Suara.com - Pesta demokrasi Pemilu 2019 baru saja berlangsung 17 April lalu. Kini, masyarakat tengah menanti hasil akhir proses perhitungan hasil pemilu oleh KPU.
Di Jakarta, pasangan petahana Joko Widodo-Ma'ruf Amin maupun rival politik mereka Prabowo Subianto-Sandiaga Uno tengah menanti hasil kampanye mereka selama kurang lebih delapan bulan. Sementara, di daerah-daerah ratusan nyawa petugas KPPS melayang dan ribuan lainnya masih dalam perawatan.
Komisioner KPU Viryan Aziz mengatakan, hingga kini jumlah petugas KPPS yang meninggal berjumlah 225 orang. Sementara ada 1.470 orang anggota KPPS sakit.
Suryadi selaku anggota KPPS asal Desa Tridadi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta menceritakan kisahnya menjadi anggota KPPS untuk kesekian kalinya, kepada Suara.com. Ia mengakui tugas KPPS tahun ini lebih melelahkan.
"Dulu terpisah antara caleg dan presiden, sehingga tidak terlalu berat. Untuk tahun ini digabung, sehingga menjadi capek lah," kata Suryadi kepada Suara.com saat ditemui di rumahnya, Kamis (25/04/2019).
Suryadi mencoba mengulas hari-hari sebagai petugas KPPS di Pemilu 2019 ini. Persiapan pemungutan suara telah dimulai sejak Minggu (14/04/2019). Hari itu, para petugas TPS 20 Tridadi, Sleman, yang berjumlah tujuh orang telah mulai menulis undangan. Setelah itu, mereka mengantarkan surat-surat tersebut kepada para pemilih.
Lalu di hari berikutnya, mereka mulai menyiapkan lokasi TPS. Tugas mereka berakhir pada 18 April 2019 pukul 02.00 WIB, saat penghitungan suara telah selesai dan lembar C1 telah dilaporkan.
Suryadi mengatakan, ada sekitar 230 pemilih di TPS 20. Semua undangan ditulis secara manual. Sebelumnya, para anggota KPPS juga mengikuti sosialisasi yang dilakukan dua kali di Kantor Pedukuhan.
Untuk kerja keras selama beberapa hari itu, Suryadi mengaku hanya mendapatkan honor senilai Rp 470 ribu. Baginya jumlah itu tidak masalah, sebab ia memang berniat untuk membantu Pak Dukuh di desanya.
Baca Juga: Update KPU: 225 Petugas KPPS Meninggal Dunia dan 1.470 Orang Sakit
Namun, tidak begitu bagi anggota KPPS lainnya. Menurutnya, sebagian anggota KPPS mengandalkan gaji harian. Selama bertugas, para petugas praktis tidak bekerja. Mereka fokus pada proses persiapan dan pemungutan suara. Belum lagi hari-hari yang mereka gunakan untuk beristirahat pasca-kelelahan bertugas.
"Setelah itu untuk istilah saya 'nyaur utang kesel' (bayar utang lelah) itu kan tidak hanya sehari. Yang saya rasakan itu kan harus dua hari tiga hari. (Mereka) itu kasihan berharap banyak dari honor itu," ungkap Suryadi.
Honor Telat
Selain jumlahnya tak seberapa, para anggota KPPS juga dikecewakan oleh terlambatnya pemberian honor. Padahal, tugas yang diemban telah selesai. Menurut dia, hal ini tidak terjadi pada pemilu-pemilu sebelumnya. Bahkan, ia sempat mengalami masa honor diberikan sebelum pemungutan suara berlangsung.
Suryadi bersyukur kerja melelahkan itu kini telah usai. Pemungutan suara di wilayahnya berjalan dengan lancar. Kondisinya saat bertemu Suara.com relatif sehat. Ia mengaku melakukan persiapan fisik sebelum bertugas dengan olahraga yang sesuai usia.
"Saya yang masih mampu cuma pingpong sama renang," kata dia.
Berita Terkait
-
Update Real Count KPU Jumat Pagi: Jokowi 56,07% - Prabowo 43,93%
-
39 Petugas Pemilu Meninggal, KPU Jateng Gelar Salat Gaib Hari Ini
-
Zulkifli Hasan ke Istana, PAN Pertimbangkan Alihkan Dukungan ke Jokowi
-
Update KPU: 225 Petugas KPPS Meninggal Dunia dan 1.470 Orang Sakit
-
Timses Jokowi Akan Buktikan Kecurangan Pilpres 2019 Dilakukan Kubu Prabowo
Terpopuler
- 5 HP Terbaru 2026 Baterai Jumbo 10.000 mAh: Tahan 3 Hari, Performa Kencang
- Promo Indomaret Hari Ini 1 Mei 2026, Dapatkan Produk Hemat 30 Persen
- Promo Alfamart Hari Ini 2 Mei 2026, Menang Banyak Diskon hingga 60 Persen Kebutuhan Harian
- 5 Rekomendasi Sepeda Wimcycle Termurah untuk Dewasa, Solusi Olahraga Hemat
- 5 Cushion Waterproof dan Tahan Lama, Makeup Awet Seharian di Cuaca Panas
Pilihan
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
Terkini
-
Dokter Magang di Jambi Meninggal Diduga Kelelahan, MGBKI Kritik Adanya Kegagalan Sistem
-
Wamendagri Bima: Generasi Muda Harus Siap Pimpin Indonesia Menuju Negara Maju
-
Wamendagri Bima Arya Nilai Pacitan Berpotensi Jadi Kota Wisata Unggulan
-
Groundbreaking Mapolda DIY, Kapolri Dorong Pelayanan Polisi Berbasis AI dan Data
-
Siapa yang Salah? Polisi Periksa 31 Saksi Terkait Kecelakaan Beruntun KRL vs Argo Bromo
-
Dukung Asta Cita Prabowo, TNI dan Masyarakat Tanami Jagung Lahan 2 Hektare di Cibeber
-
MBG Tak Boleh Anti Kritik, APPMBGI Usul BGN Bentuk Tim Independen Awasi Program
-
Meski Masih Macet, Jakarta Dinobatkan Jadi Kota Teraman Nomor 2 di ASEAN
-
Bantargebang Dibatasi Mulai 1 Agustus, Pramono Segera Temui Menteri LH Bahas Sampah
-
Cuma Jadi Penyerap Dampak Konflik, Indonesia dan ASEAN Dinilai Tak Punya Daya Tawar