Suara.com - Mate Rimac memiliki perusahaan mobil listrik dengan mesin yang dapat dikatakan salah satu yang tercanggih di dunia, namun awal mula usahanya cukup sulit.
Dengan menggunakan suku cadang dari truk pengangkat barang, ia mengubah mobil BMW tua yang dijuluki Green Monster (atau monster hijau) untuk menguji teknologi elektronik yang ia kembangkan.
BMW yang sudah dikembangkan ini kemudian diikutkan dalam berbagai lomba dan menang dalam menghadapi mobil-mobil yang menggunakan mesin dengan teknologi lama. Mobil ini sempat menjadi kendaraan listrik tercepat di dunia.
Dua tahun kemudian pada 2009, ia membuat perusahaan sendiri.
"Saya ingin membuat mobil, itulah yang saya ingin capai," katanya.
Dilihat dari penampillannya, Rimac tidak terlihat seperti eksekutif industri mobil pada umumnya.
Berjanggut, berbaju rapi, pria berusia 33 tahun ini lebih banyak dikira orang sebagai salah satu anak muda yang bergerak dalam industri start-up di Silicon Valley.
Belakangan ini, ia sering dibandingkan dengan Elon Musk, produsen Tesla.
- Pengusaha muda yang sembunyikan keberhasilan bisnisnya karena 'malu'
- Elon Musk kirim tim ke Indonesia Januari 2021, Jokowi tawarkan tempat peluncuran roket SpaceX
- BMW umumkan penampakan mobil Mini versi listrik
Mulai bekerja dari garasi sendiri sampai menciptakan mobil baru
Namun ia menolak tawaran di California dan memilih tanah kelahirannya Kroasia.
Baca Juga: Apple Berencana Kembangkan Mobil Listrik, Volkswagen Tidak Gentar
Perusahaannya Rimac Automobili bermarkas di Sveta Nedelja, kota kecil di luar ibu kota Zagreb.
Namun teknologi yang dikembangkan di sana berkembang pesat dan dipiih oleh banyak perusahaan yang sudah maju.
Rimac Automobili dikenal karena mengembangkan mobil listrik hiper yang ultra eksklusif.
Mobil yang dinamakan The Concept One, pertama diluncurkan pada 2011 dengan kecepatan tinggi sampai 354 kilometer per jam.
Hanya delapan yang dibuat sejauh ini, dan pernah ada satu yang rusak berat saat presenter TV Richard Hammond yang mengendarai mobil itu, tergelincir dalam lomba di Swiss.
Mobil yang berikutnya diproduksi adalah C_Two, yang bahkan lebih cepat lagi dengan kecepatan maksimum 415 kilometer per jam, dan dengan akselerasi dari 0-97 km/jam dalam waktu 1,85 detik.
Mobil ini akan dijual tahun ini dengan harga €2 juta, atau sekitar Rp34 miliar.
Bila dibandingkan dengan performa mobil-mobil lain, kendaraan ini bisa dikatakan luar biasa. Namun mobil ini hanyalah satu dari bagian bisnis yang dikembangkan Rimac.
Perusahaan yang ia bentuk saat ini semakin dicari sebagai pemasok teknologi ke perusahaan-perusahaan lain, yang ingin membangun mobil listrik dengan performa tinggi.
"(Dulu) kami tak punya orang yang mau menamamkan modal, jadi kami harus menghasilkan dari hari pertama," katanya.
"Itulah saat kami menyadari bahwa orang tak mau investasi dalam perusahaan kecil hypercar kami, yang mereka mau yang bisnis besar."
Dengan memasok teknologi dan keahlian ke perusahaan lain, kata Rimac, ia dapat menarik sumber dana.
Satu hal yang sama yang dimiliki Mate Rimac dan pengsuaha Silicon Valley lain adalah ia mulai bekerja dari garasinya sendiri.
Namun, ia langsung membuat mobil listrik sendiri, Green Monster dan tidak mengembangkan situs terlebih dahulu.
Tahapan berikutnya adalah merancang mobil baru. Namun membangun bisnis kendaraan di Kroasia merupakan tantangan berat.
Tak mungkin memproduksi mobil di Kroasia
"Saya tak bisa merekrut orang yang berpengalaman di bidang otomotif," kenangnya. "Saya kuliah di Universitas Zagreb dan mengatakan kepada teman-teman bahwa saya ingin membuat mobil."
"Mereka mengatakan tak mungkin membuat mobil di Kroasia dan mereka justru meminta saya segera menghentikan keinginan saya itu."
Dari sisi pendanaan, ia juga mengalami kesulitan, sekalipun punya jaringan di Silicon Valley.
"Mereka sama sekali tak tertarik. Itu delapan tahun lalu, saat mobil listrik tak banyak yang membicarakan. Mereka banyak menanam modal di bidang media sosial, dan sama sekali tidak menyentuh mobil listrik."
"Dewasa ini, sama sekali berbalik. Semua menanamkan dana besar untuk mobil listrik, berdasarkan keberhasilan Tesla," tambahnya.
Pada akhirnya ia mendapatkan sponsor besar. Pada awal 2018, produsen mobil sport, Porche membeli 10% saham dan kemudian meningkatkannya menjadi 15,5%.
Langkah ini dilakukan saat perusahaan induk Porsche, Volkswagen Group, mulai investasi miliaran euro untuk teknologi mobil listrik.
Namun Porsche, yang mengembangkan mobil sport listrik sendiri, bekerja sama dengan keahlian khusus Rimac terkait rancangan sistem performa tinggi.
"Ia mulai mengembangkan kendaraan listrik jauh sebelum kami," kata wakil direktur keuangan Porche, Lutz Meschke.
"Investasi kami terbukti tepat. Nilai perusahaan itu naik berlipat-lipat sejak kami bergabung. Perusahaan itu juga telah berkembang pesat dalam teknologinya," tambahnya.
Dua perusahaan mobil lain juga bergabung. Pada Mei 2019, pabrik Korea, Hyundai serta Kia, sepakat untuk melakukan investasi sebesar €80 juta.
Melalui kerjasama ini, perusahaan Korea itu mengembangkan mobil listrik baru bersama Rimac.
Menurut analis independen bidang otomotif Matthias Schmidt, langkah banyak negara dalam mengurangi mobil-mobil bensin dan solar, semakin meningkatkan peluang perusahaan Kroasia ini.
"Perusahaan-perusahaan mobil dipaksa untuk mengembangkan mobil listrik," kata Schmidt.
"Perusahaan besar seperti Volkswagen dan Stellantis dapat melakukannya. Namun perusahaan menengah tidak memiliki dana untuk melakukannya sendiri. Jadi mereka punya pilihan untuk membeli teknologi dari perusahaan lain," tambahnya.
Sementara itu, David Bailey, profesor dalam bidang strategi industri dari Universitas Birmingham, Inggris, mengatakan bisnis mobil tetap dapat menghasilkan uang.
"Perusahaan Mate Rimac tiba-tiba muncul dan produk mereka sangat menarik, dan mereka mengembangkan merek terkait mobil-mobil hiper."
Dalam kategori performa atau kecepatan, sport car atau mobil sport berada pada kelas paling bawah sebelum supercar dan hypercar.
Ia mengatakan merek-merek yang dapat dijual terkait mobil super listrik, dapat terjual ratusan ribu dolar dan bukan jutaan dolar.
"Teknologi berkembang sangat cepat. Saya rasa Rimac sangat berperan dalam bidang ini."
"Saya rasa, bisnis ini cukup menguntungkan," tutupnya.
Terpopuler
- Jejak Pendidikan Noe Letto, Kini Jabat Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional
- 6 Mobil Bekas Keren di Bawah 50 Juta untuk Mahasiswa, Efisien buat Jangka Panjang
- 5 Serum Wardah untuk Mengurangi Flek Hitam dan Garis Halus pada Kulit Usia 40 Tahun
- 4 Mobil Bekas Honda yang Awet, Jarang Rewel, Cocok untuk Jangka Panjang
- Plt Gubri SF Hariyanto Diminta Segera Tetapkan Kepala Dinas Definitif
Pilihan
-
7 Rekomendasi HP Baterai Jumbo Paling Murah di Bawah Rp3 Juta, Aman untuk Gaming
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Jadi Bos BI, Purbaya: Bagus, Saya Mendukung!
-
Rupiah Tembus Rp16.955, Menkeu Purbaya: Bukan Karena Isu Wamenkeu ke BI
-
Rupiah Makin Jatuh Nilainya, Hampir ke Level Rp 17.000/USD
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Untuk Jadi Bos BI
Terkini
-
Pramono Anung: Transjabodetabek Mau Buka Rute Baru ke Soetta dan Jababeka
-
Tampak Tenang, Begini Detik-detik Kedatangan Bupati Pati Sudewo di KPK Usai Terjaring OTT
-
Kejari Batam: Kasus TPPO dan PMI Ilegal Marak, Lima Hingga Sepuluh Perkara Tiap Bulan
-
Truk Seruduk Pembatas Jalan di Casablanca, Rute Transjakarta 6D Terpaksa Dipangkas
-
KPK Tangkap Bupati Pati Terkait Dugaan Jual Beli Jabatan Perangkat Desa
-
Kena OTT, Wali Kota Madiun Jadi Tersangka Kasus Dugaan Suap Proyek dan Dana CSR
-
156 Siswa Terpapar Narkotika, Gerindra Desak Pemprov DKI Perketat Penjualan Obat Keras
-
BGN Akui Sejumlah Dapur MBG Belum Sesuai Standar, Penyebabnya Program Percepatan
-
Dilaporkan Hilang, Seorang Warga Karawang Ditemukan Tewas di Tengah Banjir
-
Serpihan Pesawat Jatuh di Gunung Bulusaraung Ditemukan! Ini Perkembangan Terbaru dari Kemenhub