Suara.com - Pesawat Qatar belum 30 menit lepas dari Doha - menuju Baghdad, Ibukota Irak, saat pramugari tiba-tiba mendekat. "Ngapain ke Irak. Bahaya, serem," kata dia sambil tersenyum. Saya lirik nama di dadanya, Dyah. Pantas fasih berbahasa Indonesia. Saya balik bertanya. “Mbak kenapa mau setiap hari ke Baghdad. Katamu serem?”.
“Saya kan gak turun, langsung balik Doha,” kata Dyah. Penerbangan Doha - Baghdad ditempuh kurang lebih 2 jam.
Penasaran seperti apa Kota Baghdad, setelah usai hiruk pikuk terlibat perang saudara termasuk perang dengan ISIS.
Keluar bandara internasional Irak, paling mencolok kehadiran tentara bersenjata lengkap ada di setiap ujung jalan, memeriksa satu persatu kendaraan. Pos pemeriksaan atau check points berlapis, semua mobil meninggalkan kawasan bandara diperiksa ketat, penumpang diminta turun dan digeledah satu persatu. Beruntung tidak banyak kendaraan lalulalang, jadi tidak antre panjang.
Semakin mendekati kota Bangdad, pos pemeriksaan oleh tentara semakin banyak dan jaraknya kian pendek. Tidak sampai beberapa kilometer, sudah ada pos pemeriksaan lagi. Beruntung, mendapat tumpangan mobil diplomatik milik kedutaan RI di Irak, jadi lancar saat melewati banyaknya pemeriksaan.
"Masih ada bom meledak," tanyaku. "Di pinggiran kota masih ada, tapi tidak sebanyak dulu," kata Sulaiman sopir warga Baghdad yang membawa kami masuk kota Baghdad. Sayang tidak diperbolehkan ambil gambar di setiap pos pemeriksaan. "Bisa panjang masalahnya kalau ketahuan ambil gambar," kata sang sopir.
Jarak bandara dengan Kota Banghdad tidak terlalu jauh, namun membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Paling lama tersita menjalani pemeriksaan kendaraan saat melewati pos-pos jaga. Selain itu, mobil yang kami tumpangi antipeluru, jadi agak berat jalannya. "Tidak bisa kencang,” kata dia.
Kota Baghdad sebagai Kota 1001 malam ini terkesan menjadi Kota 1001 Cek Poin, karena ketatnya pemeriksaan di mana-mana.
Memasuki Baghdad, sejumlah gedung mulai dibangun. Tidak ada bekas peperangan yang mencolok. Bahkan rumah dan bangunan terlihat normal. Satu-satunya yang sangat terasa di Baghdad adalah banyaknya bangunan dan kawasan yang tertutup tembok beton tebal.
“Itu namanya T-Wall atau Bremer Wall, sesuai nama perancang L Paul Bremer. Tembok setinggi 3,7 meter ini berbentuk T terbalik yang diproduksi usai perang Irak. Tembok itu anti peluru, kalau dibom hanya kena di luar, tetapi tidak jebol,” kata Sulaiman. Hampir semua warga dan perkantoran memasang tembok tersebut.
Di mana lokasi untuk dapat melihat bekas-bekas gedung runtuh bekas perang atau bekas pemboman? Ternyata sulit menemukannya. Alasan warga, bom atau ledakan sudah menjadi kebiasaan di Baghdad, ledakan bukan hal aneh. Bagi mereka bila terjadi ledakan, satu hingga dua jam sempat ribut, namun langsung dibersihkan sehingga tidak ada bekas-bekasnya. “Dua jam sudah kembali normal dan tidak kelihatan ada bekas ledakan,” kata Sulaiman, warga setempat.
Meski jalanan terkesan serem, banyak pos-pos pemeriksaan oleh tentara bersenjata lengkap, geliat kehidupan warga Iran tampak mulai normal. Selain terlihat pembangunan gedung - gedung, salah satu simbol kemajuan di Irak adalah aktivitas pusat perbelanjaaan mulai ramai misalnya, menghadiri mall terbesar Al Mansour Mall, atau yang baru saja berdiri Bagdhah Mall. Juga pasar tradisional dan sejumlah tempat ziarah yang ramai dikunjungi warga.
Aktibitas juga ramai di sepanjang Sungai Trigis yang membelah Baghdad. Bila malam libur, dengan libur Jumat dan Sabtu, banyak anak muda nongkrong di atas jembatan. Juga makan ikan bakar yang terkenal, namanya ikan bakar "Masguf". Konon ikan bakar Masguf yang dibudidaya di sepanjang Sungai Trigis.
Ziarah termasuk aktivitas yang paling ramai. Dua lokasi yang sering menjadi tujuan masyarakat adalah Makam Syech Abdul Kadir Jaelani dan Makam Imam Musa Al Kadhim di Kadhimiah.
Kawasan yang sulit masuk bagi warga biasa adalah Green Zone. Di situlah lokasi pusat pemerintahan, termasuk obyek vital, termasuk kedutaan asing. Markas Amerika, sekitar Kedutaan Amerika Serikat paling fenomemal, karena menempati luas belasan hektar sehingga mirip kota dalam kota.
Berita Terkait
-
Israel Bersiap Lawan Iran Lagi, Menanti Restu dari AS
-
AS Siapkan Serangan di Selat Hormuz Jika Perundingan Damai dengan Iran Menemui Jalan Buntu
-
Satu Komando Lawan Agresi: Balasan Menohok Iran atas Retorika Pecah Belah Donald Trump
-
Kenapa Konflik Iran Vs Amerika-Israel Bisa Acak-acak Festival Musik di Indonesia?
-
AS Sebar Informasi Wajah Mojtaba Khamenei Terbakar hingga Sulit Bicara, Benarkah?
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Arab Saudi Belasungkawa Gugurnya Prajurit TNI Praka Rico Pramudia Akibat Serangan Israel
-
Misi Militer Penuh Ironi: Teknisi AS Dicakar Monyet Saat Menuju Medan Konflik Selat Hormuz
-
Benjamin Netanyahu Akui Sempat Jalani Terapi Kanker Prostat Diam-diam
-
Mahasiswa Doktoral USF Tewas Misterius, Diduga Dibunuh Teman Sekamar
-
Penasihat Hukum Nadiem Mangkir dari Sidang, Pengamat: Bisa Dikategorikan Contempt of Court
-
8 Orang Tewas Dalam Serangan Israel ke Lebanon Selama 24 Jam Terakhir
-
Biaya Perang Amerika Serikat Lawan Iran Tembus Rp 1.000 Triliun
-
Ketum Parpol Dibatasi 2 Periode, Eks Penyidik KPK: Cegah Kekuasaan Terlalu Lama dan Rawan Korupsi
-
Kawat Berduri Blokade Anak-anak Palestina Sekolah ke Tepi Barat
-
Praka Rico Gugur Usai Dirawat, Korban Kedua TNI dalam Serangan ke Pos UNIFIL Lebanon