Suara.com - Sutradara kenamaan Fajar Nugros menyinggung Revolusi Mental saat membahas banjir di Jepang yang bersih. Hal ini disampaikannya melalui cuitan Twitter yang diunggah pada Selasa (15/10/2019).
Jepang baru saja terkena Topan Hagibis yang menciptakan banjir dan hujan lebat. Banjir di sana menarik perhatian Fajar Nugros karena tidak terlihat sampah yang ikut terbawa arus air.
"Banjir di Jepang yang bersih, mestinya bikin kita, Pemerintah, Pemuka Agama, mulai berpikir ada yang luput diajarkan kah?" tulis @fajarnugros.
Sutradara film Jakarta Undercover ini kemudian menyinggung Revolusi Mental, program Presiden Joko Widodo atau Jokowi.
"Dulu ketika Jokowi canangkan REVOLUSI MENTAL, aku pikir hal-hal dasar yang akan kita sepakati/ tanamkan ulang: soal antri, soal hak pejalan kaki, soal buang sampah, soal jalan di eskalator, soal hemat air, soal membuang sampah bioskop atau resto fast food, soal toleh kanan sebelum belok," tulis Fajar.
Fajar Nugros awalnya punya bayangan sendiri tentang program pemerintah itu. Tapi pada akhirnya dia merasa aneh. Dia berpikir Presiden akan bicara di TV Nasional soal apa saja yang harus kita revolusi dan mental seperti apa yang ditanamkan.
"Masak saat dilantik sudah bersumpah dengan kitab suci, masih harus tandatangan PAKTA INTEGRITAS untuk TIDAK KORUPSI? Mental macam apa itu? Aneh," imbuhnya.
Dilansir dari laman kominfo.go.id, Revolusi Mental adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala. Gagasan ini digagas oleh Presiden Soekarno pada Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1956.
Awalnya, frasa ini merupakan jargon yang diusung presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) sejak masa kampanye Pemilu Presiden 2014.
Baca Juga: Korban Tewas Topan Hagibis di Jepang Bertambah Jadi 58 Orang
Presiden Jokowi, dalam tulisan “Revolusi Mental” melalui presiden.go.id menyebutkan, revolusi mental harus menjadi sebuah gerakan nasional, usaha kita bersama untuk mengubah nasib Indonesia menjadi bangsa yang benar-benar merdeka, adil dan makmur.
Namun seiring berjalannya waktu, program ini mendapatkan banyak kritik dari berbagai tokoh politik karena dianggap tidak berdampak baik. Meskipun pemerintah mengklaim Revolusi Mental berhasil.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
Terkini
-
Pramono Sebut Kelenteng Tian Fu Gong Bisa Jadi Ikon Wisata Religi Jakarta
-
Tensi Perang Dagang AS-Tiongkok Mereda, Stabilitas Dolar dan Pasar Saham Mulai Kalem
-
Skandal LCC 4 Pilar MPR RI 2026: Anatomi Ketidakadilan di Atas Panggung Konstitusi
-
Gubernur John Tabo Polisikan Penyebar Voice Note Tuduhan Provokasi Konflik di Wamena
-
Pernyataan Orang Desa Tak Pakai Dolar Menyesatkan, FKBI Ingatkan Prabowo RI Ketergantungan Impor
-
Wamenaker Antisipasi Gelombang PHK Dampak Konflik Timur Tengah
-
BMKG Peringatkan Hujan Lebat dan Angin Kencang Ancam Sejumlah Wilayah Aceh
-
Cegah Perang Suku Pecah Lagi, 300 Pasukan Brimob Dikirim ke Wamena
-
Prabowo: Keamanan dan Ketertiban Negara Sangat Ditentukan oleh Pangan
-
Banding Kasus Chromebook, Pengamat Ingatkan PT Tak Ulur Waktu Tahan Ibrahim Arief