News / Nasional
Selasa, 28 Juli 2020 | 20:16 WIB
(Shutterstock)

“Kami terus berusaha untuk memberikan pembelajaran yang berkualitas dan memastikan anak-anak bisa tetap terlibat aktif dalam pembelajaran yang menyenangkan dan meaningful. Kami juga memberikan aktifitas pendampingan bagi anak-anak untuk menjaga, supaya secara psikologis mereka tetap terjaga semangatnya dan bisa menikmati waktu meskipun harus di rumah saja,” ujar Kepala Sekolah SD Kristen Charis, Susane Ikawati, M. Pd, ketika dihubungi Suara.com, Minggu (26/7/2020).

Saat ini, SD Kristen Charis memberlakukan pembelajaran jarak jauh, karena mengutamakan keselamatan anak didik dan para guru di tengah pandemi. Menurut Susane, anak-anak didiknya tentu lebih senang belajar di sekolah.

“Tentu saja lebih suka di sekolah. Secanggih apapun sistem yang digunakan dalam pembelajaran jarak jauh, hal itu tidak akan dapat menggantikan secara penuh pemenuhan kebutuhan interaksi anak-anak saat mereka menghabiskan waktu di sekolah bersama guru dan teman-teman sebaya,” tambahnya.

Tak hanya kegiatan akademis di dalam sekolah, SD Kristen Charis juga memiliki program penting lainnya, yaitu kegiatan untuk berbagi yang secara rutin dilakukan setiap tahun. Kegiatan ini ditujukan bagi anak-anak dari sekolah lain.

“Sesuai dengan visi dari yayasan, kami berharap bisa memberikan pengaruh bagi pendidikan di Indonesia, termasuk bagi masyarakat di sekitar lingkungan sekolah,” ujar Susane lagi.

Kegiatan ini dimulai dengan Garage Sale, yang menjadi wadah bagi para murid dan orangtua untuk memberi berkat bagi masyarakat di lingkungan sekitar. Semua hasil penjualan dari Garage Sal, ditambah dengan dana dari sekolah dan para donatur lain, digunakan untuk kegiatan Mission Trip, yang merupakan kesempatan bagi anak-anak untuk berbagi dengan teman-teman di sekolah lain.

Adapun bentuk Mission Trip adalah mengajar adik-adik di level yang lebih kecil di sekolah lain, sekaligus menolong mereka untuk memenuhi kebutuhan sekolah.

“Hal ini kami wujudkan dalam bentuk melengkapi perpustakaan, alat peraga sekolah, menghias ruangan kelas, merenovasi sekolah, dan lainnya. Kegiatan ini dilakukan oleh anak-anak dari kelas 1-6,” tambah Susane.

Rangkaian kegiatan selanjutnya adalah Charis Teachers Conference (CTC). CTC merupakan berbagi dari para guru kepada guru-guru lain dari sekolah-sekolah sasaran di sekitar Kota Malang dan di seluruh Indonesia.

Baca Juga: Hari Anak Nasional, Kemendikbud Gelar Kemah Karakter Visual Anak Indonesia

Semua kegiatan yang dilakukan SD Kristen Charis ini diharapkan mampu memberikan pengaruh positif, walaupun dimulai dari komunitas terdekat. Kegiatan yang dilakukan secara kontinu tersebut terbukti telah mampu menjangkau lebih dari 50 sekolah dari berbagai pulau di Indonesia.

Sekolah sebagai Pembentuk Karakter Anak
Selain sebagai tempat menuntut ilmu, sekolah juga dinilai sebagai tempat pembentuk karakter anak. Hal ini merupakan salah satu visi Sekolah Gandhi Ancol, Jakarta.

Sekolah yang anak didiknya berasal dari Indonesia, Korea, Tionghoa Peranakan, dan orang Indonesia India ini dituntut untuk mampu menanamkan rasa percaya diri dan selalu bersikap sopan santun kepada orang lain.

"Karakter anak nomor satu adalah percaya diri, kemudian bersikap sopan santun kepada siapapun. Ini kami tekankan, karena anak-anak keturunan Tionghoa diajarkan untuk memupuk rasa percaya diri mereka oleh neneh moyang, kemudian anak-anak warga negara Indonesia biasanya diingatkan untuk menjaga kesantunan," ujar Kepala Sekolah Gandhi School, Indah Primasari, kepada Suara.com. Selasa (28/7/2020).

Secara keseluruhan, Sekolah Gandhi berupaya membentuk pria dan wanita mudanya untuk memiliki kepribadian yang berkembang dengan baik, siap untuk terlibat dan berkontribusi pada masyarakat di tingkat regional, nasional, maupun global.

Pembentukan karakter ini sangat relevan dengan tujuan Sekolah Gandhi, yaitu memberikan siswa siswinya masa kanak-kanak dengan pengalaman belajar yang menyenangkan, pengalaman yang penuh dengan keanekaragaman dan kehangatan. Pengalaman yang menyenangkan dan penuh kehangatan itu, salah satunya diwujudkan dalam bentuk bakti sosial atau berdonasi kepada yang tidak mampu.

"Di setiap Oktober, dalam rangka HUT Mahatma Gandhi, kami selalu menyelenggarakan bakti sosial. Kami berbagi dengan anak-anak atau masyarakat di lingkungan sekitar sekolah. Kemudian pada Hari Kartini, kami berdonasi dalam bentuk uang dan kami berikan kepada anak-anak yang tidak mampu, misalnya untuk anak-anak di daerah Pademangan," tambahnya.

Selain membentuk rasa simpati dan empati kepada sesamanya, Sekolah Gandhi berusaha untuk membantu anak-anak tampil di puncak kemampuan mereka dalam bidang apapun. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, SPK ini menyediakan lingkungan yang seimbang, aman dan realistis bagi anak muda untuk belajar dan tumbuh.

Load More