Suara.com - Kekinian otoritas kesehatan sejagat berjuang menghadapi pandemi virus corona atau Covid-19. Kekacauan ini tampaknya justru ‘menguntungkan’ kelompok militan ISIS.
Dalam buletin reguler mereka yang terbit minggu lalu, ISIS menggambarkan pandemi ini sebagai 'siksaan menyakitkan' dari Tuhan bagi 'negara-negara tentara salib', istilah untuk negara-negara Barat yang terlibat kampanye militer memberantas ISIS.
Seperti dikutip dari Deutsche Welle (DW) Indonesia--jaringan Suara.com--, Selasa (24/3/2020), buletin ini menggambarkan rasa takut akibat wabah ini memiliki efek lebih besar ketimbang epidemi itu sendiri.
Buletin itu pun mengatakan Covid-19 menempatkan dunia Barat di ambang bencana ekonomi besar dengan membatasi mobilitas, merusak pasar dan mengganggu kehidupan publik.
“Kami meminta kepada Tuhan untuk meningkatkan siksaan bagi mereka dan menyelamatkan orang-orang beriman dari semua itu,” kata kelompok itu, menurut peneliti Inggris Aymenn Jawad Al-Tamimi.
Perlawanan terhadap ISIS ‘terganggu’
Wabah ini bisa dilihat sebagai penguatan atas teologi kelompok militan ISIS. Tak hanya itu, wabah ini juga memengaruhi upaya internasional untuk menahan ISIS usai kekalahannya tahun lalu.
Di Irak, NATO mengumumkan pada awal bulan ini bahwa mereka akan menunda pelatihan selama 60 hari dikarenakan adanya pandemi.
Akibatnya, Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace mengatakan bahwa pihaknya akan mengurangi penempatan pasukan Inggris karena “tempo pelatihan telah menurun secara signifikan”.
Baca Juga: Pelatih Tunggal Putra PDP Corona, PBSI Ajukan Tes Covid-19 Massal
Selain moratorium kegiatan pelatihan, anggota koalisi di Irak dan Suriah juga harus mengambil tindakan untuk mencegah pecahnya wabah di antara pasukan.
Meskipun para pejabat AS menyebut bahwa tindakan pencegahan tidak akan berdampak pada kelangsungan operasi militer, wabah ini sejatinya telah melemahkan upaya dalam menopang kapasitas lokal melawan ISIS.
“Jelas tidak terhindarkan bahwa pandemi virus corona ini akan mengalihkan perhatian dan sumber daya dari perjuangan melawan ISIS,” kata Colin P. Clarke, seorang peneliti senior di Soufan Center.
“Seluruh fokus dan perhatian yang diperlukan untuk terus berjuang melawan kelompok itu akan terganggu,” ujarnya.
Tapi para anggota ISIS juga akan rentan. Mereka jelas tidak kebal dari virus. Jika mengandalkan informasi kesehatan atau medis yang salah, yang sangat mungkin terjadi, mereka akan mudah kehilangan anggota karena terinfeksi virus”.
Memanfaatkan kekacauan
Memang, kelompok militan itu pertengahan Maret lalu telah mengeluarkan imbauan resmi terkait Covid-19. Imbauan itu menyerukan kepada anggotanya menghindari perjalanan ke daerah yang terkena dampak Covid-19.
Sebaliknya, ISIS menyebut bahwa anggotanya akan menerima perlindungan dari ilahi jika mereka ikut terlibat dalam jihad.
Salah satu caranya, seperti disebutkan dalam imbauan itu adalah dengan melarikan atau meloloskan sesama anggota ISIS, istri dan anak-anak mereka dari penjara di wilayah tersebut.
Di Oktober, lebih dari 750 orang yang dicurigai memiliki hubungan dengan ISIS kabur dari kamp Ain Issa di timur laut Suriah, prestasi yang mereka capai dengan melakukan kerusuhan saat pasukan Kurdi diganggu oleh serangan Turki.
“Jika virus mulai menyebar ke seluruh penjara dan pusat-pusat penahanan, yang mungkin saja sudah terjadi, maka pihak berwenang yang ditugaskan mengelola tempat-tempat itu, termasuk Kurdi, juga akan terganggu dan terhambat dalam misi mereka,” kata Clarke, penulis buku After the Caliphate.
Inilah jenis gangguan yang dimaksud ketika ISIS mendesak anggota-anggotanya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membebaskan anggotanya dan keluarga mereka dari penjara di mana mereka “terancam oleh penyakit dan penindasan”.
Di Irak, sekitar 20.000 tersangka milisi ISIS dipenjara di seantero negeri. Jika ada dari mereka yang dibebaskan, maka hal tersebut dapat memperkuat kemampuan operasional ISIS dan membuat upaya terkoordinasi selama bertahun-tahun dalam menahan ISIS menjadi sia-sia.
“ISIS melihat pandemi ini sebagai kesempatan untuk melakukan eksploitasi,” kata peneliti Inggris al-Tamimi, “dengan semua kekacauan yang terjadi setelahnya.”
Berita Terkait
-
Sebut Jokowi Kena Corona, Kakek-kakek di Sumbar Diangkut ke Jakarta
-
Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana Positif Corona
-
Sebar Informasi Jokowi Positif Corona, Warga Payakumbuh Dibawa ke Jakarta
-
Pelatih Tunggal Putra PDP Corona, PBSI Ajukan Tes Covid-19 Massal
-
Gedung BPSDM Jawa Timur Siapkan Ruangan Karantina Virus Corona
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
Terkini
-
Donald Trump Makin Berani! Ketua The Fed Jerome Powell Dihadapkan Kasus Kriminal
-
Gegara Bobby Nasution Tak Dipanggil, Boyamin MAKI Temui Dewas KPK Bawa Bukti Rekaman Sidang
-
PDIP Desak Reformasi Total Polri: Hapus Dwifungsi dan Perkuat Pengawasan Eksternal
-
Tutup Rakernas I, PDIP Resmi Tegaskan Posisinya Sebagai Partai Penyeimbang: Kawal Pemerintahan
-
Permohonan RJ Eggi Sudjana Masuk, Polda Metro Tunggu Kesepakatan Pelapor di Kasus Ijazah Jokowi
-
Rekomendasi Rakernas PDIP: Tegaskan Kedaulatan NKRI dan Tolak Intervensi Asing atas Venezuela
-
Rekomendasi Rakernas PDIP: Desak Pilkada Tetap Langsung Dipilih Rakyat, Usul Ada E-voting
-
Polisi Periksa 12 Saksi Kasus Teror DJ Donny dan Influencer, Kapan Pelaku Ditangkap?
-
Ketua KONI Ponorogo Diperiksa KPK Terkait Dugaan Korupsi Bupati Nonaktif Sugiri Sancoko
-
Libatkan Ahli, Polisi Bedah Batas Kebebasan Berekspresi dalam Kasus Mens Rea Pandji Pragiwaksono