Suara.com - Pekerja Rumah Tangga (PRT) menjadi kelas yang dinaungi ketidakpastian selama masa pandemi virus corona covid-19. Sebagian dari mereka dirumahkan oleh para majikannya imbas dari adanya Peraturan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai usaha mencegah penyebaran Covid-19.
Stereotip miring terhadap para pekerja domestik membikin mereka makin terpojok. Banyak majikan yang takut terhadap pekerja domestik yang bekerja pulang-pergi --artinya tidak tinggal menetap di rumah sang majikan.
Wartawan Suara.com mendapat kesempatan berkunjung ke Sekretariat Sedap Malam, kolektif pekerja domestik yang berbasis di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Mereka, sebagai penyintas kehidupan yang banal ini bercerita kisahnya karena terdampak pandemi corona.
Rustinah (43) yang bekerja di Kompleks Tebet Barat VI, Jakarta Selatan kekinian sudah dirumahkan sejak akhir Maret 2020 lalu. Sebelum dirumahkan, sang majikan menerapkan protokol kesehatan ala pemerintah.
Rustinah bercerita, sejak minggu pertama di bulan Februari 2020, sang majikan belum mewajibkan dia memakai masker. Sementara, majikannya memakai masker meski di dalam rumah.
Seiring bertambahnya jumlah kasus positif dan meninggal dunia akibat Covid, Rustinah mulai diwajibkan memakai masker. Sementara, sang majikan malah mencopot masker.
"Awal satu minggu pertama, saya malah belum diwajibkan pakai masker. Malah majikan yang pakai masker. Nah memasuki bulan Maret kan kasus makin parah, saya wajib pakai masker. Setelah saya pakai masker, majikan malah enggak pakai," kata Rustinah saat dijumpai Suara.com.
Rustinah berpendapat, hal tersebut menjadi pertentangan kelas yang paling nyata. Dia mengatakan, mungkin sang majikan beranggapan kalau dirnya kurang bersih atau kurang steril. Mungkin juga sang majikan beranggapan kalau orang seperti Rustinah adalah pembawa virus.
"Itu mungkin jebakan buat saya. Mungkin dia berpikir saya akan nularin dia kayaknya. Saya kan jadi mikir, apa saya kurang bersih, kurang steril," kata dia.
Baca Juga: PLN Pastikan Tak Ada Pemadaman Listrik di Jakarta Saat Lebaran
Memasuki penghujung Maret, Rustinah dirumahkan oleh sang majikan. Alasannya adalah tetangga majikannya ada yang meninggal dunia diduga karena terpapar virus corona.
Tetangga sang majikan merupakan seorang sopir yang biasa mengantar peralatan medis -- mulai dari obat-obatan hingga alat pelindung diri (APD). Dari kejadian itu, majikan Rustinah mulai khawatir. Pasalnya orang-orang yang tinggal di rumah sang majikan adalah orang berusia lanjut.
Sebelum dirumahkan, Rustinah dipaksa serba steril oleh sang majikan. Sebelum masuk ke rumah sang majikan, dia disemprot cairan disinfektan. Sebelum dan sesudah bekerja, dia wajib mencuci tangan --tentunya juga wajib menggunakan masker.
"Saat masih bekerja, sebelum di rumahkan saya jadi super sibuk. Harus serba steril. Masuk ke rumah majikan, saya disemprot. Kemudian wajib cuci tangan. Nah saat majikan saya dapat kabar kalau tetangganya meninggal, saya langsung dirumahkan," jelas Rustinah.
Mewakili Kolektif Sedap Malam, Diyananawati (31) turut buka suara terkait hal tersebut. Baginya, kelas pekerja domestik menjadi sektor yang paling terdampak akibat pandemi ini.
Perempuan yang akrab disapa Diyana in menuturkan, kelas pekerja domestik harus mendapatkan hak sebagai Warga Negara Indonesia. Menurutnya, apa yang dialami oleh Rustinah adalah bukti nyata kalau pekerja domestik kerap mendapat stigma miring karena pekerjaannya.
"Kemudian ada citra bagi pekerja domestik yang pulang pergi, yang tidak tinggal di rumah majikan, mereka pasti berpikir kalau PRT pasti kena corona atau macam-macam. Bagi saya harus dipikirkan lebih lanjut soal perlindungan bagi para PRT," kata dia.
Berita Terkait
-
Ngeluh Sakit saat Kerja, PRT Digebuki Majikan Pakai Pipa Paralon
-
Tak Rabies, Anjing Milik Bimo Aryo yang Tewaskan PRT Diserahkan ke K-9
-
Ibunda Bimo Aryo, Pemilik Anjing Pembunuh PRT di Cipayung Sudah Diperiksa
-
PRT Tewas Digigit Anjing Herder karena Disuruh Majikan Bersihkan Kandang
-
PRT Digigit Anjing Majikan Luka di Leher, Punggung dan Dada
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Jay Idzes Tercoret! Ini Daftar Pemain Timnas Indonesia Hadapi FIFA Matchday
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
Terkini
-
Ritual Ganjil Suami di Kendari: Usai Injak Istri hingga Tewas, Jasad Korban Dimandikan dan Disisir
-
Gudang Limbah Membara di Cikarang, Api Sambar Pemukiman dan Truk
-
Presiden Prabowo: Cahaya Kebijaksanaan Waisak Jadi Fondasi Karakter dan Persatuan Bangsa
-
Cikeas Penuh Karangan Bunga, Para Tokoh Beri Penghormatan Terakhir untuk Ryamizard Ryacudu
-
12 Unit Damkar Berjibaku Jinakkan Kebakaran Gudang Limbah di Rawajulang
-
Remaja Pembunuh Gadis 12 Tahun di Makassar Dijerat Pasal Berlapis, Ibu Korban Desak Hukuman Mati
-
Uang Tunai Rp65 Juta Jadi Abu, Tabungan Lansia di Blora Ludes akibat Kebakaran Rumah
-
Presiden Prabowo Berduka atas Kepergian Jenderal Ryamizard Ryacudu
-
Remaja Putri Tewas Terjebak Saat Api Mengamuk di Bengkel Cikupa
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend