Suara.com - Tanggal 14 November ditetapkan sebagai Hari Brimob (Korps Brigade Mobile). Peringatan hari bersejarah ini sebelumnya telah melewati perjalanan panjang sejak tahun 1946. Brimob memiliki peran besar dalam memperjuangkan kemerdekaan hingga melawan pemberontak di awal terbentuknya Republik Indonesia. Berikut sejarah Hari Brimob dikutip dari korbrimob.polri.go.id.
Sebelum ditetapkan dengan nama Brimob, Korps Brimob Polri mulanya adalah cikal bakal organisasi yang dibentuk oleh Jepang dan mengalami berbagai perubahan nama di antaranya Tokubetsu Keisatsu Tai (Polisi Khusus), Polisi Istimewa, Mobrig (Mobile Brigade) dan Brimob (Brigade Mobile).
Tokubetsu Keisatsu Tai (Polisi Khusus)
Tahun 1943-1944 Brimob dibentuk dengan nama Tokubetsu Kaisatsu Tai (Polisi Khusus). Saat itu, pada 8 Maret 1942 Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang setelah 3,5 abad menjajah Indonesia. Kemudian kekuasaan pun berpindah tangan dari Belanda ke Jepang oleh Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh dan Letnan Jenderal Pooten yang merupakan Panglima tertinggi angkatan perang Belanda di Indonesia. Sedangkan Jepang diwakili oleh Panglima Tentara ke-16, Letnan Jenderal Imamura.
Meski begitu, kegembiraan rakyat Indonesia yang setelah merasa dibebaskan oleh Jepang tidak berlangsung lama. Sebab, kebaikan, pendekatan, hingga kesuksesannya mengusir Belanda dari Indonesia ternyata hanyalah tipu daya dan kedok saja. Setelah 2 minggu di Indonesia, Jepang mulai memperlihatkan watak aslinya yakni bertujuan untuk mendapatkan dukungan dari bangsa Indonesia untuk program invasinya.
Jepang pun mulai membentuk barisan tentara dan polisi di tahun 1943-194. Hingga akhirnya melahirkan Tokubetsu Keisatsu Tai pada April 1944. Dalam hal ini, Tokubetsu Keisatsu Tai berisikan para polisi muda yang didirikan di setiap karesidenan yang tersebar di seluruh Pulau Jawa, Madura, dan Sumatera. Berbeda dengan barisan militer lainnya, Tokubetsu Keisatsu Tai memiliki senjata yang lebih lengkap, memperoleh pendidikan militer, terlatih, disiplin, dan terorganisir.
Merebut Kemerdekaan Indonesia dari Jepang
Selanjutnya, pada 17 Agustus 1945 Jepang mengaku kalah pada sekutu dan Indonesia pun memproklamasikan kemerdekaannya. Bersama masyarakat dan satuan militer lainnya, Tokubetsu Keisatsu Tai saling membantu merebut kemerdekaan Republik Indonesia. Kemudian, seluruh satuan semimiliter dan militer di Indonesia dibubarkan. Namun, Tokubetsu Keisatsu Tai menjadi satu-satunya satuan polisi yang diperbolehkan memegang senjata. Hal inilah yang menempatkan anggota-anggota Tokubetsu Keisatsu Tai menjadi pelopor dalam awal perebutan senjata untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Senjata tersebut dibagikan kepada para mantan anggota semimiliter dan militer serta pejuang lainnya.
Polisi Istimewa
Baca Juga: Profil Irfan Alaydrus, Calon Menantu Habib Rizieq Shihab
Pada 21 Agustus 1945, Tokubetsu Keisatsu Tai berubah nama menjadi Polisi Istimewa yang menjadi cikal bakal berdirinya Kepolisian Negara Republik Indonesia. Selanjutnya, Polisi Istimewa menyebarkan teks Proklamasi Indonesia ke masyarakat sebagai sosialisasi dan edukasi bahwa Indonesia telah merdeka. Kepemimpinan di Markas Polisi Istimewa kemudian berada di bawah kendali Inspektur Polisi Tingkat I Mohammad Jasin.
Mobile Brigade (Mobrig)
Setelah setahun lebih Polisi Istimewa memiliki andil dalam perebutan fasilitas militer, pada 14 November 1946, seluruh kesatuan Polisi Istimewa, Barisan Polisi Istimewa dan Pasukan Polisi Istimewa dilebur menjadi Mobile Brigade (Mobrig) atau sekarang terkenal dengan sebutan Brigade Mobile (Brimob) yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Brimob.
Kontributor : Lolita Valda Claudia
Berita Terkait
-
Demi Ketenangan Almarhum, Orang Tua Affan Kurniawan Mohon Tak Ada Peringatan Setahun Kematian
-
Satu Polisi Terluka Diserang Loyalis Bos Gendut saat Gerebek Narkoba di Kampung Bahari
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Dugaan Prajurit TNI Aniaya Brimob Hingga Tewas di Slipi, Mabes TNI: Pasti Diproses!
-
Brimob dan Tim Perintis Presisi Ciduk 5 Remaja Tawuran di Jatinegara, Samurai Disita
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Bukan Cuma Jualan Dawet, Cerita Siti Aminah Bikin Usaha Tradisional Tetap Laris
-
Mengintip EIGER Nature, Wajah Baru Ekowisata Bogor yang Buka September 2026
-
Kata Warga, Pedagang hingga Ojol soal Demo Mahasiswa Digelar di Bundaran HI
-
Bukan Sekadar Bikin Citra, Ini Cara PR Membangun Kepercayaan di Era AI
-
Mendagri Apresiasi Posko Sikka, Dirjen Bina Adwil Dorong Percepatan Pendataan Pascagempa Maumere
-
Gudang Solar Subsidi 5.350 Liter di Palembang Ternyata Beroperasi di Balik Bengkel Las
-
Bawa Produk Lokal Tembus Pasar Internasional, BRI Fasilitasi UMKM di GMBPF 2026
-
5.990 PPPK di Sumsel Masih Menunggu Kepastian, Harapan Jadi Penuh Waktu Tergantung Anggaran
-
Promo Mr. DIY, Dapatkan Cashback 45 Persen dengan QRIS BRImo
-
Indonesia Bisa Tiru! Begini Cara Pemkot Seoul Hadapi Gelombang Panas yang Mematikan