Suara.com - Politisi Partai Gerindra Fadli Zon menyoroti soal indeks demokrasi Indonesia yang turun sejak dua dekade terakhir, terlebih ketika pandemi virus corona melanda.
Tepat pada tanggal 15 September, dunia memperingati hari demokrasi Internasional. Momen ini dimaknai politisi Fadli Zon dengan menyoroti progres demokrasi di Indonesia.
Menurut Fadli, saat menghadapi wabah seperti sekarang ini, gagasan demokrasi menjadi sangat diperlukan untuk memastikan terjaminnya hal mendasar seperti partisipasi publik dalam proses pengambilan keputusan pemeringa, transparansi penggunaan anggaran publik, serta melihat reseponsivitas pemerintah terhada suara publik.
Mengambil data Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) dari Badan Pusat Statistik (BPS), skor indeks demokrasi saat ini meningkat dibanding tahun sebelumnya dari 72,39 menjadi 74,92. Namun Fadli Zon masih melihatnya sebagai angka yang memprihatinkan.
"Namun, dengan skor akhir tersebut, kinerja demokrasi kita sebenarnya masih cukup memprihatinkan, karena masih berada di level sedang," kata Fadli dikutip dari utasan Twitter-nya, Selasa (15/9/2020).
Fadli menyoroti kendati indeks demokrasi naik, namun aspek kebebasan sipil justru turun. Menurutnya, ada dua indikator yang memengaruhi penurunan ini.
"Penurunan ini dipengaruhi dua indikator, yakni ancaman/penggunaan kekerasan oleh aparat pemerintah yang menghambat kebebasan berpendapat, dan ancaman/penggunaan kekerasan oleh masyarakat yang menghambat kebebasan berpendapat," jelas Fadli.
"Namun, yang memprihatinkan adalah indikator ancaman /penggunaan kekerasan oleh aparat pemerintah yang menghambat kebebasan berpendapat, di mana skornya anjlok dari 70,22 pada 2018 menjadi 65,69 pada 2019. Indikator ini hampir menyentuh angka 60, atau batas suatu indikator dinilai buruk," sambung dia.
Beberapa lembaga survei juga mengamini kondisi indeks demokrasi Indonesia yang tak menunjukkan skor kenaikan yang signifikan. Bahkan salah satu lembaga menyebut Indonesia sebagai negara yang memiliki kecacatan demokrasi.
Baca Juga: Terpuruk Akibat Pandemi, Pajak Kertas Media Cetak Ditanggung Pemerintah
"Penilaian oleh BPS ini sama dan sebangun dengan penilaian Economist Intelligence Unit (EIU), yang juga menilai bahwa Indonesia termasuk sebagai negara “demokrasi cacat” (flawed democracy)," jelas Fadli lagi.
Fadli pun mengaku tidak terlalu terkejut dengan penilaian tersebut. Menurutnya, hasil survei itu tak berbeda jauh dari prediksinya selama ini.
"Terus terang saya pribadi tak terlalu terkejut dengan penilaian tersebut. Survei dan penilaian oleh lembaga-lembaga riset independen itu hanya mengkonfirmasi penilaian yang sudah sering saya lontarkan selama ini," kata dia.
Menurutnya, perkembangan demokrasi Indonesia yang tak menunjukkan perbaikan ini bisa dilihat dari cara pemerintah menangani krisis pandemi.
Ia mengamati negara-negara yang demokratis relatif bisa mengatasi krisis ini lebih baik dibanding negara lainnya.
"Di tengah pandemi ini, demokrasi kita sedang berjalan ke arah yang kurang baik. Sejak awal kita melihat Pemerintah telah menggunakan krisis ini sebagai dalih untuk memperbesar kekuasaan dan melangkahi kewenangan parlemen," Fadli berpendapat.
Berita Terkait
-
Terpuruk Akibat Pandemi, Pajak Kertas Media Cetak Ditanggung Pemerintah
-
Studi: Pandemi Covid-19 Bikin Tingkat Depresi di Masyarakat Meningkat
-
Ekonom: Wacana Dewan Moneter Bentuk Pemerintah Emosional
-
Mesti Tahu, Ini Rahasia Brand Fashion Bertahan di Tengah Pandemi
-
Tak Takut Covid-19, Sekelompok Bocah Asik Berenang di Kalimalang
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Prabowo Genjot Ekonomi Biru, Nelayan Disiapkan Jadi Kekuatan Baru Indonesia
-
Terungkap! Ratusan WNA Operator Judi Online di Hayam Wuruk Ternyata Direkrut 'Veteran Kamboja'
-
Menuju Target Nasional Pengurangan Sampah 2029, Ini Kebiasaan yang Harus Digencarkan di Rumah
-
Jemaah Haji RI Meninggal Dunia 20 Orang, Mayoritas karena Gangguan Jantung dan Paru
-
Uang Miliaran Rupiah hingga Puluhan Juta Dong Vietnam Disita dari Sarang Judol Hayam Wuruk
-
Fakta Sarang Judi Online Internasional di Hayam Wuruk: Kelola 75 Situs Haram!
-
Aksi Bersih Pantai di Kepulauan Seribu Berhasil Kumpulkan Hampir 1 Ton Sampah Plastik
-
Menlu: Prabowo Tekankan Jalur Dialog Atasi Konflik Perbatasan Myanmar di KTT ASEAN
-
Ribuan Hektare Sawah Terdampak Bencana Mulai Ditanami Kembali
-
Tragis! ILRC Temukan 20 Kasus Femisida di 2025, Korban Banyak Dibunuh Pasangan