Suara.com - Badan kedisiplinan tinggi Partai Komunis China mengatakan kembali merebaknya wabah COVID-19 di Ibu Kota Beijing menegaskan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan standar sanitasi dan meminimalisasi risiko kesehatan di pasar.
Kebangkitan COVID-19 di Beijing selama sepekan terakhir yang telah menginfeksi lebih dari 100 orang dan meningkatkan kekhawatiran akan penularan yang lebih luas, dikaitkan dengan pasar makanan Xinfadi.
"Epidemi adalah cermin yang tidak hanya menunjukkan aspek kotor dan berantakannya pasar grosir tetapi juga kondisi manajemen tingkat rendah mereka," kata Komisi Pusat untuk Inspeksi Disiplin (CCDI) dalam sebuah laporan yang diterbitkan di situsnya pada Rabu (17/6).
Pasar-pasar makanan China yang luas telah muncul sebagai tempat berkembang biak yang ideal untuk virus corona, yang kini telah menginfeksi lebih dari 8 juta orang di seluruh dunia.
Kelompok besar infeksi pertama ditelusuri ke pasar makanan laut Huanan di Wuhan, tempat kelelawar dan hewan liar lainnya dijual.
Laporan CCDI mencatat bahwa sebagian besar pasar dibangun 20 hingga 30 tahun yang lalu, ketika drainase dan pengolahan air limbah relatif belum berkembang.
An Yufa, seorang profesor di Universitas Pertanian China, mengatakan bahwa pasar harus mengikuti praktik internasional dan menerapkan sistem penelusuran asal serta dokumentasi tentang penyimpanan, transportasi, dan penjualan.
Pejabat di provinsi Wuhan mengambil 3.000 sampel dari alat, papan alas memotong, dan saluran air di 114 pasar petani dan 107 supermarket minggu ini untuk memeriksa sumber-sumber infeksi baru yang potensial. Semua hasilnya negatif, kata mereka.
China telah berjanji untuk melarang perdagangan dan konsumsi satwa liar dalam upaya untuk meminimalisasi penularan penyakit, meskipun penggunaan produk-produk hewani dalam pengobatan tradisional masih diizinkan.
Baca Juga: Kisah Donald Trump Mengemis Bantuan China untuk Menang di Pemilu 2020
Sumber: Antara/Reuters
Berita Terkait
-
Mengintip Cara Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau Menangani Covid-19
-
Pemkot Jogja Pastikan Biaya Pasien COVID-19 Ditanggung Pemerintah
-
China Sebut Uji Klinis Vaksin Covid-19 Tahap Kedua Sangat Menjanjikan
-
Media India Khawatir Pandemi Covid-19 dapat Mengakhiri Era Surat Kabar
-
Disebut Ampuh pada Covid-19 Parah, Bagaimana Cara Kerja Obat Deksametason?
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan
-
Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km
-
Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya
-
KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Bukti-Bukti Gratifikasi Rp17 Miliar
-
Gus Ipul Ajak SP2MI Ambil Peran di Program Sekolah Rakyat
-
19 Ribu Anak Garut Putus Sekolah, Bupati 'Todong' ASN hingga Pengusaha Jadi Orang Tua Asuh!
-
Riset Ungkap Skema Hibah dan Pinjaman Lunak Paling Efektif Danai PLTS Komunitas
-
Hari Pelaut Sedunia, Pelindo Dukung Potensi Ekonomi di Selat Malaka
-
Prabowo Percepat Pengembangan Mobil Nasional hingga Farmasi, Kampus Diminta Kejar Kebutuhan SDM
-
Geledah Kantor BKP Sumsel, KPK Temukan Bukti Upaya Ubah Opini WTP Usai Bupati Muara Enim Kena OTT