Suara.com - Juru bicara Taliban di Afghanistan dalam wawancara dengan CBS News, menyatakan mereka berharap Donald Trump memenangkan pemilihan presiden AS. Tim kampanye Trump menolak dukungan itu.
Presiden AS Donald Trump mendapat dukungan tak terduga dari kelompok Taliban di Afghanistan. Dukungan tersebut disampaikan jurubicara Taliban, Zabihullah Mujahid dalam wawancara telefon dengan stasiun penyiaran CBS News.
"Kami berharap Trump akan memenangkan pemilihan presiden dan mengakhiri kehadiran militer AS di Afghanistan," kata Zabihullah Mujahid kepada CBS News lewat telepon.
Taliban juga menyatakan keprihatinan mereka atas infeksi virus corona yang baru-baru ini dialami Presiden AS. "Ketika kami mendengar tentang Trump positif COVID-19, kami mengkhawatirkan kesehatannya, tetapi tampaknya dia semakin membaik," kata seorang pemimpin senior Taliban lainnya kepada CBS News hari Jumat (9/10).
Tim kampanye Trump menanggapi pernyataan Taliban itu hari Sabtu (10/10) dan menyatakan menolak dukungan kelompok militan itu. "Taliban harus tahu bahwa presiden akan selalu melindungi kepentingan Amerika dengan cara apa pun yang diperlukan," kata jurubicata kampanye Trump, Tim Murtaugh, yang dihubungi CBS News.
Dukungan dari kelompok Taliban muncul, setelah Donald Trump minggu lalu menyatakan AS akan menarik semua pasukan dari Afghanistan sebelum Natal tahun ini. Trump sejak lama berjanji "membawa pulang" tentara Amerika Serikat dari Afghanistan.
"Kita perlu membawa pulang sejumlah kecil pria dan wanita pemberani kita yang bertugas di Afghanistan sebelum Natal," kata Trump hari Rabu (7/10) lewat cuitan Twitter.
Pihak Taliban di Afghanisten menyatakan menyambut baik rencana itu. "Janji itu adalah langkah positif dalam implementasi kesepakatan antara Taliban dan AS," kata seorang juru bicara kelompok Taliban.
Bulan Februari lalu, pemerintahan Trump menandatangani perjanjian bersejarah dengan Taliban dalam sebuah perundingan di Doha, Qatar, yang menyepakati penarikan pasukan AS dari Afghanistan setelah hampir 20 tahun.
Baca Juga: Bertentangan dengan Para Ahli, Donald Trump Klaim Dirinya Kebal Covid-19
Pemerintah Afghanistan dan perwakilan Taliban saat ini sedang mengadakan perundingan intra-Afghanistan di Doha untuk membahas kesepakatan perdamaian.
AS dibantu pasukan koalisi internasional menginvasi Afghanistan tahun 2001 setelah serangan teror 11 September dan menggulingkan rezim Taliban yang saat itu berkuasa. [hp/as] (dpa, ap)
Berita Terkait
-
Terbongkar! Prancis dan 2 Negara Eropa Dituding Diam-diam Bantu AS Bombardir Iran
-
Putra Mahkota Arab Saudi Terus Komporin Donald Trump untuk Perangi Iran
-
Boikot Donald Trump dan Piala Dunia 2026 di Belanda Tembus 170 Ribu Tanda Tangan
-
Awal Retaknya Hubungan Trump - Netanyahu, Skenario Rahasia Mossad yang Gagal
-
Nasib Selat Hormuz dan Pasokan Minyak Dunia Bergantung Pada Respon Iran Terhadap Proposal AS
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
Pilihan
-
Negara Tetangga RI Mulai Alami Krisis BBM
-
Danantara Tunjuk Teman Seangkatan Menko AHY di SMA Taruna Nusantara jadi Bos PT Pos
-
Kronologi Kecelakaan Bus vs Minibus di Pekanbaru, Tewaskan Bocah Perempuan
-
Diduga Kurang Berhati-hati, Minibus Nyemplung di Bundaran HI Usai Tabrak Pembatas Jalan
-
Usai Lebaran, Para Bos Anak Usaha Astra Kompak Mundur
Terkini
-
Sempat Dikira Tidur, Pria di Depan Gedung HNSI Juanda Ternyata Sudah Tak Bernyawa
-
Pengamat: Dasco Baca Situasi Dunia, Maka Jadi 'Arsitek Pertemuan' Prabowo-Mega
-
Ini Prediksi yang Bakal Dialami AS-Israel Pasca Pengangkatan Mohammad Bagher Zolghadr
-
Gus Ipul Kunjungi Pesantren Pendiri NU, Sosialisasikan Agenda Muktamar
-
Benjamin Netanyahu Diserang Orang Kepercayaan: Jubir Sindir Tas Mewah Sara Netanyahu
-
Terbongkar! Prancis dan 2 Negara Eropa Dituding Diam-diam Bantu AS Bombardir Iran
-
Yaqut Sempat Jadi Tahanan Rumah, Jubir Hingga Pimpinan KPK Dilaporkan ke Dewas
-
Cegah Kekerasan Perempuan dan Anak, Terminal Kalideres Dipantau Ketat Selama Arus Mudik Lebaran
-
Mendagri Ungkap Penyebab Antrean BBM di Kalbar, Panic Buying Gegara Hal Ini
-
Stok Bahan Bakar Tinggal 45 Hari Lagi! Filipina Tetapkan Status Darurat