Suara.com - Notifikasi surelnya berbunyi, mantan kapten kapal Boris Prokoshev setengah tergopoh memeriksa surat yang masuk.
Ia terhenyak, muatan kapal yang ia pimpin enam tahun lalu menyebabkan bencana di Beirut.
Menyadur Times of Israel pada Jumat (07/08/2020) Boris memiliki kisah kelam dengan kapal itu. Bahkan, upah Boris saat menjadi kapten di kapal belum di bayar hingga saat ini.
"Saya tidak mengerti apa-apa," ujar pria berjenggot yang kini menikmati masa pensiun di pedesaan Rusia ini.
Surat ini datang dengan subjek MV Rhosus, nama kapal yang ia pimpin enam tahun lalu. Ia membukanya dengan harapan upahnya segera dibayar karena sudah tertunda sekian lama.
"Saya pikir, mereka akan mengirim upah untuk saya," ujarnya.
Boris Prokoshev yang kini berusia 70 tahun bergabung dengan kapal di Turki sejak tahun 2013. Ia mengaku, posisi awak yang ia gantikan keluar karenaalasan klasik, upah yang tak dibayar.
Boris mengatakan, pemilik kapal Rhosus ini seorang pengusaha Rusia bernama Igor Grechushkin. Ia membeli kapal itu tahun 2012 dari pengusaha Siprus, Charalambos Manoli.
Selanjutnya, Igor melakukan transaksi senilai USD 1 juta atau setara Rp 14,6 miliar untuk mengangkut amonium nitrat dari Georgia ke Mozambik.
Baca Juga: Klaster Baru Virus Corona di Australia, Ditemukan di Kapal Kargo
Mengangkut bahan kimia seperti amonium nitrat adalah hal yang lumrah di Mozambik karena bahan ini umum digunakan sebagai peledak di daerah tambang dan batu bara.
Boris mengatakan, kargo ini awalnya akan dikirim ke Fabrica de Explosivos de Mocambique. Ini adalah sebuah perusahaan yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh perusahaan bahan peledak Portugis Moura Silva e Filhos.
Ketika kapal Rhosus berhenti di Beirut, mereka mencoba mendapat uang tambahan dengan mengangkut alat berat. Rhosus kewalahan karena alat itu melebihi kapasitas muatan dan awak kapal menolak untuk mengangkutnya.
Apes, kapal ini lantas disita otoritas Lebanon karena gagal membayar biaya pelabuhan. Sejak saat itu, kapal Rhosus dan muatannya tak pernah meninggalkan pelabuhan Beirut.
Sedihnya, Boris Prokoshev dan tiga awak kapal lainnya tak bisa keluar dari kapal selama 11 bulan karena aturan imigrasi. Mereka berjuang dengan persediaan makanan yang menipis.
Igor si pemilik kapal meninggalkan mereka tanpa memberi upah atau membayar utang yang harus dibayar ke pelabuhan. Untuk bertahan hidup, pihak pelabuhan Beirut yang memasok kebutuhan mereka karena kasihan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- 6 Sepeda Lipat Alternatif Brompton, Harga Murah Kualitas Tak Kalah
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
Pilihan
-
Gempa Pacitan Guncang Jogja, 15 Warga Terluka dan 14 KA Berhenti Luar Biasa
-
Gempa M 4,2 Guncang Pacitan Terasa hingga Yogyakarta: 7 Orang Luka dan Sejumlah Bangunan Rusak
-
Hakim PN Depok Tertangkap Tangan Terima Ratusan Juta dari Swasta, KPK Lakukan OTT!
-
Hakim di PN Depok Tertangkap Tangan KPK, Diduga Terlibat Suap Ratusan Juta!
-
Eks Asisten Pelatih Timnas Indonesia Alex Pastoor Tersandung Skandal di Belanda
Terkini
-
KPK Ungkap Ada Kode pada Amplop Berisi Uang yang Akan Dibagikan pada Kasus Bea Cukai
-
Prabowo Ajak PM Australia Anthony Albanese Hadiri Ocean Impact Summit di Bali
-
Fakta Baru Terungkap! Satu Keluarga di Warakas Tewas Diracun Anak Sendiri, Ini Motifnya
-
Bertemu Prabowo di Istana, PM Albanese: Kami Selalu Merasa Sangat Disambut di Sini
-
Jadi Tersangka Suap Bea Cukai, Direktur P2 DJBC Rizal Ternyata Punya Harta Rp19,7 Miliar
-
Di Sidoarjo, Gus Ipul Ajak Camat Hingga Kades Bersama Perbarui Data
-
Sudah Bocor! Ini Prediksi Awal Ramadan 1447 H Berdasarkan Hasil Hisab Kemenag
-
Perkuat Stabilitas Indo-Pasifik, Prabowo dan PM Albanese Resmi Teken Traktat Keamanan Bersama
-
Update Terbaru: Ini Daftar Rumah Sakit yang Menampung 40 Korban Luka Akibat Gempa Pacitan di DIY
-
11 Juta Peserta BPJS PBI Dinonaktifkan, PDIP: Keselamatan Rakyat Tak Boleh Dikalahkan Birokrasi!