"Kalau menurut saya, ini terkesan terburu-buru. Memang mungkin ini sudah menjadi keputusan dari Pemkot Tegal dengan berbagai pertimbangan dan alasan," ucap Brian.
Namun demikian, pemuda yang berprofesi sebagai pengacara ini, mempertanyakan apakah kebijakan tersebut sudah berdasarkan asas kemanfaatan kebahagiaan masyarakat Tegal.
Sebab kata dia, kebijakan lockdown bisa dianggap bertentangan dengan Undang-undang tentang pemenuhan hak konstitusi warga dan tidak ada jaminan distribusi kebutuhan hidup dasar masyarakat Tegal.
"Tapi apakah Pemkot Tegal sudah mempertimbangkan asas kemanfaatan atau kebahagiaan kepada masyarakat? Dalam penyataan local lockdown Wali Kota Tegal bisa dianggap bertentangan dengan undang-undang, serta telah mengabaikan pemenuhan-pemenuhan hak-hak konsitutusi warga masyarakatnya dan terkesan tidak mempertimbangkannya," kata dia.
"Hal tersebut dikarenakan tidak diimbangi dengan kebijakan atau solusi yang baik sebagai jaminan dan distribusi kebutuhan hidup dasar warga masyarakatnya," sambungnya.
Karena itu, ia menyayangkan keputusan Wali Kota Dedy Don tersebut. Ia menegaskan seharusnya keputusan yang diambil harus komprehensif dan mengutamakan kemanfaatan dan kebahagian warganya.
"Menurut saya ini sangat disayangkan. Semestinya setiap keputusan pemimpin haruslah komprehensif, dengan berbagai pertimbangan dan mengutamakan asas kemanfaatan yang dapat memberikan kebahagiaan bagi masyarakat serta patuh terhadap peraturan perundang-undangan," kata dia.
Sementara itu, Rizki Arifiani alias Kiki mengaku setuju dengan keputusan Pemkot Tegal yang menerapkan lockdown.
Menurut gadis yang berprofesi sebagai wartawati di salah satu media di Sulawasi Tenggara ini, masyarakat sekarang ini banyak yang keras kepala dan tidak mau mendengarkan imbauan dari pemerintah seperti masih tetap berkumpul dan lain-lain.
Baca Juga: Ngotot Buka saat Wabah Corona, 3 Tempat Karaoke di Kudus Disegel Aparat
"Setuju setuju sih, soalnya masyarakat kita itu tuman alias keras kepala. Kalau enggak digituin terlalu santuy," ucap Kiki yang tinggal di Jakarta.
Kiki mengatakan jika Pemerintah Tegal tidak menangani serius satu pasien positif dan tidak bergerak cepat, ia khawatir jumlah warga yang terjangkit virus tersebut akan bertambah.
Ia pun optimis Pemkot Tegal sudah menyiapkan logistik kepada warganya.
"Apalagi Tegal itu kota kecil, walaupun cuma satu yang positif kalau nggak ditangani serius bisa merambah. Kalau urusan logistik lockdown aku sih optimis Pemda bisa. Soalnya cukup kaya kota Tegal," katanya.
Tag
Berita Terkait
-
Imbas Ada Daerah Karantina Wilayah, Pemerintah Baru Mau Bentuk PP
-
Lockdown, Wong Tegal di Jakarta: Pengin Pulang Tapi Kondisinya Begini
-
Kota Tegal Lockdown, DPR: Koordinasi dengan Pemerintah Pusat
-
Cegah Penyebaran Virus Corona, Kampung di Yogyakarta Lockdown
-
Ganjar Bantah Tegal Lockdown: Masih Boleh Keluar Rumah kok
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
Terkini
-
Selamat Tinggal Rompi Oranye? KPK Tak Akan Lagi Pamerkan Tersangka Korupsi di Depan Kamera
-
PDIP: Kami Penyeimbang, Bukan Mendua, Terungkap Alasan Ogah Jadi Oposisi Prabowo
-
Subuh Mencekam di Tambora: Api Amuk 15 Bangunan, Kerugian Tembus Rp1,7 Miliar
-
Trump Dikabarkan Kirim Operasi Khusus Militer AS untuk 'Caplok' Greenland
-
Wanti-wanti Peneliti UGM Soal Superflu, Tetap Bisa Fatal Bagi yang Rentan
-
Tersangka Korupsi Kini 'Dilindungi' dari Konferensi Penetapan KPK Imbas KUHAP Baru
-
Kronologi Suap Pajak KPP Madya Jakut: Diskon Rp59 M Dibarter Fee Miliaran Berujung OTT KPK
-
Cuaca Hari Ini: Hujan Terjadi Hampir di Berbagai daerah dari Banten Sampai Yogyakarta
-
PSI Incar Jawa Tengah Jadi Kandang Gajah, Hasto PDIP Kasih Respons Santai, Begini Katanya
-
Rakernas I 2026: PDIP Bakal Umumkan Sikap Resmi Terkait Wacana Pilkada di Akhir Acara