Suara.com - Satpol PP Kota Mojokerto menemukan berbagai barang bukti seperti video porno, rokok, vape hingga tissue magic memergoki belasan pelajar SMA yang sedang nongkrong di sebuah warung kopi saat jam masuk sekolah, Kamis (17/1/2022) kemarin.
Barang barang bukti itu ditemukan saat petugas Satpol PP menggeledah tas mereka.
Tissue magic yang diketahui merupakan berbahan tisu kerap dipakai orang dewas obat kuat untuk berhubungan intim. Sementara, dari ponsel dimilik pelajar, petugas menemukan keberadaan media sosial yang berisi konten dewasa.
"Kami menemukannya di tas pelajar. Untuk tissue magic masih didalami penggunaannya. Satu ponsel yang kami amankan terdapat medsos yang berisi video porno," kata Sekretaris Satpol PP Kota Sugianto sepeti dikutip Jatimnet.com--jaringan Suara.com, Jumat (17/1/2020).
Dalam razia tersebut didapati sejumlah pelajar yang berasal dari SMAN 1 Kota Mojokerto (9 siswa) dan SMK Taman Siswa (2 siswa).
Sayangnya, satu siswa SMAN 1 Kota Mojokerto yang memiliki tissue magic melarikan diri saat petugas melakukan razia. Namun, sepeda motor milik pelajar itu disita petugas ke kantor Satpol PP Kota Mojokerto.
“Kami menunggu (siswa) untuk mengambil kendaraannya dan menandatangani surat pernyataan,” kata Sugianto.
Sementara itu, petugas Satpol PP Kota Mojokerto langsung mendata pelajar yang terjaring razia. Petugas juga menghubungi pihak sekolah dan orang tua siswa yang terjaring razia pelajar.
"Pelajar yang terjaring kami minta tanda tangan surat pernyataan agar tidak mengulanginya,” tegasnya.
Baca Juga: Pelajar Bunuh Begal di Malang Jalani Sidang Perdana Secara Tertutup
Razia pelajar, lanjut Sugianto, rutin dilakukan untuk menjalankan Perwali Nomor 17 Tahun 2009 tentang wajib belajar. Selain itu, Satpol PP kerap mendapat informasi dari masyarakat banyaknya pelajar nongkrong di warkop selama jam sekolah.
Ke depan pihaknya akan rutin melakukan pemantauan di warkop yang ada di Magersari. Menurutnya warkop tersebut terdapat kasur-kasur di dalam ruangannya.
"Karena tidak ada kegiatan, kami belum bisa menindaklanjuti,” katanya.
Berita Terkait
-
Surat Komnas HAM untuk Pemkot Depok Soal Razia LGBT, Walkot: Belum Dapat
-
Penertiban Aset di Stadion Mattoangin Ricuh, Polisi Tembakkan Gas Air Mata
-
Pemkot Depok Razia LGBTI, Amnesty Internasional: Kejam dan Tak Manusiawi
-
Satpol PP Badung Sidak Vila Terindah untuk Gay, Pemilik Dipanggil ke Kantor
-
Nelayan di Pessel Tewas Tenggelam, Kabur Saat Razia Pukat Harimau di Pantai
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- 5 Pilihan Sepatu Running Lokal Rp100 Ribuan, Murah tapi Kualitas Bukan Kaleng-Kaleng
- Promo Alfamart Hari Ini 2 Mei 2026, Menang Banyak Diskon hingga 60 Persen Kebutuhan Harian
- 5 Cushion Waterproof dan Tahan Lama, Makeup Awet Seharian di Cuaca Panas
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Mencerahkan Wajah, Cukup 3 Langkah Praktis Murah Meriah!
Pilihan
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
Terkini
-
12 Orang Jadi Korban Penembakan Massal di Pesta Tepi Danau Arcadia
-
Satgas PRR Tuntaskan Huntara di Sumut dan Sumbar, Pembangunan Huntap Kian Dipercepat
-
Tanpa Perlindungan, Transisi Energi Ancam Hak Pekerja: Mengapa?
-
Puan Desak Sanksi Tegas bagi Predator Seksual Anak: Negara Tidak Boleh Mentoleransi Sedikitpun
-
Commuter Line Lumpuh di Jam Pulang Kantor, Penumpang Terjebak di Antara JurangmanguPondok Ranji
-
Dokter Internship Meninggal di Jambi, DPR Tuntut Sanksi Jika Ada Kelalaian RS
-
Dinkes Yogyakarta Temukan Belasan Korban Little Aresha Alami Speech Delay dan Gizi Buruk
-
Viral Anggaran Sepatu Sekolah Rakyat Diduga Rp 700 Ribu per Pasang, KPK Lakukan Kajian
-
Cak Imin Andalkan UMKM dan Ekraf Tekan Kemiskinan hingga 5 Persen
-
Aksi 4 Mei: Kala Mahasiswi Pertanyakan Nurani Penguasa Soal Nasib Guru Honorer