- CPJ mengecam intimidasi terhadap media Floresa di Labuan Bajo yang terjadi pada awal Juni 2026.
- Teror berupa pelemparan kepala ayam dan telur diduga terkait pemberitaan film dokumenter Pesta Babi oleh Floresa.
- CPJ mendesak aparat hukum segera mengusut ancaman tersebut demi menjamin kebebasan pers dan keamanan jurnalis Indonesia.
Suara.com - Committee to Protect Journalists (CPJ) atau Komite Perlindungan Jurnalis mengecam intimidasi terhadap media Floresa yang diduga berkaitan dengan pemberitaan film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.
Direktur Regional Asia-Pasifik CPJ, Beh Lih Yi, mendesak aparat penegak hukum segera bertindak untuk mengusut kasus tersebut dan menjamin kebebasan pers di Indonesia.
“Pihak berwenang harus mengambil tindakan untuk menunjukkan bahwa jenis pelecehan ini tidak dapat diterima, dan memastikan lingkungan yang bebas dan toleran bagi pers yang sejalan dengan reputasi negara sebagai demokrasi yang dinamis,” kata Beh Lih Yi dalam keterangan yang dikutip Jumat (12/6/2026).
Menurut CPJ, intimidasi terhadap Floresa terjadi pada 5 Juni 2026. Seorang jurnalis media tersebut menemukan tiga kepala ayam busuk di depan kantor redaksi mereka di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.
Pada hari yang sama, kedai kopi yang dikelola Floresa dan berada di samping kantor redaksi juga dilempari telur.
Editor Floresa, Anno Susabun, menduga teror itu berkaitan dengan liputan mereka mengenai film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, yang mengulas dampak proyek agribisnis terhadap lingkungan dan masyarakat adat di Papua.
Susabun juga mengungkapkan bahwa pada 13 Mei 2026, Floresa menerima pesan WhatsApp ancaman dari seseorang yang mengaku berasal dari Direktorat Tindak Pidana Siber Kepolisian Nasional.
Pesan tersebut berisi data pribadi milik redaksi, termasuk alamat rumah dan lokasi terbaru mereka. Pengirim juga meminta agar seluruh konten media sosial terkait artikel mengenai film dokumenter tersebut dihapus.
Karena alasan keamanan, sebagian tim Floresa untuk sementara dipindahkan dari Labuan Bajo.
Baca Juga: Sebut Film 'Pesta Babi' Aman Secara Hukum, Uceng UGM: Jangan-Jangan Ada Unsur Politik?
Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita telah ditonton lebih dari 13 juta kali di YouTube.
CPJ mencatat sedikitnya 50 dari sekitar 800 pemutaran film yang digelar di berbagai wilayah Indonesia dibubarkan. Sebagian besar pembubaran disebut melibatkan aparat militer.
CPJ juga membandingkan kasus yang dialami Floresa dengan teror yang pernah diterima media Tempo pada Maret tahun lalu.
Saat itu, kantor Tempo menerima kiriman kepala babi dan bangkai tikus yang telah dipenggal setelah menerbitkan laporan kritis mengenai revisi Undang-Undang TNI.
Dalam laporannya, CPJ menyebut Kepolisian Nusa Tenggara Timur dan Kepolisian Republik Indonesia tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar yang disampaikan melalui surat elektronik.
Reporter: Dinda Pramesti K
Berita Terkait
Terpopuler
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
- Beredar 24 Nama Terseret Kasus BGN, Kuasa Hukum Sony Sonjaya: Nama Itu Sudah Diserahkan ke Penyidik
Pilihan
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
-
Harry de Fretes Bagikan Kabar Haji Bolot Meninggal, Keluarga: Hoaks, Itu Orang Kurang Kerjaan
Terkini
-
Inisiatif Ubah Sampah Jadi Bahan Bakar Bermunculan, Mengapa Belum Banyak Digunakan Secara Luas?
-
Bukan yang di Foto Viral, Ini Rincian Asli Uang Rupiah-Valas yang Disita KPK di Rumah Silmy Karim
-
Polisi: Bundaran HI Wajib Steril dari Demo Mahasiswa agar Jakarta Tak Lumpuh!
-
Belum Sampai Bundaran HI, Aksi Mahasiswa Sudah Diwarnai Bentrokan dengan Aparat
-
Ingatkan Soal PKI hingga RMS, Dudung Tegaskan Pemerintah Prabowo Tak Anti Kritik
-
Indonesia Insurance Summit 2026: Terungkap Tantangan Ganda Asuransi di Indonesia
-
Mahasiswa UI ke Aparat: Kami Bukan KKB, Tolong Jangan Represif!
-
Strategi Barikade TNI-Polri Pecah Massa Mahasiswa, Bundaran HI dan DPR Sepi Orasi
-
Massa Demo Mahasiswa dan Ojol Bersatu Lawan Barikade TNI-Polri Menuju Bundaran HI
-
Terancam Terusir, 71 Jiwa Penghuni Rusun Kemensos Belum Kantongi Kepastian Tempat Tinggal Baru