Suara.com - Menurut survey yang dilakukan Kementerian Pertanian bersama FAO Indonesia pada 2017 lalu di 3 sentra produksi unggas (Jawa Barat, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan), penggunaan antimikroba pada sektor peternakan masih sangat tinggi.
"Hasilnya cukup mencengangkan, 81.4% peternak menggunakan antibiotik pada unggas untuk pencegahan, 30.2% peternak menggunakan antibiotik untuk pengobatan serta masih ada 0.3% yang menggunakan untuk pemacu pertumbuhan," kata Kasubdit Pengawas Obat Hewan, Kementerian Pertanian, Ni Made Ria Isriyanthi di Malang beberapa waktu lalu.
Selama ini, peternak dianggap sebagai salah satu pengguna antibiotik yang cukup tinggi dan berkontribusi dalam mempercepat perkembangan dan penyebaran resistensi antibiotik kepada keluarga dan masyarakat.
Karena penggunaan antibiotik yang tidak bijak di kalangan para peternak itulah, pemerintah melalui Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No 14/2017, telah melarang penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan (Antibiotic Growth Promotor/AGP) pada pakan ternak dan efektif berlaku per Januari 2018.
Senada dengan Ria, Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia yang juga komisi ahli Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Tri Satya Putri Naipospos, menyampaikan bahwa pada 2010, Indonesia merupakan negara nomor 5 pengonsumsi antibiotik tertinggi di dunia.
Tanpa adanya upaya pengendalian, kata Tri, posisi Indonesia dapat menanjak ke posisi empat pada 2030 mendatang. "Karena populasi ternak kita cukup tinggi. Apalagi untuk unggas," sebutnya.
Tri Satya juga menyarankan agar para peternak menggunakan AGP alternatif diantaranya probiotik, prebiotik, asam organik, minyak esensial atau enzim.
Namun yang tidak kalah penting, Ni Made Ria menambahkan kalau peternak harus mau menerapkan biosekuriti tiga zona dan beternak dengan bersih, termasuk melakukan vaksinasi dengan tepat. "Antibiotik tetap boleh digunakan. Tapi hanya untuk pengobatan dan diberikan oleh dokter hewan serta digunakan sesuai dengan petunjuknya", pungkas Ria.
Saat ini para peternak yang tergabung dalam Pinsar Petelur Nasional (PPN) Cabang Jawa Timur, Pinsar Indonesia Cabang Jawa Timur dan Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) serta Komunitas Peternak Ayam Indonesia telah menyatakan dukungannya terhadap upaya pengendalikan resistensi antibiotik.
Baca Juga: OTT Bupati Pakpak Bharat Terkait Proyek di Dinas Pekerjaan Umum
Berita Terkait
-
Ekspor Kopi RI Mau Digenjot 2,5 Kali Lipat, Target Rp100 Triliun!
-
Kementan Akan Tindak Tegas Mafia Minyak Goreng
-
Kementan Pastikan Stok Daging Sapi Aman Jelang Idul Adha 2026
-
Ambisi Swasembada Gula 2028 Terganjal Mesin Tua dan Kiamat Lahan
-
Harga Tembus Rp100 Ribu di Ramadan, Kementan Guyur 1,7 Ton Cabai ke Pasar Induk Kramat Jati
Terpopuler
- Parfum Paling Wangi Rasa Apa? Ini 5 Rekomendasi Aroma yang Populer
- 5 Rekomendasi Lipstik Wardah untuk Usia 40-an yang Elegan, Nyaman di Bibir dan Awet
- 5 HP Samsung Galaxy A Series Termurah: Layar Super AMOLED, 5G hingga NFC
- Pesaing Vario 125 dari Yamaha, Tampang Bernuansa R1M
- 5 Parfum Wanita Terbaik untuk Acara Malam, Wanginya Elegan dan Memikat
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Pulau Panggang Krisis BBM, Nelayan Terancam Tak Bisa Melaut
-
Misteri Pembunuhan di Ruangan Tertutup dalam Novel Everything Becomes F
-
Panut Rilis Buku Otobiografi, Tegaskan Komitmen Kawal Benteng Hijau Sumatra
-
Perjalanan Putra Samuel Silitonga Dikenal Jutaan Penonton Berkat Sosok Mumu Warintil
-
Cluster Beverly Hills Resmi Show Unit, Tawarkan Hunian American Classic di Semarang
-
Mau ke Monas Malam Ini? Simak Rekayasa Lalu Lintas dan Titik Parkir Konser Akbar 2026
-
Dua Mahasiswa Diduga Jadikan Instagram Lapak Tembakau Sintetis
-
Pelatih Spanyol Lebih Takut Naik Helikopter Dibanding Lawan Lionel Messi di Final Piala Dunia 2026
-
Kanker pada Perempuan Kini Bisa Ditangani Lebih Personal, Terapi Presisi Bawa Harapan Baru
-
Dari Propaganda hingga Pengawasan: Mengapa 1984 Tetap Relevan di Zaman Digital