Ia mengatakan, situasinya makin sulit jika mereka dikarantina bersama pasangannya.
"Situasi akan lebih sulit bagi perempuan di Filipina untuk mengajak tidak berhubungan intim ketika mereka subur, terutama mereka yang bergantung pada kontrasepsi alami."
Garda terdepan
Roots of Health turun dari pintu ke pintu membagikan kontrasepsi gratis ke mereka yang paling rentan.
"Awalnya saya takut saya akan terkena virus corona saat turun ke lapangan, apalagi saya punya bayi berumur enam bulan," kata seorang perawat, Shery Villagaracia. "Ini sangat sulit, tapi sebagian besar perempuan yang kami temui tidak bisa membeli pil pengendali kehamilan."
Pandemi virus corona adalah tantangan terbaru bagi perempuan Filipina dalam mendapat layanan kesehatan reproduksi.
"Salah satu klien saya meminta saya menyuntik kontrasepsi di lokasi yang jauh dari rumahnya karena suaminya tidak tahu ia menggunakannya. Ia buru-buru dan saya melihat tanda-tanda kekerasan rumah tangga," kata Shery.
Provinsi Palawan mencatatkan tingkat kehamilan remaja tertinggi di Filipina. Sebelum pandemi, perempuan di Filipina sudah susah mendapatkan kontrasepsi.
"Saya punya seorang klien yang adalah ibu remaja, dan ia mengatakan ia mencegah kehamilan berikutnya dengan memberi air susu ibu untuk bayinya, ini sangat tidak bisa diandalkan," kata Shery.
Baca Juga: Menteri Luhut: Waspadai Gelombang Kedua Wabah Virus Corona
Menurut survei nasional tahun 2017, 49% perempuan lajang yang sudah aktif seksual tidak menggunakan kontrasepsi apapun. Sebanyak 17% perempuan yang sudah menikah namun tidak mau hamil juga tidak memakai kontrasepsi.
"Alasan utama perempuan Filipina tidak memakai kontrasepsi adalah mereka takut akan efek sampingnya dan kelompok anti kesehatan reproduksi memberikan informasi yang tidak berdasarkan bukti," kata Dr. Joseph Michael Singh dari UNFPA.
"Di Filipina, mayoritas masyarakatnya Katolik, dipimpin oleh pimpinan gereja yang sangat konservatif, sementara di bagian selatan, ada pimpinan agama Islam yang sangat berpengaruh," tambahnya.
Kehamilan di luar rencana dapat berdampak signifikan pada aspek ekonomi, sosial, dan psikologi perempuan.
"Kehamialn di luar rencana berpotensi mempengaruhi status finansial perempuan, terutama selama pandemi Covid-19," kata Shery. "Ini menyedihkan. Perempuan harus mendapat akses ke kontrasepsi."
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali
-
Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel
-
Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu
-
5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu
-
Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung
-
Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
-
Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA
-
Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup
-
Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim