Suara.com - Seorang guru SD, Zainul Abidin (35) menjadi tukang ojek online karena gajinya sebagai guru kurang. Ngojek dilakukan Zainul saban hari setelah mengajar.
Siang cukup terik, Zainul baru saya pulang dari sekolah tempatnya mengajar. Mesin sepeda motor milik guru olahraga ini belum juga dingin. Lelah setengah hari di sekolah belum juga hilang.
Namun warga Dusun Wersah, Kelurahan Kepanjen, Jombang Kota ini buru-buru berganti pakaian. Dia mengenakan jaket hitam kombinasi hijau. Ya, seragam seorang guru berubah menjadi seragam tukang ojek online (ojol).
Sejurus kemudian Zainul keluar dari rumah dan menghidupkan sepeda motor matik miliknya. Guru SDN Jelakombo 2, Kecamatan Jombang ini menggeber sepeda motor itu. Dia menyusuri jalanan kota, membelah padatnya jalan raya.
Zainul baru berhenti ketika kendarannya sampai di halte depan LP (Lembaga Pemasyarakatan) Jombang. Motor diparkir, Zainul kemudian duduk di halte tersebut sembari menunggu orderan. Sementara tangan pria paruh baya ini tak lepas dari smartphone miliknya.
Beberapa saat kemudian, smartphone tersebut berkedip-kedip, pertanda sebuah pesan masuk. Zainul senang bukan kepalang karena orderan yang ditunggu akhirnya datang. Guru honorer ini kembali menghidupkan sepeda motornya, menjemput penumpang yang sudah menunggu di timur alun-alun Jombang.
"Lumayan sudah dapat penumpang, meski hanya dalam kota. Tarifnya empat ribu rupiah. Ini aktifitas saya sehari-hari selain menjadi guru honorer," kata Zainul memulai kisahnya, Minggu (25/11/2018).
Zainul menceritakan, dia masuk menjadi guru honorer di SDN Jelakombo 2 sejak 2004, yakni selepas lulus dari IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Kediri. Saat itu gaji yang diterima Zainul hanya Rp 50 ribu per bulan. Di sekolah itu, Zainul mengampu sebagai guru olahraga.
Seiring laju waktu, gaji yang diterima terus bertambah. Hingga saat ini Zainul menerima gaji Rp 500 ribu setiap bulan. Namun demikian, besaran gaji tersebut jauh dari kata cukup. Betapa tidak, Zainul harus menghidupi seorang istri dan satu anak.
Baca Juga: Merasa Terhina, Sopir Ojek Online di Jatim Protes Ucapan Prabowo
Untuk menambal kebutuhan ekonominya, guru olahraga ini harus memutar otak. Gayung pun bersambut, sejak setahun terakhir, ojek online masuk kota Jombang. Zainul kemudian mendaftar sebagai driver atau pengemudi.
Sejak itu, bapak satu anak ini memiliki dua kesibukan. Pagi hingga siang menjadi guru, sementara siang hingga malam menjadi tukang ojek online. "Hanya untuk kerja sambilan. Pekerjaan utama tetap sebagai guru. Untuk menambah penghasilan. Karena guru honorer gajinya sangat kecil," kata Zainul dengan suara berat.
Berapa penghasilan sebagai tukang ojek? Zainul mengungkapkan, selama menjadi tukang ojek, dirinya menargetkan pendapatan Rp 50 ribu per hari. Sehingga jika dirata-rata, guru olahraga ini mendapatkan pemasukan tambahan Rp 1,5 juta per bulan. Penghasikan alternatif tersebut sangat membantu agar dapurnya tetap ngebul.
"Kalau dirata-rata sebulan bisa mencapai Rp 1,5 juta. Tapi kadang saat sepi bisa di bawah besaran tersebut. Namun yang pasti ini sangat membantu ekonomi keluarga saya," kata Zainul merinci.
Suami dari Ani Sukarsih ini mengakui, kesejahteraan guru honorer masih terpuruk. Ibarat api yang jauh dari panggang. Tentu saja, hal itu tidak berbanding lurus dengan jasa guru yang mengajari murid hingga menjadi pandai. Bahkan lebih ironis, gaji guru honorer jauh di bawah penghasilan buruh pabrik.
Oleh sebab itu, tepat peringatan Hari Guru Nasional yang jatuh pada 25 November ini, Zainul berharap pemerintah memberikan perhatian lebih. Yakni dengan meningkatkan kesejahteraan pahlawan tanpa tanda jasa tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional
-
33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi
-
Hantavirus: Antara Risiko Global di MV Hondius dan Kesiagaan di Pintu Masuk Indonesia
-
Jelaskan Istilah Mitra dengan Homeless Media, Bakom RI Beri Kronologi Pertemuan bersama INMF
-
Kaesang Lantik Pengurus DPW PSI Papua Tengah, Nama Jokowi Diteriakkan
-
Ada Kasus Pencabulan Anak di Balik Kasus Narkoba Etomidate WNA China
-
Pemerintah Bahas Pengelolaan Kepegawaian dan Keuangan Daerah
-
Wamendagri Bima: Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah Penting dalam Penyusunan RKP
-
Geruduk DPRD DKI, Aktivis Endus 'Bau Busuk' Dugaan Korupsi Proyek RDF Rorotan Rp 1,3 Triliun
-
Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara