Suara.com - Tim advokasi Novel Baswedan menilai ada kejanggalan dalam penetapan 2 polisi aktif sebagai tersangka penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK tersebut.
Pasalnya, tim advokasi Novel justru menemukan keanehan-keanehan mulai dari penelusuran hingga akhirnya polisi mengungkap dua tersangka.
Salah satu kejanggalan tersebut adalah, terdapat informasi kedua tersangka menyerahkan diri.
Tapi dalam konferensi pers, Jumat (27/12/2019) sore, Polda Metro Jaya mengklaim kedua tersangka itu ditangkap.
Kemudian, dua tersangka yang berinisial RB dan RM juga dinilai sebagai "temuan" baru polisi.
Tim advokasi Novel mendorong polisi untuk menyamakan wajah dua tersangka itu dengan sketsa yang pernah ditunjukkan sebelumnya.
Sketsa itu disebarkan polisi pada 24 November 2017. Sketsa dua wajah terduga pelaku kala itu diperoleh dari keterangan saksi yang melihat kejadian.
"Polri harus menjelaskan keterkaitan antara sketsa wajah yang pernah dirilis dengan tersangka yang baru saja ditetapkan," kata Koordinator Kontras Yati Andriyani dalam keterangan tertulisnya, Jumat (27/12/2019).
Tim advokasi Novel juga mengamati adanya ketidaksinkronan informasi antara Polri dengan Presiden Joko Widodo atau Jokowi.
Baca Juga: KPK Berharap Polisi Ungkap Dalang di Balik Kasus Air Keras Novel Baswedan
Sebelumnya, Polri pernah menyebutkan kalau tersangka belum diketahui. Akan tetapi Jokowi pernah mengatakan bahwa akan ada tersangka.
Tim advokasi Novel menilai pihak kepolisian justru tidak transparan soal kasus penyiraman air keras yang terjadi pada 2017.
"Korban, keluarga dan masyarakat berhak atas informasi terlebih kasus ini menyita perhatian publik dan menjadi indikator keamanan pembela HAM dan anti korupsi," kata dia.
Tim advokasi Novel juga meminta kepada Jokowi untuk menaruh perhatian terhadap kasus penyiraman air keras hingga tuntas.
"Jika ditemukan kejanggalan maka Presiden harus memberikan sanksi tegas kepada Kapolri," kata dia.
Berita Terkait
-
PBNU Minta Masyarakat Tak Intervensi Polri Ungkap Soal Kasus Novel Baswedan
-
Dua Tersangka Penyiram Novel Tak Dipamerkan saat Dirilis di Polda, Kenapa?
-
KPK Berharap Polisi Ungkap Dalang di Balik Kasus Air Keras Novel Baswedan
-
Polisi Didesak Ungkap Jenderal di Balik Kasus Air Keras Novel Baswedan
-
Novel Ternyata Diserang 2 Polisi, Eks Pimpinan KPK Minta Dalangnya Diungkap
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
Terkini
-
Ungkap Alasan Vonis 8 Tahun Bos Grup BJU Hendarto, Hakim: Hasil Korupsi Dipakai Judi!
-
KPK Incar 'Pemain' Lain di Skandal Korupsi MBG
-
Terancam 5 Tahun Bui Tapi Tak Ditahan, Eggi Sudjana: Ada 'Tangan' Politik di Kasus Roy Suryo!
-
Ancol Kaji Hapus Tiket Per Orang, Siapkan Skema 'Special Zone' Berbasis Parkir
-
Tok! Bos BJU Divonis 8 Tahun Penjara di Kasus Korupsi LPEI
-
Saling Dorong di Depan DPR! Polisi Paksa Padamkan Simbol 'Kematian' Pemerintah Milik Mahasiswa
-
Karangan Bunga Hitam Putih KDM di HUT Jakarta Curi Perhatian, Ketua DPRD DKI: Unik
-
DPR Bukan Tukang 'Stempel' Pemerintah! Saan Mustopa Kalim Fungsi Kontrol Parlemen Tetap Tajam
-
Parkir Cawang Tak Dilarang Total, Sudinhub: Kami Tindak yang Bandel!
-
Bukan Merendahkan, Wamenaker Ungkap Alasan Batasi Aturan Outsourcing di 4 Jenis Pekerjaan