Suara.com - Mantan menteri kesehatan Siti Fadilah Supari ikut menjadi relawan uji klinis fase II Vaksin Nusantara di RSPAD Gatot Soebroto, Kamis (15/3/2021). Namun dukungan Siti dan sejumlah tokoh dalam rangkaian vaksinasi Vaksin Nusantara tersebut dianggap tak berpengaruh.
Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengatakan, riset atau uji klinis bukan lah masalah politik atau sosial ekonomi. Menurutnya, riset harus berbasis kepada sains.
"Riset tuh harus berbasis sains. Mau berapa pun mantan menteri yang mendukung, mau mantan menteri kesehatan atau mantan presiden sekali pun riset tidak bisa dikendalikan dengan dukung mendukung," kata Dicky saat dihubungi, Kamis.
Dicky mengatakan, proses uji klinis produk kesehatan seperti vaksin atau obat-obatan tidak boleh dibawa ke ranah politik. Menurutnya, dalam penelitian harus diutama kejujuran dan transparansi.
"Kejujuran dan transparansi harus dijaga betul di dunia ini. Ini tidak boleh dibawa ke ranah politik atau ekonomi ini harus di riset vaksin obat yaitu harus di lead oleh sains itu sendiri dijaganya dengan itu," ujarnya.
Lebih lanjut, Dicky menilai jika rangkaian vaksin Nusantara terus dilakukan maka tidak bisa digunakan sebagai strategi kesehatan masyarakat. Pasalnya semua pengujian klinis harus ikuti dan taat terhadap aturan.
"Ujinya harus jelas secara prosedur etika ilmiah dan juga metodeloginya regulator salah satunya kan ini BPOM," tuturnya.
Siti Fadilah Vaksin Nusantara
Sebelumnya, eks Menkes Siti Fadilah sudah jalani vaksinasi Covid Vaksin Nusantara di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Kamis (15/4). Siti jalani rangkaian vaksinasi pagi tadi disambut langsung oleh mantan menkes era Jokowi Terawan Agus Putranto.
Baca Juga: Dinilai Tak Ikuti Aturan, Epidemiolog Minta Nama Vaksin Nusantara Diganti
Kepala RSPAD Gatot Soebroto, Albertus Budi Sulistya mengatakan, Siti datang ke RSPAD sekira pukul 09.30 WIB. Ia datang untuk diambil sampel darahnya.
"Ada beliau (Siti Fadilah) ada, hadir. Jam 09.30 WIB," kata Budi saat dihubungi wartawan.
Budi mengatakan, proses vaksinasi atau pengambilan sampel setiap harinya masih berlangsung. Menurutnya, dalam sehari ada 30 orang yang diambil sampel guna kepentingan vaksinasi Nusantara.
"Intinya bahwa penelitian itu sama dengan penelitian mahasiswa S3 atau penelitian eksperimental yang lain, itu kan bisa aja dilaksanakan asal ada etical clereance, atau izin etik," tuturnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Murah Baterai 7000 mAh, Tahan hingga 2 Hari dengan Performa Kencang
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Bukan Cuma Data yang Dicuri, Kejahatan Siber Kini Bisa Menguras Tabungan
-
Bukan Hanya Populer, Seskab Teddy Salip Sejumlah Menteri Senior dalam Urusan Kinerja
-
Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet
-
Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah
-
Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik
-
IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung
-
5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau
-
Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026
-
Kredit Macet Hantui Industri Pinjol
-
Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru