Suara.com - Senat Amerika Serikat (AS), Kamis (22/4), hampir dengan suara bulat mengesahkan undang-undang baru untuk memperkuat upaya memerangi kejahatan kebencian anti-Asia yang meningkat selama pandemi COVID-19.
Rancangan Undang-Undang (RUU) itu akan membentuk jabatan baru di Departemen Kehakiman untuk mempercepat peninjauan kejahatan rasial terkait COVID-19 dan memberikan dukungan bagi lembaga penegak hukum lokal dalam menanggapi kekerasan kebencian anti-Asia.
RUU ini juga mencakup amandemen yang memperbaiki sistem pelaporan kejahatan rasial dan membangun saluran telepon khusus kejahatan rasial. Amandemen tersebut awalnya diperkenalkan sebagai UU Khalid Jabara dan Heather Heyer NO HATE , sesuai nama dua korban kejahatan rasial terkenal dalam beberapa tahun terakhir.
Dengan suara 94 banding 1, Senator Partai Republik Josh Hawley dari Missouri adalah satu-satunya Senator yang memberikan suara menentang RUU tersebut. Dua senator Demokrat dan tiga anggota Partai Republik tidak memilih.
RUU tersebut sekarang menuju ke Dewan Perwakilan Rakyat, yang diharapkan akan disahkan dengan dukungan bipartisan yang luas. Presiden Joe Biden telah menyatakan dukungan untuk RUU tersebut dan diharapkan akan menandatanganinya menjadi undang-undang ketika RUU itu sampai di mejanya.
Senator Mazie K. Hirono dari Hawaii, seorang Demokrat yang mensponsori RUU tersebut, memuji pengesahan RUU tersebut.
RUU yang dikenal sebagai Undang-Undang Kejahatan Kebencian terhadap Kebencian terhadap COVID-19 itu, membawa "pesan solidaritas yang kuat kepada komunitas (Penduduk Amerika Asia dan Kepulauan Pasifik) bahwa Senat tidak akan menjadi pengamat saat kekerasan anti-Asia meningkat di negara kita," kata Hirono di lantai Senat sebelum RUU itu disahkan.
Undang-undang itu diajukan ketika kekerasan bermotif kebencian terhadap warga Amerika keturunan Asia telah melonjak di tengah pandemi virus korona, yang dipicu oleh apa yang digambarkan pendukung hak-hak sipil, mengkambing-hitamkan warga Asia karena virus yang berasal dari China.
Menurut data polisi yang dikumpulkan oleh Pusat Studi Kebencian dan Ekstremisme di California State University, kejahatan kebencian anti-Asia melonjak hingga 150 persen di kota-kota besar Amerika tahun lalu . Sementara itu, Stop AAPI Hate, lembaga koalisi advokasi, telah menerima lebih dari 3.800 laporan kebencian dan diskriminasi anti-Asia sejak awal pandemi.
Baca Juga: Tenaga Medis Asia di AS: Hadapi Pandemi, Serangan Kebencian Anti-Asia
“Statistik ini menunjukkan gambaran yang mengganggu tentang apa yang terjadi di negara kita, tetapi statistik itu hanya mencerminkan jumlah dari masalah itu,” kata Hirono.
Hirono mengatakan hal itu karena kejahatan kebencian sangat jarang masuk hitungan.
Pada Januari, Biden mengeluarkan perintah eksekutif yang mengecam kejahatan kebencian anti-Asia selama pandemi.
Pekan lalu, Gedung Putih menunjuk Erika L. Moritsugu sebagai perantara bagi komunitas Asia-Amerika. (Sumber: VOA Indonesia)
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 HP Baru Paling Murah Rilis Awal 2026, Fitur Canggih Mulai Rp1 Jutaan
- 6 Mobil Hybrid Paling Murah dan Irit, Cocok untuk Pemula
- 7 HP Terbaru di 2026 Spek Premium, Performa Flagship Mulai Rp3 Jutaan
- Pendidikan dan Karier Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardhianto yang Meninggal Dunia
- Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
Pilihan
-
Hasil Uji Coba: Tanpa Ampun, Timnas Indonesia U-17 Dihajar China Tujuh Gol
-
Iran Susah Payah Kalahkan Timnas Indonesia di Final Piala Futsal Asia 2026
-
LIVE Final Piala Asia Futsal 2026: Israr Megantara Menggila, Timnas Indonesia 3-1 Iran
-
Menuju Juara Piala Asia Futsal 2026: Perjalanan Timnas Futsal Indonesia Cetak Sejarah
-
PTBA Perkuat Hilirisasi Bauksit, Energi Berkelanjutan Jadi Kunci
Terkini
-
Minggu Pagi Berdarah di Jaksel, Polisi Ringkus 6 Pemuda Bersamurai Saat Tawuran di Pancoran
-
Masa Depan Penegakan HAM Indonesia Dinilai Suram, Aktor Lama Masih Bercokol Dalam Kekuasaan
-
Anggota DPR Sebut Pemilihan Adies Kadir sebagai Hakim MK Sesuai Konstitusi
-
Google Spil Tiga Jenis Kemitraan dengan Media di HPN 2026, Apa Saja?
-
KBRI Singapura Pastikan Pendampingan Penuh Keluarga WNI Korban Kecelakaan Hingga Tuntas
-
Survei Indikator Politik: 70,7 Persen Masyarakat Dukung Kejagung Pamerkan Uang Hasil Korupsi
-
Geger Pria di Tambora Terekam CCTV Panggul Karung Diduga Isi Mayat, Warga Tak Sadar
-
Menkomdigi Meutya Minta Pers Jaga Akurasi di Tengah Disinformasi dan Tantangan AI
-
Megawati Terima Doktor Kehormatan di Riyadh, Soroti Peran Perempuan dalam Kepemimpinan Negara
-
Survei Indikator: Kepuasan Publik atas MBG Tinggi, Kinerja BGN Jadi Penentu Keberlanjutan