Suara.com - Aplikasi Clubhouse memberikan ruang diskusi gerakan pro-demokrasi Thailand yang berpikiran reformis untuk membahas topik politik yang sensitif.
Clubhouse, aplikasi bincang audio khusus antara penggunanya yang hanya bisa diakses lewat undangan, semakin populer di Thailand di tengah gerakan protes kaum muda yang terus menuntut reformasi monarki kerajaan Thailand.
Diluncurkan pada April 2020, Clubhouse baru-baru ini menjadi magnet di antara para negunjuk rasa di Thailand setelah Pavin Chachavalpongpun, seorang akademisi dan kritikus monarki Thailand yang sudah lama tinggal di Jepang, bergabung dengan platform tersebut pada 12 Februari lalu.
Kepada DW, Pavin mengatakan bahwa tindakan keras polisi terhadap aksi protes di Thailand telah berkontribusi pada meningkatnya popularitas Clubhouse yang terjadi secara tiba-tiba.
"Tidak ada diskusi terbuka ... jadi ketika tempat baru diperkenalkan, orang-orang langsung berdiskusi tentang politik," kata Pavin.
Dia telah menambahkan hampir 300.000 pengikut dalam waktu kurang dari dua minggu, dan mengatakan bahwa orang-orang di banyak ruang obrolan Clubhouse membahas soal keluarga kerajaan.
"Seolah-olah aplikasi itu dibuat untuk percakapan tentang monarki," canda Pavin.
Thaksin Shinawatra, mantan perdana menteri Thailand yang digulingkan dalam kudeta 2006, juga bergabung dalam Clubhouse dengan nama "Tony Woodsome."
Kedatangannya dalam platform sontak membuat heboh, dengan sedikitnya 50.000 orang bergabung dalam diskusi pada hari Senin (23/02) tentang politik Thailand, meskipun Thaksin menghindari beberapa pertanyaan pelik tentang gerakan pro-demokrasi dan tuntutannya untuk reformasi monarki.
Baca Juga: Peluncuran Clubhouse Android Kian Dekat
Di Negeri Gajah Putih sendiri, kritik terhadap raja dan monarki adalah hal tabu.
Pelanggarnya bisa dijerat dengan Undang-Undang Lese Majeste dengan ancaman pidana 3-15 tahun penjara.
Namun, kini raja dan monarki telah menjadi sasaran kritik yang lebih luas sejak munculnya gerakan protes pro-demokrasi yang dipimpin golongan muda tahun lalu.
Mereka menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha, serta menuntut konstitusi baru dan reformasi monarki.
Clubhouse menghubungkan gerakan protes
"Saat Anda pergi berunjuk rasa, Anda hanya dapat berbicara dengan mereka yang ada di sekitar dan mendengarkan para pemimpin, yang pidatonya terkadang mengecewakan," kata Pla, pengguna Clubhouse yang mulai menggunakan aplikasi di sekitar waktu yang sama dengan Pavin, kepada DW.
Terpopuler
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
Pilihan
-
Hakim Andi Sebut Nadiem Makarim Seharusnya Dibebaskan
-
Selain 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Wajib Bayar Uang Pengganti Rp809,59 Miliar
-
Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara!
-
Jangan Puji Pemerintah karena Kerja: Mengapa Publik Begitu Mudah Terpesona?
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
Terkini
-
Diplomasi AS - Iran Memanas, Utusan Donald Trump Kejar Kesepakatan Damai di Qatar
-
Putusan MK Soal Pilkada Langsung Dinilai Beri Kepastian Hukum, Ini Alasannya
-
Prabowo Beri Kenaikan Pangkat Kehormatan untuk Purnawirawan Polisi, Termasuk Mantan Ajudan Soekarno
-
Lalu Lintas Tol Jakarta Pagi Ini Semrawut, Kecelakaan Beruntun hingga Contraflow Picu Kemacetan
-
Prabowo Beri Hormat ke Jokowi di HUT ke-80 Bhayangkara
-
Viral Mahasiswa Unisa Yogya Diduga Kenakan Busana Perempuan dan Masuk Toilet Mahasiswi
-
LPDB Koperasi Terapkan Zero Tolerance Pungli dan Penipuan, Pelanggaran Diproses Tegas Secara Hukum
-
Transportasi Jerman Lumpuh Akibat Gelombang Panas, Jalan Tol Retak-retak
-
Aset Ketum Pemuda Pancasila Disita KPK, Diduga Berkaitan dengan Gratifikasi Korupsi Batu Bara
-
Italia Siaga Gelombang Panas, 4 Orang Sudah Jadi Korban Tewas