Suara.com - Tenda mungil di tepi sungai kini jadi peraduan bagi satu warga Provinsi Riau bernama Abdullah Al Mabrur, yang nekad pulang kampung ke Dukuh Ngaran, Klaten, Provinsi Jawa Tengah.
Ia memilih menyepi di tenda yang jauh dari rumah keluarganya, untuk isolasi mandiri karena sadar dirinya berpotensi menularkan virus corona kepada keluarga dan orang-orang di sekitarnya.
Selain itu, stigma negatif dari sebagian warga sangat terasa, sehingga ia memilih untuk menjauh selama 14 hari ketimbang keluarganya dikucilkan.
“Saya punya inisiatif, bilang ke adik saya tolong carikan tenda untuk piknik di pinggir kali, saya mau isolasi takutnya kurang enak sama tetangga. Saya lebih aman, adem ayem di hati dan pikiran saya di tenda ini,” kata Abdullah Al Mabrur ketika dihubungi Antara di Pekanbaru, Senin (20/4/2020).
Ia mengaku sudah merantau dari Klaten dan tinggal di Riau sejak 2011. Ia mengadu nasib seorang diri di daerah berjuluk “bumi lancang kuning” itu dengan membuka klinik pengobatan alternatif di Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan. Bagi warga Pangkalan Kerinci, ia akrab disapa Abah Tabib.
Lelaki berusia 42 tahun ini mengatakan nekad pulang kampung karena tahun lalu sudah tidak pulang saat Lebaran Idul Fitri.
Ia mengaku sudah kangen berat dengan keluarganya, dan terpaksa membandel dengan mengabaikan himbauan pemerintah untuk tidak mudik pada Lebaran saat wabah COVID-19.
“Jadi yang dilarang mudik setahu saya itu ASN, TNI, Polri. Saya kan, mohon maaf, cuma kuli. Selain jadi tabib pengobatan alternatif, juga jadi musisi,” kata Abah Tabib sembari berkelakar.
Sebelum memutuskan mudik, ia mengaku ada firasat akan ada kebijakan lockdown atau karantina wilayah karena wabah COVID-19 makin meluas.
Baca Juga: Pemkot Tetapkan Pendatang dan Pemudik di Jogja Melapor secara Daring
Karena itu, ia bulatkan tekadnya untuk pulang kampung sebelum bulan masuk bulan suci Ramadhan.
Putusan berisiko
Namun, ia sadar keputusan itu sangat berisiko. Bagi orang yang mudik saat ini tidak lagi bisa diterima dengan tangan terbuka oleh warga di kampungnya.
Menurut dia, warga di kampungnya masih banyak yang belum paham tentang virus Corona, sehingga menganggap semua orang yang datang dari luar akan membawa penyakit.
Hal tersebut bisa dipahami karena Riau, khususnya di Kota Pekanbaru, sudah dikategorikan sebagai daerah terjangkit alias zona merah COVID-19.
Setiap warga yang dari daerah itu berpotensi membawa virus meski tidak menunjukkan gejala.
Berita Terkait
-
Kaum Muda Berpendapatan Rendah Diprediksi Bakal Nekat Mudik Lebaran
-
Kena PHK Tanpa Pesangon, Akun Ini Bikin Semesta Twitter Terenyuh
-
Dua Warga Ogah Dikarantina, Akhirnya Dijebloskan ke Rumah Angker
-
Agus Sesak Napas Lalu Meninggal Mendadak di Warkop, Dievakuasi Tim Corona
-
Odang Meninggal saat Salat di Masjid, Jenazah Ditangani Protokol Corona
Terpopuler
- Profil dan Pekerjaan Jhon LBF, Siap Bantu Ruben Onsu Bayar Kerugian Rp3,5 M
- 6 HP Realme RAM 12 GB dengan Performa Kencang, Mulai Rp2 Jutaan
- 3 Shio yang Menarik Keberuntungan Sepanjang September 2026, Hoki Sebulan Penuh
- Erick Thohir Buka Hasil Evaluasi Timnas Indonesia usai Gagal di Piala AFF 2026
- 5 Pilihan Rice Cooker Panci Keramik yang Awet, Tahan Gores, dan Mudah Dibersihkan
Pilihan
-
Sempat Serukan Serang Hercules! Admin Akun Pemukiman Setan Ditangkap Polisi karena Molotov
-
Pidato Pertama Sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Kikin Berseloroh: Baru Dua Jam Saja
-
Jalani Ritual di Danau Sunter, WNA Aljazair Dievakuasi Setelah Dirayu 3 Jam
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
Terkini
-
Tunggakan Rp14,8 Miliar, 303 Pemain Belum Digaji: Ada Klub Raffi Ahmad Rans FC
-
Bukan Cuma Jadi Konsumen! DPR Ingin Indonesia Kuasai Ekosistem AI
-
Alasan Ada Agenda Lain, Anggota DPR Satori Mangkir dari Pemeriksaan KPK
-
Persib Lolos ACL Two dengan Drama! Mariano Peralta Jadi Pahlawan di Menit-Menit Akhir
-
Cegah Risiko Pidana, Pakar Sebut Pemerintah Tepat Atur Pembelian Timah Rakyat
-
Desak Pelaku Pengeroyok Bambang Setiawan Ditangkap, Wamen HAM: Harus Ditindak Tegas!
-
Dedi Mulyadi: Uang Pajak Warga Depok Siap Disulap Jadi Flyover dan Underpass
-
Setengah Karhutla Terjadi di Wilayah Korporasi yang Izinnya dari Negara!
-
Sikap Bupati Bogor Usai KPK Masuk Pemkab: Serahkan Proses Hukum dan Hargai Praduga Tak Bersalah
-
Padam Setelah 30 Jam, Kebakaran Pabrik Plastik di Serang Telan Kerugian Rp41 Miliar