News / Nasional
Rabu, 26 Agustus 2020 | 15:09 WIB
Ilustrasi penangkapan oleh polisi.

"Kalau dibilang salah tangkap, tidak. Kami ada hasil pemeriksaannya, kemudian apa yang kami dapatkan di TKP dan yang kami amankan ada batu, yang mana anak itu mengakui ikut melempar, itu ada batu bata yang kita amankan, ada busur di TKP yang berserakan," Andriany menambahkan.

Sudah Damai

Sementara itu, pihak keluarga MF, bocah yang babak belur setelah diduga menjadi korban salah tangkap yang dilakukan anggota polisi dari Sektor Bontoala, menyatakan telah menyelesaikan persoalan itu.

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh paman MF, Abdul Karim. Ia mengatakan bahwa kasus dugaan salah tangkap tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan.

"Walaupun polisinya tidak minta maaf, tapi ya sudah dimaafkan ajalah. Istilahnya sudah damai secara kekeluargaan lah," kata Abdul kepada Suara.com saat dikonfirmasi, Rabu (26/8/2020).

Abdul beralasan kasus tersebut tidak diperpanjang lantaran khawatir dengan kondisi nenek MF yang tengah sakit.

"Iya, tidak saya perpanjang. Intinya orang tua (nenek MF) bilang nggak usahlah diperpanjang karena kalau diperpanjang saya juga yang kaget-kaget kesakitan. Jadi dengar kata orang tua ajalah," jelasnya.

Meski begitu, Abdul menegaskan dengan adanya kasus salah tangkap tersebut, ia meminta kepada polisi untuk dapat berkaca dari peristiwa ini.

Tujuannya, agar kejadian yang menimpah kepada keponakannya itu tidak terulang kembali.

Baca Juga: Digebuki Polisi, Keluarga ABG Korban Salah Tangkap Mau Berdamai karena Ini

"Untuk kedepannya perbaiki dirilah bagi pihak polisi," tegasnya.

Menurut Abdul, pelaku yang memukul MF juga telah diserahkan ke Propam Polda Sulsel.

"Oknumnya sudah ditangkap dan diserahkan ke Propam. Kan malam itu memang sudah dijemput, pakaian baju biasa dia (oknum) waktu dijemput," kata dia.

"Ibu Kapolsek Bontoala menegaskan dia bilang ibunya MF, sebenarnya masalah ini panjang. Kalau ibu mungkin masalah ini selesai di sini. Tapi kalau kita nggak, panjang ini. Kalau kita sudah keluar dari sini kita pusing ini," beber Abdul.

Tak Terlibat Tawuran

Kasus dugaan salah tangkap ini, kata Abdul, terjadi di Jalan Ujung, Kecamatan Bontoala, Makassar, pada Jumat (21/8/2020) dini hari, usai terjadi tawuran.

Abdul Karim juga menceritakan tempat terjadinya pemukulan, alat yang dipakai untuk memukul hingga keadaan MF setelahnya.

"Waktu di penjara tidak ada pemukulan. Tapi waktu kejadian diambil, langsung memang dipukul mukanya, dihantam pakai helm. Baru orang bilang itu helm pecah waktu dihantam mukanya. Baru diinjak juga ban motor kakinya," kata dia.

"Jelas bonyok karena itu luka saja di hidungnya tidak tahu retak atau bagaimana, karena keluar darah itu dari hidung. Pinggir mata luka juga (lebam) untung tidak buta. Tapi ada juga saya lihat di pipinya baru juga saya perhatikan tadi malam merah juga pipinya, kayak ada bekas tamparan atau apa begitu," Abdul menambahkan.

Abdul karim yakin MF tidak terlibat tawuran yang sedang ditangani polisi.

Dari cerita Abdul Karim, hari itu MF hendak pergi ke tempat pelelangan ikan di Pelabuhan Potere, Makassar.

Namun, karena merasa terlalu pagi untuk pergi ke tempat pelelangan, MF beristirahat dulu sembari menunggu di depan salah satu toko di Jalan Ujung.

Rupanya di sekitar tempat itu sedang terjadi tawuran. Para pemuda yang terlibat tawuran lari kocar-kacir karena polisi datang membubarkan.

Melihat itu, MF kemudian panik dan dia ikut lari untuk menyelamatkan diri. Celakanya kedua kaki MF tidak mampu menandingi kejaran polisi. Ia pun ditangkap.

"Iya, korban salah tangkap karena bukan dia (MF) yang tawuran. Tidak ikut tawuran. Banyak orang lihat kalau dia (MF) memang tidak ikut," katanya.

Kontributor : Muhammad Aidil

Load More