Suara.com - Seorang pria di Taiwan diculik oleh penagih utang yang secara keliru mengidentifikasi dirinya sebagai nasabah.
Menyadur CNN Selasa (2/2/2021), ia tak cuma diculik, tapi juga babak belur dan dihadapi dengan hukuman denda.
Semua ini bermula ketika pria bermarga Chen datang ke Taiwan pada akhir bulan Oktober tahun lalu. Ia kemudian menjalani karantina di temannya di Nantou.
Pada 1 November, penagih utang datang mendobrak pintu dan langsung menculik Chen tanpa melakukan identifikasi ulang. Pihak berwenang mengatakan penagih utang itu datang tengah malam.
Chen dipaksa membayar utang temannya sebelum dibebaskan. Pria asal Hong Kong ini mengalami luka-luka selama penculikan itu.
Setelah lepas dari cengkeraman penculik, Chen masih harus menghadapi denda karena ia terlapor melakukan pelanggaran karantina selama diculik.
Otoritas kesehatan masyarakat setempat awalnya mendenda Chen USD 3.500 yang setara Rp 49 juta tapi kasus tersebut diserahkan ke Kementerian Kehakiman untuk menyelidiki klaim penahanan paksa.
Taiwan memberikan denda besar pada orang-orang yang melanggar karantina sebagai bagian dari tanggapan kelas dunia terhadap pandemi.
Otoritas Taiwan menyaring penumpang pada penerbangan langsung dari Wuhan, tempat virus pertama kali diidentifikasi, pada 31 Desember 2019.
Baca Juga: Kementerian Pertahanan China: Dukung Kemerdekaan Taiwan Berarti Perang
Pada Maret, Taiwan melarang semua warga negara asing memasuki wilayahnya selain diplomat, penduduk dan mereka yang memiliki visa masuk khusus. Mereka yang masuk harus menjalani karantina.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional
-
33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi
-
Hantavirus: Antara Risiko Global di MV Hondius dan Kesiagaan di Pintu Masuk Indonesia
-
Jelaskan Istilah Mitra dengan Homeless Media, Bakom RI Beri Kronologi Pertemuan bersama INMF
-
Kaesang Lantik Pengurus DPW PSI Papua Tengah, Nama Jokowi Diteriakkan
-
Ada Kasus Pencabulan Anak di Balik Kasus Narkoba Etomidate WNA China
-
Pemerintah Bahas Pengelolaan Kepegawaian dan Keuangan Daerah
-
Wamendagri Bima: Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah Penting dalam Penyusunan RKP
-
Geruduk DPRD DKI, Aktivis Endus 'Bau Busuk' Dugaan Korupsi Proyek RDF Rorotan Rp 1,3 Triliun
-
Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara