News / Nasional
Rabu, 09 September 2020 | 15:37 WIB
Paguyuban Tunggal Rahayu di Garut, Jawa Barat, kembali membuat geger. Kini, mereka menjadi buah bibir karena mengubah lambang Garuda Pancasila. [Facebook]

Suara.com - Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Barat tengah menyelidiki dugaan kasus penghinaan terhadap lambang negara yang dilakukan oleh Paguyuban Tunggal Rahayu, di Garut.

Organisasi tersebut diduga melakukan penghinaan terhadap lambang negara dengan mengubah bentuk lambang Garuda Pancasila.

Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol Awi Setiyono mengatakan penyelidikan tersebut dilakukan guna menelusuri dugaan tindak pidana yang dilakukan oleh para pendiri dan pengurus Paguyuban Tunggal Rahayu.

"Penyelidikan ini tentunya untuk mengumpulkan bukti-bukti terkait dengan peristiwa pidana yang dilakukan oleh para pendiri dan pengurus Paguyuban Tunggal Rahayu," kata Awi di Mabes Polri, Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (9/9/2020).

Paguyuban Tunggal Rahayu di Garut, Jawa Barat, sebelumnya menjadi sorotan warganet. Komunitas itu membuat geger masyarakat karena mengubah lambang Garuda Pancasila dan diduga mencetak mata uang sendiri.

Dari sejumlah foto dan video yang termuat di laman Facebook milik Paguyuban Tunggal Rahayu, ada perbedaan bentuk gambar Garuda Pancasila yang mereka tunjukkan dengan yang dimiliki Indonesia sebagai lambang negara.

Persisnya pada bentuk kepala burung yang mengarah ke depan. Sementara lambang Garuda yang asli, wajah mengarah ke sisi kanan.

Pada Februari 2020 lalu, Paguyuban Tunggal Rahayu di Desa Banyusari, Kecamatan Malausma, Kabupaten Majalengka, juga sempat membuat geger.

Warga setempat menuduh, paguyuban itu adalah kelompok yang hendak mendeklarasikan kerajaan baru. Namun, kala itu, aparat desa memastikan tak ada kerajaan baru di wilayahnya.

Baca Juga: Balita Berusia 1 Tahun di Garut Sembuh dari Covid-19

"Sebetulnya di Desa Bayusari itu, tidak ada kerajaan, setahu saya hanya ada paguyuban. Yaitu Paguyuban Tunggal Rahayu Ampera Kandang Wesi," ungkap Junadi, Kamis (20/2/2020).

Bahkan, menurutnya, selama ini kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan, hanya kegiatan istighosah dengan harapan agar ada bimbingan dan keselamatan dari Allah SWT.

"Selama ini, Alhamdulillah di Desa Banyusari, aman-aman saja dan ramai itu ketika ada imformasi bahwa di Desa Banyusari ada kerajaan baru. Padahal yang benar di Desa Banyusari hanya ada paguyuban," ujarnya.

Cetak Uang

Menyadur Hops.id --jaringan Suara.com, paguyuban ini juga disebut mencetak mata uang sendiri.

Wahyu, salah seorang anggota paguyuban, mengaku kaget dengan penemuan mata uang yang diduga dicetak oleh paguyuban tersebut.

Load More