Dalam sebuah survei yang dirilis 12 Mei, hanya 43 persen warga AS yang mengidentifikasi dirinya sebagai pemilih Partai Republik menganggap Covid-19 sebagai ancaman kesehatan besar bagi masyarakat.
Sementara itu 82% pendukung Partai Demokrat memandangnya sebagai ancaman kesehatan serius. Jajak pendapat lain menunjukkan pendukung Partai Republik lebih mungkin tidak memakai masker saat berada di tempat umum ketimbang pendukung Partai Demokrat, 56% versus 74%.
Kepercayaan publik dipengaruhi partai pilihannya
Pengetahuan publik soal fakta-fakta tentang virus corona juga dipengaruhi oleh partai politik dukungannya.
Pernyataan-pernyataan yang salah atau menyesatkan soal virus corona yang dilontarkan tokoh politik mengakibatkan tingginya level keacuhan soal Covid-19 di AS, Inggris, Jerman, dan Spanyol, berdasarkan hasil analisis Reuters Institute of Journalism yang berbasis di Universitas Oxford.
"Riset kami menunjukkan di negara-negara itu, warga sayap kanan tidak tahu banyak soal virus corona," kata Rasmus Kleis Nielsen, salah satu peneliti. "Ini adalah warga yang sama pintarnya, tapi mereka percaya pada politisi yang telah menggaungkan narasi yang salah tentang virus corona."
Efek Bolsonaro
Presiden Brazil Jair Bolsonaro secara terang-terangan mengacuhkan saran kesehatan guna mencegah terjangkit Covid-19, yang disebutnya sebagai "flu biasa" pada akhir Maret.
Brazil memiliki jumlah kasus positif virus corona terbesar ketiga di dunia, menurut data yang dihimpun oleh Universitas Johns Hopkins.
Baca Juga: Diduga Aniaya Istri Kedua, Anggota DPRD Kabupaten Tangerang Dipolisikan
Bolsonaro masih dekat-dekat dengan pendukungnya di tempat umum, bahkan berpartisipasi dalam sebuah kampanye nasional yang digelar pada 15 Maret.
Periset dari AS dan Italia meneliti jumlah kasus virus corona di Brazil bulan itu dan menemukan jumlah infeksi baru lebih tinggi 20 persen di kota-kota dengan jumlah pendukung Bolsonaro yang besar. Ini termasuk Sao Paulo, kota terbesar di Brazil dan Amerika Selatan. Angka kematian resmi di Sao Paulo- 4.688- lebih tinggi dari angka kematian resmi di China.
"Kami menyimpulkan perilaku Bolsonaro mempercepat penyebaran Covid-19 di Brazil," kata riset tersebut. "Percepatan penyebaran ini bukan hanya karena adanya perkumpulan manusia ketika kampanye, namun juga adanya perubahan perilaku di antara pendukung Bolsonaro yang tidak lagi mengindahkan aturan jaga jarak sosial."
Anthony Pereira, direktur Brazil Institute di King's College London, mengatakan ia tidak terkejut dengan perbedaan perilaku tersebut.
"Respon awal beberapa pendukung Bolsonaro yang terkenal adalah dengan menyebut virus itu sebagai 'hoax'," kata Pereira.
"Jadi ketika presiden menentang saran ilmiah dan medis tentang virus corona, para pendukungnya mendukung argumennya karena mereka tidak mendapatkan informasi dari sumber lain."
Masa-masa suram
Inggris menerapkan lockdown selama tujuh minggu dari Maret sampai Mei. Ada beberapa warga yang protes, tapi dibandingkan negara-negara lain, jumlahnya tidak banyak.
Pada 10 Mei, pemerintah, yang dipimpin Partai Konservatif, mengumumkan pelonggaran beberapa aturan lockdown di Inggris dan respon masyarakat atas pengumuman itu rupanya terbagi, tergantung afiliasi politiknya.
Menurut jajak pendapat YouGov, 61 persen pendukung Konservatif sepakat dengan perubahan tersebut, sementara hanya 32 persen pendukung partai oposisi, Partai Buruh, yang sepakat.
Jika bicara soal sikap seputar protokol kesehatan, mayoritas pendukung dari kedua partai rupanya berpandangan serupa. Sebagian besar pendukung partai Konservatif dan Buruh mendukung langkah-langkah jaga jarak sosial, seperti bekerja dari rumah, menutup sekolah, dan melarang acara-acara besar.
Tim Bale, guru besar politik di Universitas Queen Mary di London, menjelaskan paradoks ini.
"Sikap mereka terhadap saran-saran yang diberikan oleh para ahli tidak ada hubungannya dengan aliansi politik mereka, kiri atau kanan, tapi lebih dipengaruhi oleh populisme, yang dapat ditemukan di keduanya," katanya. "Populis biasanya lebih mempertimbangkan 'akal sehat' daripada pandangan ahli yang 'elit'."
Gender lebih berperan ketimbang politik?
Gender mungkin lebih berpengaruh ketimbang politik, menurut beberapa survei.
Perempuan pendukung Partai Republik di AS lebih mungkin menerapkan social distancing ketimbang pria Republik.
Periset psikologi mewawancarai warga Inggris berusia 19 -24 tahun saat lockdown, dan mendapati lebih dari 50 persen responden pria melanggar aturan berkumpul untuk bertemu dengan teman-temannya. Sementara itu kurang dari 30 persen responden perempuan melakukan hal serupa.
"Pria, secara umum, lebih bersedia ambil risiko," kata Liat Levita, seorang psikolog dari Universitas Sheffield, yang melakukan studi tersebut. "Tapi perbedaannya sangat mencolok jika melihat bagaimana pria muda dewasa lebih melanggar aturan itu ketimbang perempuan."
Saat politik justru salah
Di Jerman, partai sayap kanan AfD mendukung protes anti restriksi karena virus corona.
Jajak pendapat menunjukkan kepopuleran AfD di Jerman merosot ke level terendah sejak 2017.
Sementara itu, partai oposisi terbesar di Korea Selatan, United Future Price, mengkritik penanganan Covid-19 oleh pemerintah, termasuk keengganan mereka melarang warga China masuk ke negara itu pada masa awal pandemi. Mereka sepertinya akan menang dalam pemilu parlemen pada 15 April.
Tapi di hari pemilu, Korea Selatan justru dipuji dunia atas langkah-langkahnya dalam mengurangi penyebaran virus corona. Pada akhirnya, Partai Demokrat pimpinan Presiden Moon Jae-in menang telak dan kini menjadi suara mayoritas di parlemen.
Berita Terkait
Terpopuler
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
- Beredar 24 Nama Terseret Kasus BGN, Kuasa Hukum Sony Sonjaya: Nama Itu Sudah Diserahkan ke Penyidik
Pilihan
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
-
Harry de Fretes Bagikan Kabar Haji Bolot Meninggal, Keluarga: Hoaks, Itu Orang Kurang Kerjaan
Terkini
-
Kisah Ade dan Obed, PKL yang Ketiban Rezeki Nomplok di Tengah Riuhnya Demo Mahasiswa di Bundaran HI
-
Demo Mahasiswa: 5 Rute Transjakarta Berhenti dan MRT Tutup Sejumlah Akses Stasiun
-
CPJ Kecam Teror Kepala Ayam Busuk ke Floresa: Kebebasan Pers RI Tak Boleh Dikangkangi!
-
Inisiatif Ubah Sampah Jadi Bahan Bakar Bermunculan, Mengapa Belum Banyak Digunakan Secara Luas?
-
Bukan yang di Foto Viral, Ini Rincian Asli Uang Rupiah-Valas yang Disita KPK di Rumah Silmy Karim
-
Polisi: Bundaran HI Wajib Steril dari Demo Mahasiswa agar Jakarta Tak Lumpuh!
-
Belum Sampai Bundaran HI, Aksi Mahasiswa Sudah Diwarnai Bentrokan dengan Aparat
-
Ingatkan Soal PKI hingga RMS, Dudung Tegaskan Pemerintah Prabowo Tak Anti Kritik
-
Indonesia Insurance Summit 2026: Terungkap Tantangan Ganda Asuransi di Indonesia
-
Mahasiswa UI ke Aparat: Kami Bukan KKB, Tolong Jangan Represif!