Aklima menuturkan, orang bersorban itu menarik tangannya dan menyelamatkan ke gunung. Lelaki bersorban itu menolongnya, dan berpesan supaya tidak melihat ke belakang. Orang bersorban itu menghilang setelah menolong Aklima dan Maulidina.
"Hari itu kami sangat ketakutan dan menyangka itulah yang dinamakan kiamat," kata Aklima.
Hari beranjak sore ketika itu. Pukul 17.00 WIB, air laut yang menerjang kampungnya surut. Tapi setelahnya, air laut kembali pasang dan menerjang lagi.sekitar pukul 5 petang air pun surut namun bersamaan dengan itu pula air laut kembali pasang.
Aklima merasa harus kembali, tapi ke mana? Sementara rumahnya telah tiada, perkampungan telah hamparan tanah kosong, listrik padam, manyat bergelimpangan di mana-mana.
"Mulai hari itu kami mencoba menjalani kehidupan di hutan, makan pisang, kelapa, bahkan batang pisang.”
Terkadang, Aklima dan penduduk yang selamat terpaksa harus menangkap sapi-sapi yang selamat saat musibah untuk disembelih. Sementara untuk air minum, mereka mengambilnya dari kubangan bekas kerbau mandi.
Sapi-sapi itu kemudian dipanggang tanpa lebih dulu dicuci dan tanpa garam. mencuci dan tanpa garam. Setelah masak, lalu diletakkan di pinggir jalan, dengan harapan, siapa pun yang lapar bisa menikmatinya.
Pada hari kedua setelah tsunami, Aklima mulai mencari sang suami. Tapi, saat itulah ia tahu, dari 300 orang kampungnya yang menyelamatkan diri ke masjid, hanya 7 orang selamat.
"Kami naik turun antara satu gunung ke gunung lainnya melintasi hutan yang ditumbuhi rotan dan duri-duri, dan Alhamdulillah, Allah SWT menyelamatkan kami," katanya.
Baca Juga: Geisha Butuh Seminggu Aransemen 2 Lagu Nike Ardilla
Aklima betul-betul masih mengingat, ketika itu, di antara para pengungsi, ada seorang perempuan hamil tua hendak melahirkan, padahal hari sudah malam di hutan.
Akhirnya, Aklima dan yang lain terpaksa membawa ibu hamil itu ke sebuah gua, yang disebut warga setempat sebagai Guha Rimung.
"Persalinan yang berlangsung malam itu pun terlaksana hanya dengan menggunakan peralatan parang. Gua Rimung itu sebenarnya banyak pacet yang mengisap darah," kata Aklima.
Sepekan berada di belantara hutan, datanglah helikopter-helikopter. Tapi, helikopter militer itu tampak tak berani mendarat. Sebab, Aceh masih dalam keadaan perang.
Aklima dan penduduk lain lantas memberikan kode kepada helikopter-helikopter itu, dengan melambaikan kain merah ke udara.
Beruntung, helikopter milik TNI itu mengenali kode tersebut dan melemparkan air minum, makanan dari udara.
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Demo Mahasiswa di Bulan Ramadan, Polisi Turunkan Tim Sholawat untuk Pengamanan
-
Polemik Akses Musala di Cluster, Pengembang Buka Suara Usai Diusir Komisi III DPR
-
Negosiasi AS-Iran Gagal! Ancaman Perang Bisa Terjadi dalam 15 Hari ke Depan
-
AS Evakuasi Staf dan Warganya dari Israel, Isu Perang dengan Iran Memanas
-
Mengurai Krisis Dokter Spesialis di Indonesia: Di Mana Letak Masalahnya?
-
Sekolah Swasta Gratis di Semarang Bertambah Jadi 133, Jangkau Lebih Banyak Siswa
-
Anies Baswedan Soroti Dinasti Politik: Pemerintah Harusnya Bekerja untuk Rakyat, Bukan Keluarga!
-
Anies Baswedan Beri Restu: Ormas Gerakan Rakyat Resmi Jadi Partai, Apa Langkah Selanjutnya?
-
Terbongkar! Hutan Kota Cawang Jadi Sarang Aktivitas Asusila, Pemkot Gerebek dan Segel Lokasi
-
Tolak Ambang Batas Parlemen, Partai Gerakan Rakyat Usul PT 0 Persen: Jangan Ada Suara Mubazir!