Suara.com - Gempa bumi berkekuatan 6,2 magnitudo yang mengguncang wilayah Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Majene, Sulawesi Barat pada Jumat (15/1/2021) dinihari menyisakan trauma yang dalam bagi warga setempat.
Gempa yang berpusat enam kilometer timur laut Kabupaten Majene 2.98 LS-118.94 BT pada kedalaman 10 kilometer, dan telah merobohkan banyak bangunan serta menyebabkan puluhan korban jiwa itu meninggalkan luka psikis warga di dua kabupaten di Sulbar.
"Sampai saat ini saya belum berani berlama-lama di dalam rumah. Setiap berada di dalam rumah, ada perasaan takut dan was-was akan terjadinya gempa lagi," kata seorang warga Mamuju Syukur seperti dilaporkan Antara, Kamis (21/1).
Warga tersebut mengaku, masih bertahan di depan rumahnya bersama para tetangganya yang mencoba bertahan, tidak pergi mengungsi jauh dari kawasan perumahan tempatnya tinggal.
"Kami sempat berfikir untuk mengungsi meninggalkan Kota Mamuju setelah ada informasi bahwa akan terjadi gempa susulan dengan kekuatan yang lebih besar, bahkan akan diikuti tsunami. Kami sempat panik, apalagi para ibu-ibu dan anak-anak. Setelah kami pertimbangkan, akhirnya kami putuskan untuk tetap bertahan di sini," ujarnya.
Bukan hanya para orang tua yang mengalami traumatik pascagempa berkekuatan 6,2 magnitudo itu, namun para anak-anak juga mengalami trauma. Bahkan, kata warga tersebut, anaknya setiap mendengar suara yang keras langsung histeris dan menjerit ketakutan.
"Malam kejadian itu, suasananya sangat mencekam. Saat terjadi gempa, gemuruh tembok yang patah ditambah suara keras benda-benda yang jatuh membuat kami, terlebih anak-anak sangat ketakutan. Inilah yang selalu membayangi kami setiap berada di dalam rumah," ucapnya.
"Sampai saat ini, anak saya mengalami demam, apalagi saat mendengar suara yang keras, demamnya langsung naik. Insya Allah, jika kondisi sudah benar-benar aman, saya akan membawa keluarga refreshing untuk menghilangkan traumatik akibat gempa ini," tutur Syukur.
Warga lainnya Adnan juga mengaku, jika berada di dalam rumahnya yang rusak akibat gempa selalu dibayang-bayangi rasa takut dan khawatir terjadi gempa susulan.
Baca Juga: Korban Gempa Emosi, Sebelum dan Setelah Kunjungan Presiden Jokowi di Mamuju
Padahal, enam hari pascagempa 6,2 magnitudo itu, hanya beberapa kali terjadi gempa susulan, dengan skala yang lebih kecil. Namun warga kata Adnan, masih selalu dihantui rasa takut akan terjadinya gempa susulan yang lebih besar.
"Setiap berada di dalam rumah, perasaan saya seolah oleng, padahal tidak terjadi gempa. Mungkin ini yang disebut traumatik, sebab kami selalu dibayang-bayangi perasaan takut," tuturnya.
Warga korban gempa di Mamuju berharap, ada pendampingan psikologis di tenda-tenda pengungsian, agar warga korban gempa secara berangsur bisa menghilangkan perasaan traumatis dampak gempa.
"Khususnya untuk anak-anak, perlu pendampingan khusus agar tidak menjadi bayang-bayang mereka kelak," kata Adnan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
Terkini
-
Seksisme Bukan Candaan! Kemendukbangga Sentil Kasus Pelecehan di Grup Chat Mahasiswa FHUI
-
Alasan Hizbullah Boikot Pertemuan Diplomatik Lebanon-Israel di Washington
-
Kasus Wanita Linglung Dilepas Polisi, Propam Turun Tangan Periksa Anggota Polsek Pasar Minggu
-
Makassar Ubah Sampah Jadi Listrik, Bisa Jadi Solusi Krisis Sampah?
-
Asal Bapak Senang! Pete Hegseth Dituding Sesatkan Donald Trump soal Perang Iran
-
Baru Bertemu Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Perang AS Pete Hegseth Dihantam Isu Diskriminasi
-
Blokade Selat Hormuz Oleh Amerika Serikat Picu Protes China, Dinilai Memperburuk Krisis Timur Tengah
-
Italia Tangguhkan Perjanjian Pertahanan dengan Israel, Ini Penyebabnya
-
BPKP Bongkar Borok Proyek Chromebook: Negara Rugi Rp2,1 Triliun, Ini Rinciannya
-
36 Jam Blokade AS, Laksamana CENTCOM Yakin Ekonomi Iran Mulai Lumpuh Perlahan