Suara.com - Sekitar 59 negara melarang warga Indonesia masuk ke negaranya. Hal ini berkaitan dengan tingginya angka kasus positif Covid-19 di Tanah Air. Hingga Senin, 7 September 2020, total kasus virus corona di Indonesia mencapai 196.989 orang, adapun jumlah pasien sembuh total 140.652 orang, dan 8.130 pasien dilaporkan meninggal (Tempo).
Pelarangan terhadap pendatang dari Indonesia tersebut merupakan bagian dari upaya mereka untuk melindungi warga dari potensi masuknya Covid-19 dari luar.
"Kabarnya 59 negara melarang warga Indonesia masuk krn pandemi corona di Indonesia. Apa bedanya dengan Indonesia yang juga melarang WNA masuk? Atau Uni Eropa melarang wisatawan AS berkunjung? Masing-masing negara sekarang memang sedang mencoba melindunginya warganya dari penularan warga asing," kata pengamat politik dan ekonomi Rustam Ibrahim melalui akun Twitter yang dikutip Suara.com.
Rustam berharap perkembangan tersebut menjadi sumber pembelajaran dan dapat diambil hikmahnya oleh bangsa Indonesia demi memperbaiki kondisi perekonomian dalam negeri yang telah terganggu akibat pandemi.
"Jika negara-negara asing melarang warga Indonesia berkunjung ke negaranya, mari kesempatan ini digunakan untuk lebih banyak melihat Tanah Air sendiri, wisata domestik. Daripada belanja dollar di negeri orang, lebih baik membelanjakan rupiah di negara sendiri. Akan banyak membantu pemulihan ekonomi," kata dia.
Rustam Ibrahim juga menyoroti kalangan yang mengkritisi kebijakan penanganan pandemi Covid-19 yang dilakukan pemerintahan Joko Widodo. Dia berharap penilaian didasarkan pada data dan fakta sehingga obyektif. Menurut dia tidak sepenuhnya betul jika dikatakan kondisi perekonomian Indonesia setelah terjadi pandemi menjadi yang terburuk di dunia.
"Mengkritik penanganan pandemi dan upaya pemulihan ekonomi Indonesia boleh-boleh saja. Tapi jangan berbohong dengan mengatakan Indonesia paling parah. Indonesia jauh lebih baik dari banyak negara lain," katanya.
"Kalau boleh tahu, penanganan seperti apa menurut anda yang harus dilakukan, yang berbeda dari sekarang? Sehingga kesannya anda tidak hanya omdo," Rustam menambahkan.
Lebih jauh, dia menyoroti tentang tingkat kesadaran masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan dan tindakan yang dilakukan petugas yang dinilainya kurang tegas terhadap pelanggar aturan. Jika tetap seperti itu, menurut dia, Covid-19 sulit benar-benar diberantas.
Baca Juga: Jadi RS COVID-19, 10 Medis RSUD Cempaka Putih Tua Dipindahkan ke Puskesmas
"Dengan tingkat kesadaran masyarakat mematuhi protokol kesehatan seperti sekarang dan aparat yang kurang reperesif menegakkan protokol kesehatan tersebut, saya skeptis kita akan sukses menurunkan jumlah kasus, sampai dengan vaksin virus corona digunakan warga. Semoga awal 2021 sudah tersedia," katanya.
Rustam berharap pemerintah benar-benar mempertimbangkan semua hal yang akan ditempuh untuk menangani Covid-19 dan dampaknya, terutama dari aspek ekonomi.
"Jangan sampai pemulihan ekonomi dikorbankan demi penanganan virus corona yang belum tentu bisa sukses diturunkan, sampai vaksin dan obat-obatan ditemukan atau digunakan," kata dia.
"Satu nyawa memang sangat berharga untuk diselamatkan. Tapi tingkat kematian akan jauh lebih tinggi jika terjadi kelaparan. Percayalah!!! Kematian karena corona akan banyak bisa diselamatkan jika rakyat sendiri disiplin memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan di luar rumah," Rustam menambahkan.
Berita Terkait
-
3 WNI Korban TPPO Dipulangkan! Sempat Tergiur Iming-iming Gaji ART Rp7 Juta di Turki
-
Diaspora Indonesia Berburu Suaka AS Demi Menghindari Deportasi Massal Era Donald Trump
-
Colors of Evil: Red, Mengupas Teka-Teki Kematian Tragis dan Duka Mendalam Seorang Ibu
-
Dikira Enak Hidup di Spanyol, Migran Maroko Pilih Balik Kanan karena Kelaparan di Enklave Ceuta
-
Teka-Teki Kematian Sutrimo, Kepala Rumah Tangga Febrie Adriansyah
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Strategi Mitsubishi Fuso Jamin Operasional Truk Tanpa Henti di GIIAS 2026
-
Dari Hobi Saat Pandemi, Raditya Dika Kini Jadi Duta Marvel Hero Rush TCG
-
Viral Video Demo Ternyata Rekaman Lama, Pemerintah Buru Penyebar Hoaks
-
5 Pilihan Sabun Cuci Muka Glad2Glow Sesuai Review, Mengatasi Kulit Berjerawat hingga Kusam
-
Ramai Dibahas! Apa Itu Universitas Republik Indonesia? Begini Penjelasan Lengkapnya
-
Fakta Baru Mutilasi Depok: Saepul Diduga Penyuka Sesama Jenis, Motif Masih Teka-teki
-
Kemarau Panjang Mengintai, Jakarta Rencanakan Hujan Buatan Tiap Pekan
-
Anwar Ibrahim Keluarkan Perintah di Kasus Pilot Malaysia Jadi Kurir Narkoba Ditangkap di Jakarta
-
DTI Series 2026 Resmi Digelar, Perkuat Kolaborasi Digital Nasional
-
15 Ide Lomba 17 Agustus Indoor di Kantor yang Paling Seru dan Gak Ribet!