Ini masih jauh dari ribuan ventilator yang dimiliki atau diproduksi oleh negara-negara maju.
Tamuna Sabadze, dari Komite Penyelamatan Internasional, mengatakan bahwa dari semua skenario, yang paling mungkin terjadi adalah Yaman membutuhkan setidaknya 18.000 tempat tidur perawatan intensif.
"Dan bahkan jika Anda mendapatkan ventilator, Anda tidak dapat menjalankannya jika Anda tidak memiliki pasokan listrik - sering kali tidak ada generator atau, jika ada, tidak ada bahan bakar untuk menjalankannya."
Tempat-tempat padatSejauh ini, Yaman beruntung - tercatat hanya ada sejumlah kasus di negara itu.
Kasus pertama tercatat di provinsi Hadramaut. Lima kasus lainnya terjadi di Aden, menurut komisi darurat yang bertugas memantau pandemi.
WHO mengatakan semua pelacakan kontak yang diperlukan dilakukan.
Sebanyak 177 orang diawasi - termasuk 36 yang dianggap berisiko tinggi. Tetapi tidak ada ahli yang berharap itu berakhir di sana.
Selain kurangnya peralatan, ada kekhawatiran tentang kesadaran kesehatan masyarakat - atau lebih tepatnya kurangnya kesadaran kesehatan masyarakat.
Dengan melemahnya pemerintah karena perang, tidak ada pesan pencegahan yang kuat yang dikeluarkan oleh pihak berwenang seperti di negara lain.
Baca Juga: Lockdown Dilonggarkan, 85 Juta Warga China Berwisata
Sebagian besar bersifat budaya, kata Dr. Hasel.
"Orang-orang Yaman berkumpul di kerumunan dan paar kami - khususnya pasar khat (stimulan herbal yang populer di Yaman) - penuh dan jalanan sangat sempit. Bahkan fasilitas kesehatan dipadati orang-orang.
"Semua ini membuat penerapan jaga jarak terkendala."
Lalu ada masalah perbatasan yang keropos, tambahnya.
"Yaman memiliki banyak imigran Afrika yang masuk secara ilegal dan mereka berisiko terhadap kesehatan masyarakat jika mereka tidak diperiksa atau diawasi. Ada juga ekspatriat Yaman di negara-negara tetangga yang diselundupkan bolak-balik melintasi perbatasan. Mereka membawa risiko juga.
"Mungkin salah satu dari mereka memiliki virus corona dan kemudian bercampur dengan masyarakat umum dan tidak ada yang tahu tentang itu."
Salah satu hal yang menjadi fokus Tamuna Sabadze di Komite Penyelamatan Internasional adalah pemulihan fasilitas sanitasi dan distribusi peralatan kebersihan.
"Sangat baik untuk mengatakan 'cuci tanganmu!' tapi itu tidak mudah di Yaman. Lima puluh persen dari populasi tidak memiliki akses ke air yang mengalir. "
Tak lama setelah kami berbicara, banjir bandang melanda Aden yang membuat tugas menyediakan air bersih semakin sulit.
'Tidak ada yang bisa pergi ke rumah sakit'Kembali ke kantor Saana dari Save The Children, Mohammed Alsamaa khawatir tentang persediaan dan personel yang minim di negara itu sejak wilayah udara Yaman ditutup pada pertengahan Maret.
Staf Mohammed kekurangan tiga pekerja kemanusiaan yang secara tidak sengaja diusir.
Dia juga khawatir pasokan makanan terganggu oleh tindakan penutupan. Yaman sudah menjadi negara di mana kekurangan gizi banyak terjadi.
Di tengah kekhawatiran akan penularan, ada secercah harapan pada April silam ketika gencatan senjata diumumkan oleh koalisi yang dipimpin Arab Saudi, yang sedang bertempur dengan pemberontak Houthi di Yaman.
Gencatan itu diperpanjang satu bulan ke depan namun para pemberontak belum menerimanya dan Mohammed berkata pada saya bahwa pertempuran terus terjadi secara diam-diam.
"Masih ada tegangan di mana-mana. Lebih mendesak dari sebelumnya bahwa konflik berhenti. Tidak ada yang bisa pergi ke rumah sakit atau klinik jika ada perang dan wabah ini - ketika datang - bisa menjadi tak terkatakan. "
Berita Terkait
-
The Boy Who Harnessed the Wind: Kisah Nyata Remaja yang Menyelamatkan Desa dengan Kincir Angin
-
Benarkah Atap Asbes Bisa Bikin Kanker? Dokter Paru Ungkap Fakta dari WHO
-
Arab Saudi Galang 14 Negara Lindungi Jalur Minyak dari Ancaman Houthi Yaman
-
Arab Saudi Bombardir Basis Houthi di Yaman, Konflik Timur Tengah Kian Meluas
-
Perang Meluas, Houthi Yaman Tembak 2 Kapal Tanker Arab Saudi di Selat Bab al-Mandeb
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Murah Baterai 7000 mAh, Tahan hingga 2 Hari dengan Performa Kencang
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Bukan Hanya Populer, Seskab Teddy Salip Sejumlah Menteri Senior dalam Urusan Kinerja
-
Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet
-
Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah
-
Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik
-
IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung
-
5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau
-
Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026
-
Kredit Macet Hantui Industri Pinjol
-
Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru
-
Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung