Suara.com - Sebuah desa yang dibangun pada abad-18 di Swedia, Sastra Brunn, boleh dimiliki oleh siapapun uang bersedia membayar seharga tujuh juta dolar AS atau setara dengan Rp 97,5 juta.
Menyadur News.com.au, Senin (8/6/2020), Sastra Brunn yang terletak di Vastmandland, sekitar 90 menit dari Stockholm, mulanya merupakan sebuah kompleks resor wisata kesehatan dengan program andalan spa.
Luas desa mencapai 70 hektar dengan lebih dari 70 bangunan. Tak ubahnya sebuah desa pada umumnya, kawasan ini memiliki berbagai infrastruktur dan fasilitas seperti gereja, sekolah, hotel, hingga pabrik air minum dengan mata air lokal.
Alasan mengapa desa ini dijual adalah karena para penduduk lokalnya membutuhkan calon pemimpin baru yang siap mengambil alih desa. Disebutkan, mereka mencari orang dengan "jiwa petualang dan kaya".
Pihak dari agen Real Estat Internasional Christie, Jonas Martinsson mengatakan warga lokal merasa sudah saatnya mencari pemimpin baru, mengingat usia mereka yang telah berumur.
Sebelumnya, desa ini ini dibeli oleh pemiliknya sekarang sejak 1990 dan sejak saat itu, dibentuklah kelompok berjumlah 15 orang yang terdiri dari penduduk setempat untuk memelihara Sastra Brunn.
Kelompok ini juga membangun sejumlah progtam acara dan menggelar perayaan rutin, salah satunya pesta musim panas tahunan yang menarik sekitar enam ribu pengunjung.
"(Pemilik saat ini) menghabiskan banyak waktu di sini, tetapi apa yang mereka lakukan adalah menyiapkan kemungkinan adanya pemilik baru yang siap membawa perubahan," ujar Martinsson.
Martinsson juga menambahkan desa ini memiliki hotel, restoran, pusat konferensi, spa dengan kolam renang, gym, dan sauna, hingga fasilitas prasekolah uang mendidik 40 anak-anak dari penduduk setempat.
Baca Juga: KAI Perpanjang Pengoperasian Kereta Api Luar Biasa Hingga 11 Juni
Pihak agen penjualan menyadari cukup sulit untuk mencari pembeli di tengah pandemi virus corona seperti saat ini, untuk itu mereka memperpanjang masa penawaran hingga 16 Agustus mendatang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Debut Berujung Duka, Pemain Senegal Meninggal Dunia Usai Kolaps di Lapangan
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
-
Massa Aksi di Depan Polda DIY Dibubarkan Paksa oleh Sekelompok Orang Berpakaian Sipil
-
5 Fakta Mencekam Demo di Mapolda DIY: Gerbang Roboh hingga Ledakan Misterius
-
Suasana Mencekam di Depan Polda DIY, Massa Berhamburan Usai Terdengar Ledakan
Terkini
-
Said Didu Sebut Presiden Prabowo Berada di Titik "To Kill or To Be Killed"
-
Ngeri! Relawan Kemanusiaan Asal Jogja di Aceh Kena Teror, Dikirimi Bangkai Anjing Tanpa Kepala
-
Motif Terkuak, Hirarki Barak Picu Penganiayaan yang Tewaskan Bripda Dirja di Sulsel
-
Menkes Budi: Iuran BPJS Naik 2026 Tidak Lebih Mahal dari Beli Rokok, Warga Miskin Aman
-
DPRD DKI Minta Seluruh Bus Transjakarta Dipasang Kamera Pendeteksi Sopir Ngantuk
-
Modus Operandi 'Endless Art Investment Cara Nadiem Diduga Samarkan Aliran Dana Google Chromebook OS
-
Prabowo Sambangi Yordania, Pesawat Kepresidenan RI Dikawal F-16
-
DPRD DKI: Raperda Sistem Pangan Solusi Food Waste Jakarta
-
Polda DIY Bantah Gunakan Gas Air Mata Saat Bubarkan Massa, Sebut Suara Ledakan dari...
-
Lalin Jakarta Pagi Ini: Senayan Lancar, Rindam Padat, Truk Tabrak Separator di Gatot Subroto