Dwi Bowo Raharjo | Stephanus Aranditio
Rabu, 09 Oktober 2019 | 23:22 WIB
Mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia Dato Anwar Ibrahim menghadiri acara takziah di rumah Presiden ke-3 RI, Almarhum Bacharuddin Jusuf Habibie di Patra Kuningan, Jakarta Selatan pada Rabu (9/10/2019) malam. (Suara.com/Tyo)

Suara.com - Mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia Dato Anwar Ibrahim menghadiri acara takziah di rumah Presiden ke-3 RI, Almarhum Bacharuddin Jusuf Habibie di Patra Kuningan, Jakarta Selatan pada Rabu (9/10/2019) malam. Hari ini merupakan 28 hari setelah BJ Habibie wafat.

Pemimpin Parti Keadilan Rakyat (PKR) hadir bersama lima oranf delegasi dari Malaysia di kediaman Habibie sekitar pukul 20.00 WIB dan disambut oleh kedua putra Habibie, Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie.

Dalam testimoninya, Anwar Ibrahim bercerita bahwa keduanya kerap saling bertukar pikiran mengenai beberapa hal, sesuai dengan minat keilmuan masing-masing.

"Puluhan jam diskusi soal etika, pemerintahan dan sejarah Indonesia. Kalau bicara sejarah saya menang, kalau bicara sains saya kalah. Saya banyak belajar bahwa Pak Habibie teliti," kata Anwar di Patra Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (9/10/2019).

Anwar mengaku kerap kalah berdebat dengan Habibie, terlebih jika membahas soal sains. Ketika kalah berdebat dengan Habibie, ia akan meninggikan nada bicaranya.

Anwar mengakui Habibie bukanlah sosok politisi yang hanya pernah menjabat sebagai presiden ke-3 RI, melainkan sudah dianggap sebagai negarawan.

"Bagi saya saya terus terang pak Habibie tidak sebagai seorang politisi. Dia seorang negarawan tetapi di akhir khayatnya memberikan suatu kesan tentang kerukunan hidup keluarga, kecintaan dan kasih dengan luar biasa," ucapnya.

Mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia Dato Anwar Ibrahim menghadiri acara takziah di rumah Presiden ke-3 RI, Almarhum Bacharuddin Jusuf Habibie di Patra Kuningan, Jakarta Selatan pada Rabu (9/10/2019) malam. (Suara.com/Tyo)

Lebih lanjut, Anwar menyebut Indonesia beruntung pernah dipimpin oleh Habibie sebagai seorang teknokrat.

"Dia bergerak dari hati nurani. Dimensi manusiawi dan pembebasan politik dan melakukan reformasi dari awal. Habibie bukan aktivis. Dia ikhlas menyatakan harus melakukan dan mengusahakan perubahan," tegasnya.

Bahkan, Anwar khawatir istrinya Wan Azizah Wan Ismail meminta dirinya untuk menjadi seperti Habibie setelah membaca kisah rumah tangga dalam buku Habibie & Ainun.