Suara.com - Mantan Komisoner KPK Bambang Widjajanto angkat bicara terkait dipulangkannya penyidik KPK Rosa Purbo Bekti ke Polri. BW menilai pengembalian penyidik yang tengah menangani kasus korupsi di KPK sebagai 'skandal' alias bukan sekadar kepulangan biasa.
"Marwah lembaga KPK sedang dipertaruhkan dan diletakkan di tubir jurang. Rosa Purbo Bekti yang kerap dipanggil Rosa, disingkirkan Ketua KPK Firli Bahuri bukan sekadar dipulangkan. Fakta ini punya indikasi dan potensial disebut sebagai 'Skandal' bukan sekadar urusan pemulangan seorang penyidik KPK," ungkap BW melalui keterangan pers, Kamis (6/2/2020).
Skandal yang dimaksud oleh BW terkait adanya sejumlah pernyataan yang dinilai tak masuk akal dari Firli maupun pimpinan KPK lainnya. Maka itu, Dewan Pengawas (Dewas) KPK, harus sudah mulai turun tangan.
"Skandal itu didasarkan karena ada pernyataan yang bertubi-tubi dan potensial dikualifikasi sebagai 'kebohongan publik' yang sengaja dilakukan Ketua KPK dan sebagian pimpinan KPK sehingga perlu diklarifikasi oleh Dewan Pengawas (Dewas) KPK," tegas BW.
"Misalnya saja “Yang jelas ada penarikan (Rossa) dari kepolisian”. Lalu, Alexander Marwata juga menyatakan “Ya untuk menjaga hubungan antar lembaga ya sudahlah, dia di sana juga mungkin untuk pembinaan,"; dan "Lah kalau sudah ditarik duluan bagaimana ?," BW menambahkan.
Apalagi, dengan pernyataan resmi wadah pegawai KPK semakin skandal tersebut tak terbantahkan Rossa sengaja disingkirkan karena tidak pernah dijelaskan
“apa alasan …. tidak pernah ada pelanggaran disiplin atau sanksi etik yang dilakukan dirinya.” Ada isu konflik kepentingan disitu," kata BW
Menurut BW bila Polri yang menaungi intansi Rossa dapat menunjukan surat resmi bahwa memang bukan Polri yang meminta penarikan untuk dipulangkan. Maka itu, akan semakin jelas adanyan 'skandal' dalam dipulangkannya Rossa oleh pimpinan KPK Firli Bahuri Cs.
"Jika bisa ditunjukan adanya surat dari Polri yang menyatakan bahwa Rossa tidak pernah ditarik oleh institusi kepolisian karena memang tidak ada kepentingan dan kebutuhan dari kepolisian. Lebih-lebih dengan alasan Rossa ditarik untuk tujuan pembinaan. Rossa berprestasi bukan “pesakitan” yang ber-integritas sehingga harus dibina," ungkap BW.
BW mengaku khawatir ada indikasi dibalik dipulangkannya Rossa ke Polri oleh pimpinan KPK, seolah menuding institusi Kepolisian lah yang punya kepentingan menarik Rossa.
Baca Juga: Sempat Mangkir, KPK Panggil Lagi Zulkifli Hasan Kamis Besok
"Hal ini dapat diduga sebagai upaya sengaja untuk mengambing-hitamkan pimpinan kepolisian atas kepentingan sepihak Ketua KPK saja dalam kisruh pemulangan penyidik KPK. Semoga bisa ada klarifikasi dari semua pihak," ujar BW.
Lebih lanjut, BW KEMUDIAN meminta sikap tegas lima Dewas KPK menunjukan harkat, akal sehat dan nurani keberpihakannya untuk menjaga kehormatan KPK.
"Karena ada indikasi, kekuasaan di KPK tengah disalahgunakan sesuka hati dan kepentingan sendiri dari beberapa unsur pimpinan yang bisa beraroma konflik kepentingan sehingga melawan prinsip integritas serta meruntuhkan kehormatan KPK yang harus menjadi harga mati pimpinan KPK maupun setiap insan KPK," kata BW.
Diduga Melanggar kode etik
BW pun menjelaskan Indikasi pelanggaran kode etik dan perilaku Insan KPK sesuai uraian di atas diatur di Peraturan KPK No. 07 Tahun 2013. Nampak jelas dan terang benderang,dalam poin tersebut misalnya yaitu : Insan KPK harus berperilaku jujur, Pimpinan KPK dalam mengambil putusan harus obyektif, berkeadilan dan tidak memihak, mengutamakan tugas dari pada kepentingan pribadi serta melakukan penilaian kinerja orang dipimpinnya secara objektif dengan kriteria yang jelas.
"Semoga nyali untuk terus menyalakan segenap asa dan cita pada upaya pemberantasan korupsi yang trengginas, rancak dan sepenuh-penuhnya menimbulkan kemaslahatan menjadi kenyataan karena terus-menerus diperjuangkan," tutup BW.
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Perang Meluas di Timur Tengah: Iran Hantam Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Kuwait dan Uni Emirat Arab
-
Iran Bom Markas Besar Angkatan Laut AS! Lalu Tembakkan 75 Rudal ke Israel
-
Sabtu Pagi Teheran Dibom, Sabtu Sore Iran Langsung Kirim Rudal ke Israel
-
Kedubes Iran di Indonesia Kecam Serangan AS-Israel, Sebut Pelanggaran Berat Piagam PBB
-
'Labbaik Ya Hussein', TV Iran Siarkan Lagu Perang, Siap Balas Serangan AS dan Israel
Terkini
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Pangkalan AS, Timur Tengah di Ambang Eskalasi
-
Satu Warga Abu Dhabi Tewas, Uni Emirat Arab Ancam Balas Serangan Iran
-
Perang Meluas di Timur Tengah: Iran Hantam Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Kuwait dan Uni Emirat Arab
-
Kenapa Pakistan Deklarasikan Perang ke Afghanistan? Ini 5 Faktanya
-
BGN Tegaskan Info Pembukaan PPPK Tahap 3 Hoaks, Masyarakat Diminta Waspada Penipuan
-
KPK Soroti Mobil Dinas Rp 8,5 M Gubernur Kaltim, Ingatkan Risiko Korupsi Pengadaan
-
Iran Bom Markas Besar Angkatan Laut AS! Lalu Tembakkan 75 Rudal ke Israel
-
Sabtu Pagi Teheran Dibom, Sabtu Sore Iran Langsung Kirim Rudal ke Israel
-
Parade Harmoni Imlek Nusantara 2026 Digelar Sore Ini, Cek Rekayasa Lalu Lintas di Lapangan Banteng
-
Kedubes Iran di Indonesia Kecam Serangan AS-Israel, Sebut Pelanggaran Berat Piagam PBB