ke Pelabuhan Dungkek yang jarak tempuhnya satu jam dari Pelabuhan Kalianget.

Gempa berkekuatan 4,8 Skala Richter (SR) menggoyang Sumenep, Jawa Timur, Rabu (13/6/2018) sekitar pukul 20.06 WIB. (BNPB)

Akhirnya saya putuskan pergi ke Pelabuhan Dungkek. Polisi masih membantu saya dengan mengantarkan saya ke jalan raya. Sesampainya dijalan raya, saya dicarikan tumpangan mobil angkutan, ternyata tidak ada sama sekali angkutan yang ke arah Pelabuhan Dungkek. Pada akhirnya, saya dititipkan pengendara motor yang kebetulan warga Dungkek.

Ganasnya ombak

Tepat pukul 06.00 WIB saya menginjakkan kaki di Pelabuhan Dungkek, Kabupaten Sumenep Madura. Saya memberanikan diri bertanya pada pemilik warung sebelah laut. Kalu gak salah denger, namana Bu Wati. Saya tanyakan jadwal pemberangkatan kapal jam berapa? Bu Wati menjawab, adanya jam 10.00 WIB-11.00 WIB.

Namun Bu Wati mengkoreksi pertanyaan saya. Katanya, disini bukan kalap tapi perahu kecil yang akan berangkat ke sana. "Kalau kapal besar berangkatnya di Pelabuhan Kalianget," tegasnya.

Saya sejenak terdiam. Mendadak keringat saya keluar dari pori-pori kulit. Perasaan takut sudah mulai membayangi. Dalam hati saya berkata, apa gak salah menyeberang ke Pulau Sapudi menggunakan kapal kecil yang jarak tempuhnya kurang lebih 4-5 jam perjalanan.

Saya mecoba melawan kekhawatiran saya dengan menghisap sebatang rokok sabil memesan secangkir kopi. Ternyata kopi dan rokok bukan solusi untuk menenangkan pikiran saya. Maklum, ini adalah pengalaman pertama saya menyeberang laut lepas menggunakan perahu.

Sampai akhirnya saya memutuskan memesan nasi dengan banyak lauk. Saya pesan satu porsi nasi gule tambah telur, tambah ayam dan tambah daging. Untuk minuman, saya memilih air putih saja.

Setelah perut saya kenyang, saya berharap tidak berfikir yang aneh-aneh ketika di atas perahu. Namun tetap saja, nasi dengan banyak lauk ternyata juga tidak menjadi solusi.

Akhirnya, daripada pikiran kacau, saya memutuskan segera berangkat dengan menyewa perahu. Dan kebetulan ada empat orang dari yayasan yang bertujuan sama.

Saya pun berangkat. Lima menit pertama, kondisi saya masih fit meski pikiran saya kacau. 15 menit kemudian keringat di sekujur tubuh mulai keluar bersamaan. Saya mulai ketahutan,

Saya mencoba melawan rasa takut itu, sedikit berhasil. Satu jam pertama saya masih bisa duduk dengan tenang dan mengikuti ritme ombak laut yang makin menggila.

Namun lima menit kemudian, tubuh saya sudah tidak kuat lagi. Mata mulai berkunang-kunang, nasi yang terlanjur masuk dalam perut berusaha memaksa keluar. Akhirnya saya putuskan untuk merebahkan tubuh yang sudah tak berdaya ini.

Saya tarik tas perlahan-lahan untuk saya jadikan bantal. Saya mencoba memejamkan mata dan terus berdoa agara dijauhkan dari musibah selama perjalanan. Sampai akhirnya saya tertidur dan tidak lagi melihat deburan ombak.

Ketika mata saya terbuka, ternyata Pulau Sapudi sudah ada di depan saya. Saya bergegas bangun dan mencoba menikmati indahnya pantai Pelabuhan Sokorami, Kecamatan Nonggunung, Kabupaten Sumenep.

Saya pun menyapa, "Selamat datang Pulau Sapudi".

Kontributor : Achmad Ali

Load More