"Saya sudah menjelaskan pentingnya vaksinasi, tapi Ibu saya bilang 'ah kamu anak kecil tau apa, ini bisa jadi salah satu cara pemerintah membunuh kita' begitu kata Ibu saya," ujar Ambros.
Ia bisa memahami kecurigaan ibunya, yang mengalami dan menyaksikan kekerasan aparat di Papua sejak tahun 1970an sampai sekarang.
Salah satu tokoh gereja di Papua, Pendeta Benny Giay, mengatakan pelibatan aparat TNI dan Polri dalam pelaksanaan program vaksinasi juga menjadi salah satu pertimbangan banyak jemaatnya untuk tidak divaksinasi.
"Ini anggapan umum dan persoalan besar."
"Kami tahu COVID ini penting dan berbahaya, tapi kami [pihak gereja] hanya bisa mempromosikan soal protokol kesehatan, 3M, hanya itu," ujar Pendeta Benny.
Ia juga menyayangkan ketidakpekaan Presiden Joko Widodo yang beberapa waktu yang lalu memerintahkan Badan Intelijen Nasional (BIN) untuk mengetuk pintu-pintu rumah warga agar divaksinasi.
Dengan riwayat konflik dan kekerasan di tanah Papua selama ini, Benny menilai arahan ini tidak bijak, mengingat trauma sebagian besar warga.
"[Kebijakan] ini bukan hanya tidak sensitif, tapi saya sampai ke tahap mencurigai itu [dilakukan] secara sistematis, " ujarnya.
"Karena [Pemerintah] Indonesia secara intelek sudah tahu orang Papua akan merasa terteror tetapi memaksakan dengan polisi dan tentara, ini sendiri cara untuk membunuh orang Papua lagi."
Baca Juga: Pria Difabel yang Kepalanya Diinjak Dikasih TV hingga Babi, TNI Disebut Rendahkan Korban
"Kami jadi seolah tidak punya opsi lain. Kami berhadapan dengan tembok besar di masyarakat, tembok kecurigaan dan ketidakpercayaan pada pemerintah."
Trauma terhadap aparat keamanan yang turun temurun
Kekhawatiran warga Papua takut dibunuh di klinik lewat program vaksinasi menurut Amnesty Internasional Indonesia memiliki alasan yang mendasar.
"Sangat-sangat mendasar," ujar Novel Matindas, Koordinator Kampanye Amnesty International Indonesia.
“Karena trauma atas kekerasan hak asasi manusia di Papua itu jelas ada dan itu dikatakan sebagai trauma turun temurun yang bisa diwariskan dari orang tua pada anak."
“Mereka adalah korban kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia, yang tidak diselesaikan secara benar dan adil," jelas Novel.
“Sehingga mereka masih menyimpan rasa takut dan tidak mungkin ada beberapa orang yang menyimpan rasa dendam terhadap apparat keamanan yang melakukan pelanggaran HAM.”
Dinkes Papua: 'Tidak ada masalah'
Dokter Aaron Rumainum, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Kabid P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Papua menilai tidak ada masalah dengan pelaksanaan vaksinasi di Papua.
"Aparat membantu percepatan. Tidak ada masalah."
"Yang kerjakan kan puskesmas, bukan aparat. Kami juga waktu vaksinasi tidak melibatkan aparat," kata dr Aaron melalui layanan pesan kepada ABC Indonesia.
Ia menambahkan ada masyarakat yang suka disuntik aparat dan ada juga yang tidak.
"Bebas-bebas saja, to. Jangan-jangan [soal keterlibatan aparat] ini [hanya] alasan orang yang anti-vaksin," ujar dr Aaron, yang jadi orang pertama di Provinsi Papua yang disuntik vaksin COVID-19.
Sementara itu, untuk mengatasi tingkat vaksinasi yang rendah karena kecurigaan dan ketidakpercayaan pada aparat, banyak warga di Papua, seperti Ambros dan Pendeta Benny, menyarankan agar program vaksinasi diserahkan kepada organisasi yang independen seperti PBB, Palang Merah Internasional, atau lembaga seperti Amnesty Internasional.
Novel mengatakan Amnesty Internasional Indonesia tidak memiliki kompetensi untuk melakukan tindakan medis karena bukan lembaga kesehatan.
Tapi dirinya juga setuju jika Pemerintah Indonesia merangkul lembaga independen dalam program vaksinasi di Papua.
“Sebaiknya lembaga independen yang dilibatkan untuk melakukan vaksinasi daripada melibatkan BIN atau TNI."
“Aparat Keamanan boleh dilibatkan kalau hanya untuk mengamankan lokasi, misalnya memastikan supply vaksin itu aman, tidak dicuri, tidak disalahgunakan, tidak dikorupsi," ujar Novel.
Total angka positif COVID-19 di Papua menurut catatan Kementerian Kesehatan sudah mencapai hampir 26 ribu dengan lebih dari 200 kematian. Penambahan kasus rata-rata harian selama sepekan terakhir mencapai lebih dari 270 orang.
Laporan tambahan oleh Erwin Renaldi
Berita Terkait
-
Pria Difabel yang Kepalanya Diinjak Dikasih TV hingga Babi, TNI Disebut Rendahkan Korban
-
Ramai Isu Vaksin Covid-19 Ada Microchip, Peneliti AstraZeneca Indra Rudiansyah Buka Suara
-
Amerika Beri 100 Dollar untuk Warga yang Mau Divaksinasi Covid-19
-
Tasikmalaya Jadi Daerah Vaksinasi Terendah di Jabar, Pemkab: Pasokan Vaksin Minim
-
Viral Aksi Kursi Terbang saat Vaksinasi COVID-19, Istri Pergoki Suami Selingkuh
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Kasihan Anak-anak! Pembangunan Gedung SDN Cipete Utara Molor Setahun: Jam Belajar Dipangkas
-
Bobotoh Harap Bersabar! Debut Mariano Peralta Dipastikan Tertunda Gegara Ini
-
Transaksi Tembus Rp3,1 Miliar! Belanja dan Pesona Budaya di Bandar Lampung Expo 2026
-
Anggaran Pakan Hewan di Kebun Binatang Surabaya Dikorupsi Rp10,2 M di, DPR Minta Semua Diperiksa!
-
Review A Toxic Love Story: Manipulasi Lebih Mematikan dari Kekerasan Fisik?
-
Gantikan Hotman, Mantan Jubir KPK Kini Pasang Badan Jadi Advokat Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah
-
KPK Bongkar Alasan Tahan Febrie, Ada 'Surat Sakti' yang Dikirim Sejak Jumat Pagi
-
Berapa Lama Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Bakal Mendekam di Rutan KPK?
-
Apa Kata KPK soal Klaim Kriminalisasi Febrie Adriansyah? Ini Penjelasan Lengkapnya
-
Tayang 2027, Drama Misteri-Kriminal 'Code' Rilis Jajaran Pemeran Utama