News / Nasional
Senin, 09 September 2019 | 22:43 WIB
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sampaikan pidato kontemplasi. (Suara.com.Tio)

Suara.com - Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan harapannya untuk sistem politik di Indonesia. SBY menilai sistem one person one vote atau satu orang satu suara tidak lagi relevan dengan keadaan politik Indonesia saat ini.

Hal itu disampaikan SBY dalam pidato kontemplasi di acara peringatan tiga momen; ulang tahun ke-70 SBY, HUT ke-18 Partai Demokrat, dan 100 hari wafatnya Ani Yudhoyono di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Senin (9/9/2019) malam.

"Demokrasi tak harus selalu diwarnai dan diselesaikan dengan “one person one vote”, tapi juga ada semangat yang lain. Kompromi dan konsensus yang adil dan membangun bukanlah jalan dan cara yang buruk," kata SBY di Pendopo Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Senin (9/9/2019).

Presiden ke-6 RI itu juga menyebut pemenang Pemilu tidak serta merta bisa mengambil seluruh kekuasaan di Indonesia sebab karakter masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang majemuk.

"Prinsip 'the winner take all' yang ekstrim seringkali tidak cocok dengan semangat kekeluargaan dan keterwakilan bagi masyarakat dan bangsa yang majemuk," ucapnya.

"Esensinya, ke depan, politik kita harus makin menjadi politik yang baik bagi bangsa yang majemuk," tandas SBY.

Dalam pidatonya, SBY menyampaikan tiga hal penting yang menjadi pokok pikirannya bagi bangsa Indonesia saat ini mengenai "Masyarakat yang baik”, “Ekonomi yang baik” dan “Politik yang baik".

Ketiga poin ini diharapkan SBY bisa menjadi salah satu acuan bagi presiden terpilih Joko Widodo dalam memimpin bangsa Indonesia periode 2019-2024.

Baca Juga: Politikus Demokrat Ungkap Ulah Nakal Fans Malaysia di Stadion

Load More