Suara.com - Eks Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono menyarankan agar DPR RI menggunakan hak mosi tidak percaya kepada pemerintah dalam konteks penanganan Covid-19.
Hal itu disarankan Arief lantaran banyaknya kritikan yang disampaikan oleh para anggota DPR RI kepada pemerintah soal penanganan pandemi dirasa kurang efektif.
Menanggapi hal itu, Analis Politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago menilai, saran Arief Poyuono merupakan hal yang wajar. Pasalnya, DPR kekinian sebagai lembaga pengawasan tak menjalankan fungsinya dengan maksimal.
"DPR selama ini dalam fungsi pengawasan terhadap pemerintah antara ada dan tiada. Saya pikir yang disampaikan Arief Poyuono wajar, itu kan juga mewakili aspirasi rakyat," kata Pangi saat dihubungi Suara.com, Selasa (10/8/2021).
Pangi mengatakan, kelebihan Pemerintahan Jokowi hari ini, yakni menguasai 70 persen dukungan di parlemen. Hal ini dianggap negatif lantaran eksekutif menjadi dominan, sementara pengawasan legislatif menjadi lemah.
"Grand coalition pendukung kebijakan Jokowi di parlemen bisa menjadi benalu demokrasi, harusnya DPR bisa menjadi vitamin dalam bentuk kritik dan kontrol yang kuat," tuturnya.
Ia menjelaskan, secara umum desain relasi institusi hubungan eksekutif dengan legislatif dalam konteks sistem demokrasi diwarnai dengan dua kecenderungan.
Pertama, pola relasi yang bersifat dominasi satu lembaga atas yang lain, baik dominasi eksekutif terhadap legislatif ataupun sebaliknya.
Kedua, pola relasi yang didasarkan pada keseimbangan kekuasaan antara eksekutif dengan legislatif.
Baca Juga: Disebut Cuma Jago Adu Bacot, DPR Ditantang Aksi Mosi Tak Percaya soal Covid ke Jokowi
Menurutnya, apabila presiden didukung kekuatan mayoritas mutlak di parlemen maka yang cenderung terjadi adalah pemerintahan yang kolutif
"Berbeda dengan era pemerintahan sebelumnya hak DPR betul betul dipakai, dijalankan dalam rangka mengawasi dan mengontrol jalannya trayek pemerintahan," tuturnya.
"Arif Puyono sudah benar mengingatkan DPR dengan budget keuangan negara yang high cost namun ngak maksimal mengawasi kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat," sambungnya.
Lebih lanjut, Pangi menyadari memang banyak kebijakan pemerintah yang dirasa kurang efektif, namun justru DPR RI malah cenderung diam.
"DPR kehilangan marwah dan legitimasi di mata rakyat. Takut sama partai dan perintah partai. DPR dikendalikan eksekutif, seolah olah kita ini nggak punya institusi dan anggota parlemen, dulu ada Fahri Hamzah, sekarang tiarap semua anggota DPR-nya," katanya.
Tantangan Poyuono
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Murah Baterai 7000 mAh, Tahan hingga 2 Hari dengan Performa Kencang
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Bukan Hanya Populer, Seskab Teddy Salip Sejumlah Menteri Senior dalam Urusan Kinerja
-
Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet
-
Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah
-
Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik
-
IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung
-
5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau
-
Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026
-
Kredit Macet Hantui Industri Pinjol
-
Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru
-
Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung