Suara.com - PT PLN (Persero) belakangan menjadi bulan-bulanan masyarakat yang mendapati tagihan listriknya tiba-tiba membengkak.
Menanggapi itu, PLN menyatakan bengkaknya tagihan dikarenakan penggunaan berlebihan sang konsumen sendiri, di saat adanya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama masa pandemi COVID-19.
Hal tersebut disampaikan Executive Vice President Pemasaran dan Pelayanan Pelanggan PT PLN (Persero), Edison Sipahutar mewakili Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan.
Edison juga menegaskan jika PLN belum pernah menaikkan tarif listrik sejak 2017 lalu.
Pernyataan itu dilontarkan Edison saat menghadiri rapat koordinasi virtual bersama Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi, Purbaya Yudhi Sadewa dan Direktur Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Hendra Iswahyudi, Rabu (17/6/2020).
"Dengan adanya PSBB membuat aktivitas di rumah menjadi lebih tinggi, baik sekolah yang dilakukan melalui online maupun aktivitas kantor yang juga dilakukan dari rumah atau work form home. Sehingga hal tersebut mengakibatkan kenaikan pemakaian listrik," jelas Edison.
Edison juga mengungkapkan karena adanya PSBB, sebagian besar petugas PLN tidak bisa mengunjungi pelanggan untuk pencatatan meter. Maka pada April dan Mei 2020 lalu, PLN melakukan penghitungan rata-rata listrik tiga bulan.
Ia memaparkan untuk rekening Juni, sebagian besar petugas sudah melakukan pencatatan meter secara langsung ke rumah pelanggan.
Sementara itu, pemakaian untuk bulan Maret ditagihkan pada rekening listrik bulan April. Begitu juga untuk pemakaian bulan April untuk rekening Mei sudah terjadi kenaikan konsumsi listrik akibat banyaknya aktivitas pelanggan di rumah.
Baca Juga: Perkuat Program Belajar dari Rumah, Kemendikbud Gandeng Netflix
"Sehingga terjadi perbedaan realisasi konsumsi dengan penagihan menggunakan rata-rata tiga bulan. Sebagian besar realisasi pemakaian listrik lebih besar daripada yang ditagihkan," papar Edison.
"Gambarannya begini, pemakaian pelanggan listrik pada Desember 55 kWh, Januari 50 kWh, dan Februari 45 kWh, maka pemakaian di bulan Maret yang ditagihkan di bulan April rata-ratanya sebesar 50 kWh. Kemudian untuk tagihan Mei, jika dirata-ratakan akan mendapatkan 48 kWh," celotehnya.
Karena itulah konsumen menjadi kaget melihat tagihan listrik yang membengkak.
Akan tetapi, Edison mengatakan bahwa sesungguhnya yang terjadi itu adalah pemakaian yang riil setelah PLN bisa melakukan pencatatan meter secara langsung ke rumah pelanggan.
Berita Terkait
-
1,3 GW PLTS Atap Terpasang, Indonesia Bidik Target Ambisius 100 GW
-
MKI dan CIGRE Bahas Teknologi HVDC untuk Interkoneksi Listrik Hijau
-
Tarif Listrik Terbaru Semua Golongan Mulai April 2026
-
Terpopuler: Link Daftar Manajer Kampung Nelayan Merah Putih, Rincian Tarif Listrik per kWh
-
Tarif Listrik per kWh Berapa? Ini Rincian Terbaru Resmi dari PLN
Terpopuler
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
- 7 Rekomendasi Lipstik Terbaik untuk Kondangan, Tetap On Point Dibawa Makan dan Minum
- Cari Mobil Bekas untuk Wanita? Ini 3 City Car Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
Terkini
-
Bareskrim Bongkar Gudang Ponsel Ilegal di Sidoarjo, Satu Truk Barang Bukti Disita
-
Sasar Pelanggan Kategori 2A, PAM Jaya Distribusikan Puluhan Toren untuk Ibu-ibu di Koja
-
Terisak Merasa Dikambinghitamkan, Ibam: Niat Bantu Nadiem Malah Dikriminalisasi 22 Tahun
-
Analis Masih Yakin Amerika Kalah Perang dengan Iran Meski dengan Bom
-
Terima Telepon PM Albanese, Prabowo Bahas Ekspor Pupuk Urea ke Australia
-
Warga Ciduk Pengguna Sabu Mondar-mandir saat Cari Ikan Sapu-sapu, Sempat Disuruh Tiduran di Got
-
LPG 12 Kg Melejit Rp228 Ribu, Pemprov DKI Perketat Pengawasan 'Eksodus' ke Gas Melon
-
Longsor Jadi Peringatan, DPRD DKI Percepat Pembenahan TPST Bantargebang
-
Pakar: Penegakan Hukum Jadi Kunci Tekan Rokok Ilegal
-
Rosan Roeslani Lapor ke Prabowo: Investasi Kuartal I 2026 Tembus Rp498,79 Triliun